Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Saturday, June 21, 2008

Bandung Jadi - Pilot Project

Source: Dataworks

Bandung ditunjuk sebagai pilot project kota kreatif se-Asia Timur dan Asia Tenggara dalam program pengembangan industri krestif yang akan mendapat bantuan dari Inggris. Inggris menyediakan dana bantuan sebesar 6 juta poundsterling (sekitar Rp 108 miliar), untuk mendukung pengembangan industri kreatif di berbagai Negara berkembang.
“Alokasi dana tersebut akan disalurkan selama empat tahun ke depan. Namun semuanya bergantung kepada ajuan program yang dibuat. Bisa saja, jika tak ada proposal yang memenuhi syarat, tak ada bantuan yang disalurkan, “ ujar Duta Besar Inggris untuk Indonesia., HE Charles Humfrey CMG, usai acara symposium “Strategic Dialogue in South East Asia Developing Creative Industries” di Hotel Novotel Bandung, Senin (29/10).
Menurut dia, bantuan yang akan diberikan berupa kerja sama riset, kolaborasi program pertukaran, dan pengiriman siswa ke inggris. Untuk bisa mendapat bantuan tersebut, harus ada kerja sama antara perguruan tinggi, pelaku industri kreatif, dan pemerintah dalam mengembangkan industri kreatif.

“Kita tidak memberikan bantuan langsung ke kalangan industri kreatif. Tapi lebih kepada hal-hal yang bisa mendukung perkembangan industri kreatif seperti penelitian dan penyediaan SDM yang berkualitas baik. Pelaku industri kreatif sendiri, kita anggap mampu untuk jalan sendiri,” kata Charles.
Menyinggung peran industri kreatif, Charles mengatakan dari catatan Bank Dunia, 50% konsumsi masyarakat dunia dipasok dari industri kreatif. Tahun 2005 industri manufaktur yang terkait kreativitas, memberi kontribusi 33% bagi pendapatan dunia, atau enam kali lipat lebih besar dibandingkan kontribusi minyak dan gas.

Kontribusi
Di Indonesia, 13 sektor industri kreatif seperti fashion, piranti lunak, film, kerajinan, hingga riset, memberi kontribusi 4,75% terhadap PDB. Tingkat kontribusinya diperkirakan akan bertambah besar, mengingat pertumbuhan industri tersebut rata-rata mencapai 7,3% setiap tahunnya.
“Inggris merupakan pelopor konsep industri kreatif dunia. Dan sekarang industri ini menjadi sektor ekonomi kedua terbesar di Inggris setelah bisnis perbankan. Kontribusinya mencapai 121,6 milyar poundsterling terhadap PDB Inggris, dan menyerap 2 juta tenaga kerja setiap tahunnya,” katanya.
Sementara itu, Director British Council di Indonesia, Mike Hardy, mengatakan, Kota Bandung memiliki potensi yang besar, untuk mengembangkan industri kreatif. Apalagi Industri tersebut sudah tumbuh di Bandung sejak 10 tahun yang lalu. Sebagai kota ke-4 terbesar di Indonesia dengan 2,5 juta penduduknya, saat ini Bandung sudah memiliki 400 outlet industri kreatif.
“Di Bandung, umumnya bergerak di bidang fashion, desain, dan musik. Yang paling menggembirakan, semuanya ini dikelola oleh orang muda berusia 15-25 tahun. Secara total industri kreatif di Kota Bandung ini menyerap 344.244 tenaga kerja, dan memberikan kontribusi 11% untuk ekonomi lokal,” kata Mike.

Menyinggung pengembangan industri kreatif, Mike mengatakan, British Council memiliki program hingga tahun 2010 nanti. Fokusnya pada arsitektur, desain, film, musik, kriya, dan wirausaha kreatif.
“Projek rintisan untuk ini sudah dilakukan tahun 1997 di Jakarta, untuk pemetaan bisnis penerbitan, promosi, dan pengemasan. Selanjutnya kami akan melakukan pemetaan industri kreatif di Bandung dan Jawa Barat,” katanya.

(Bandung, 30 Oktober 2007, Pikiran Rakyat).

Friday, June 20, 2008

Award untuk Pionir Industri Kreatif

Source: Dataworks

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar Agus Gustiar mengatakan penghargaan ini sebagai wujud apresiasi terhadap kinerja mereka yang merintis munculnya industri kreatif dari awal. "Industri kreatif kini berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang mampu membantu penyerapan tenaga kerja di Jabar, khususnya Bandung," ujarnya, pekan lalu.

Kelima penerima penghargaan yang disrerahkan tanggal 10 Agustus 2007 adalah :

Prof Thabrani dan kalangan akademisi yang berjasa memelopori kehadiran clothing.
Marianus Widodo pemilik merek C-59 yang menjadi pionir usaha clothing.
Rachman Ibrahim sebagai pimpinan Dataworks Indonesia, perusahaan pengembang software khusus yang dipakai hampir seluruh clothing dan distro se-Indonesia. Berbagai software dan aplikasi berbasis internet dibuat untuk membantu industri kreatif berkembang dengan manajemen teratur.
Didit Aditya sebagai pimpinan Fast Forward Record, label rekaman yang khusus berkonsentrasi pada band indie mendapat penghargaan sebagai Trendsetter. Label ini berhasil menetaskan band indie terkenal seperti Mocca dan the Sigit.
Ben Wirawan, pemilik merek Maha Nagari juga mendapat penghargaan dalam kategori desain produk prospektif.

Penghargaan diberikan oleh Gubernur Jabar Danny Setiawan dalam pembukaan KICKFEST, sebuah festival untuk industri kreatif yang dimotori oleh komunitas clothing (KICK).

Direktur Maha Nagari Ben Wirawan mengatakan sebagai penerima penghargaan pihaknya tidak menyangka akan tingginya apresiasi masyarakat Indonesia, khususnya Kota Bandung terhadap produk kreatif yang berbasis seni dan budaya. "produk kami sangat menonjolkan nilai seni dan budaya Sunda mulai dari sejarah masa lampau hingga fanatisme masa kini terhadap tim sepakbolanya, Persib," ujarnya. Menurut dia, penghargaan ini sebagai sebuah bentuk dukungan yang baik dari pemerintah. Apalagi industri ini awalnya dari komunitas dan hobi.

Hak Paten -- Ben menambahkan kehadiran merek Maha Nagari sendiri berawal dari sulitnya mencari produk oleh-oleh khas Bandung yang bisa digunakan untuk jangka waktu lama.
Menurut dia, produk makanan olahan rentan rusak baik kemasannya maupun isinya jika dibawa ke luar kota atau luar negeri. "Dorongan berbagai pihak seperti media juga membantu pertumbuhan usaha kreatif menjadi sebuah industri seperti sekarang ini," ujarnya. Dia menjelaskan pemilik merek produk industri kreatif sebaiknya mulai memperhatikan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) untuk desain produknya. Setiap merek perlu mendapat perlindungan hukum melalui hak paten dan HAKI, apalagi produk kreatif kini rentan terhadapp pembajakan. 'Tidak sedikit desain produk clothing dibajak oleh industri yang lebih besar ataupun industri rumah tangga," tuturnya.

Koordinator Bussines Development KICK Diki Invictus mengatakan KICK akan membantu pengurusan legalitas clothing secara kolektif dari sisi legalitas merek melalui hak paten dan HAKI, serta legalisasi ruang usaha. "Selama ini banyak pengusaha clothing yang memulai dari hobi sehingga belum memikirkan pentingnya aspek perlindungan hukum,"ujarnya.

Sumber: Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat

Informasi lengkap tentang event KICKFEST dapat dilihat di halaman kick.or.id

Tuesday, June 17, 2008

Fondasi Ekonomi Kreatif

Source: Dataworks

(Dataworks Indonesia, 12/09/2006)

Saya tidak paham apa yang dimaksud dengan industri kreatif. Indonesia sudah tertinggal beberapa langkah dibandingkan dengan negara-negara lain dalam mengembangkan ekonomi kreatif. Apakah Indonesia mempunyai strategi yang jitu agar tidak tertinggal jauh? Apakah pemerintah dapat berperan dalam mewujudkan ekonomi kreatif yang berdaya saing? Demikian contoh sederetan pertanyaan dari para perserta seminar bertema "Membangun fondasi ekonomi kreatif di Jawa Barat" yang diselenggarakan oleh Dinas Disperindag Jabar, di Hotel Grand Serella, Sabtu (11/8) lalu.

Seminar sehari ini adalah serangkaian kegiatan sosialisasi yang ditujukan untuk meletakkan fondasi industri kreatif di Jawa Barat ("PR", 13/8). Sehari sebelumnya Gubernur Danny Setiawan membuka Kick-Fest II (Kreative Independent Clothing Kommunity Festival) yang berlangsung 10-12 Agustus sebagai ajang pengunjukan diri industri kreatif kaus dan pakaian jadi (distro) di Bandung. Dalam sambutannya, Danny menekankan pentingnya kebersamaan yang seirama (sauyunan) untuk mewujudkan Jabar sebagai provinsi termaju dan mitra terdepan ibu kota tahun 2010. Jabar memiliki segudang potensi seperti modal manusia (ilmuwan, kreator, inovator), sumber daya alam, dan industri strategis. Justru yang masih lemah, menurut Danny, adalah modal sosial di antara pelakunya.

Dengan fokus yang sama yaitu kesejahteraan Jabar, kearifan lokal saling asah, asih, dan asuh berguna memantapkan pembangunan ekonomi Jabar yang bukan hanya bertumpu pada bidang industri manufaktur, agrobisnis, dan telematika tetapi bisnis yang berbasis kreavitivas. Jabar sudah dikenal sebagai pusat fashion bukan hanya warganya yang modis tetapi juga tempat lahirnya para desainer yang mampu memenuhi permintaan pasar yang semakin kompetitif. Danny berharap munculnya teladan (best practice) kewirausahaan bidang industri kreatif yang unik di setiap daerah kabupaten/kota. Khusus untuk Kota Bandung, gubernur berpesan perlunya sinergi untuk mengoptimalkan potensi industri kreatif dengan kebijakan, manajemen, tata ruang kota, dan tenaga kerja yang terpadu.

Pada kesempatan ini diberikan penghargaan kepeloporan dalam industri kreatif dan desain terbaik. Penghargaan kepeloporan industri kreatif diberikan kepada Dr. H. Pribadi Tabrani dan Marius Widyarto Wiwied. Dr. Tabrani adalah guru besar FSRD ITB yang berjasa dalam pendidikan seni rupa dan desain komunikasi visual dengan mengajarkan generasi muda untuk selalu berpikir kreatif (Cikal Bakal FSRD ITB, "PR", 30/7). Marius adalah pelopor kaus (T-shirt) bergambar dengan merek C59 yang telah dikenal oleh khalayak ramai di Indonesia dan memperoleh banyak penghargaan bergengsi (www.c59.co.id).

Sedangkan desain terbaik yang terdiri atas tiga kategori dimenangkan oleh Mahanagari untuk kategori desain produk, Fast Forward Records untuk kategori pelopor tren (trend setter), dan Dataworks Indonesia untuk kategori perusahaan inovatif. Desain produk Mahanagari secara kosisten mengangkat kekhasan budaya Parahyangan, rasa kecintaan Jabar, dan sejarah Bandung ke berbagai macam bentuk pakaian dan aksesori seperti kaos, pin, gantungan kunci, poster, kartu pos, termasuk buku-buku bertema budaya lokal. Fast Forward Records (www.ffwdrecords.com) mendorong perkembangan musik indie sejak tahun 1999 dengan mencari bakat dan telah merilis 9 album (lima di antaranya rilis internasional). Kelompok musik Mocca adalah yang paling berhasil dengan album pertama "My Diary" terjual 80.000 kaset dan 8.000 keping CD.

Dataworks Indonesia (www.dataworks-indonesia.com) mengembangkan perangkat lunak untuk industri pakaian indie sejak tahun 2004. DMS 2005 adalah perangkat lunak sistem keuangan produk yang telah digunakan oleh 57 distro dengan jumlah 83 lisensi yang terjual. Pada pertengahan 2006, Dataworks merilis layanan suavecatalogue.com dan situs e-commerce yang digunakan oleh 10 perusahaan pakaian. Produk yang terbaru adalah CMS 2007 yang dapat membantu identifikasi produk, distribusi, dan pelaporan keuangan.

Pada pembukaan seminar keesokan harinya, Kadis Disperindag Jabar Agus Gustiar memaparkan, Jabar telah menggoreskan tonggak sejarah industri kreatif di Indonesia dengan mendukung pembinaan inovasi produk kreatif bernilai tambah tinggi. Kota Bandung adalah pelopor produk kaus di tahun '70-an. Setelah mengalami pasang surut di tahun '80-an, industri ini bangkit kembali di tahun '90-an dengan distro, aksesori, merek, desain, dan bahan baku yang lebih variatif. Agus menekankan bahwa membangun fondasi industri kreatif merupakan upaya bersama untuk promosi, pendataan merek, penyediaan tenaga ahli, perbaikan teknis dan manajemen, akses pemodalan, dan menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Karena Jabar kaya akan keanekaragaman budaya, talenta, dan balai besar, industri kreatif layak menjadi titik sentral ekonomi Jabar. Tujuan pelaksanaan seminar, menurut Agus, tidak lain adalah mempersiapkan fondasi yang lebih kokoh melalui sosialisasi kebijakan pemerintah pusat yang telah dicanangkan oleh Presiden SBY, menumbuhkan wawasan nilai strategis industri kreatif, memahami potensi industri kreatif saat ini, dan menjaring usulan dari pengusaha, pemerintah, perguruan tinggi, dan masyarakat luas.

Cetak biru

Dirjen Industri Kecil dan Manengah (IKM) Departemen Perindustrian RI, M. Sakri Widhianto menyajikan peranan Departemen Perindustrian dalam mengembangkan industri kreatif berbasis budaya dan warisan budaya. Menurut Sakri, Presiden SBY adalah penggagas bahwa pengembangan ekonomi baru harus berdasarkan kekayaan alam, budaya, dan warisan budaya Indonesia. Secara spesifik, Presiden mengajak bangsa Indonesia untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang memadukan gagasan, seni, dan teknologi. Cetak biru pengembangan ekonomi kreatif 2007-2011 berhasil disusun berkat peran serta dari Kadin, pengamat ekonomi, para pakar dari FSRD ITB, dan kementerian terkait dari seminar dan dialog Pekan Produk Budaya Indonesia 11-15 Juli 2007.

Konsep awal dari dokumen ini membuat delapan program berikut dengan tujuan, hasil yang diharapkan, dan pihak yang bertanggung jawab termasuk peran asosiasi. Kedelapan program tersebut adalah program sosialisasi, program identifikasi (pemetaan, basis data, riset ekonomi kreatif, skala prioritas), perlindungan hukum (inpres, sosialisasi HKI), pendidikan (kurikulum pendidikan budaya yang kreatif dan inovatif), program kelembagaan, promosi dan pemasaran (aktivasi pasar), infrastruktur (komunikasi, transportasi, prasarana pelatihan dan produksi), dan insentif (festival, kredit, perizinan, kontes). Sakri menyatakan setelah konsep ini disempurnakan akan diterbitkan dalam instruksi presiden.

Pembicara kedua adalah Poltak Ambarita, Kasubdit Informasi Ditjen Perdagangan Dalam Negeri yang memaparkan kebijakan pengembangan Indonesia Design Power (IDP) dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonesia. Fokus dari desain adalah merek, pengemasan, dan desain. Indonesia Design Power (IDP) adalah pendayagunaan desain untuk meningkatkan kualitas, memberikan nilai tambah dan meningkatkan daya saing produk Indonesia berbasis kekayaan intelektual dan sumber daya alam yang dilakukan melalui inovasi bersumber dari budaya dan warisan budaya.

Alasan pembentukan IDP adalah terutama karena era perdagangan bebas yang menuntut keterbukaan pasar (tidak ada proteksi), tuntutan sertifikasi produk (seperti ecolabelling, fair trade, dll.), membuat produk lebih berkualitas, berdaya saing tinggi dan bernilai tambah, dan mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Indonsia. Peran dari dinas perdagangan adalah melakukan aktivasi, pendataan, dan pembinaan industri kreatif di wilayahnya masing-masing.

Selain kedua pembicara di atas, seminar ini menampilkan empat pembicara lainnya. Gustaff H. Iskandar (Common Room Networks Foundation) yang menyajikan pemberdayaan jaringan pelaku ekonomi kreatif sebagai strategi pembentukan basis ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Achmad D. Tardiyana (Urbane Indonesia) menegaskan bahwa Jawa barat harus menjadi koridor ekonomi kreatif. Togar Simatupang (SBM ITB) menyampaikan konsep pengembangan industri kreatif di Jawa Barat.

Salah satu pembicara pengusaha kreatif yang berhasil adalah Fiki Chikara Satari. Usahanya dimulai awal tahun 1998 dengan 3 orang staf dan penjualan perseorangan. Pada tahun 2006 sudah membuka toko dan outlet berjalan dengan nama Airbus One. Fiki bercerita tidak ada rumus pasti dalam bisnis distro. Ide bisa muncul dari mana saja dan perlu pergaulan yang luas untuk memperkaya pengetahuan. Tetapi, ide ini perlu disertai dengan keahlian manajerial seperti pemasaran, penganggaran, operasi, keuangan, kebijakan harga jual dan diskon, dan aspek legalitas usaha.

Sumbang saran

Peranan pemerintah masih sangat besar dalam meletakkan fondasi ekonomi kreatif. Tindak lanjut seminar dan kerjasama hendaknya terus digulirkan oleh para pemegang kepentingan. Dengan komunikasi yang intensif diharapkan pemerintah benar-benar berfungsi sebagai regulator, katalisator, dan fasilitator yang menumbuhkan industri kreatif. Supaya tidak kehilangan momentum, beberapa strategi yang dapat disarankan adalah sebagai berikut. Perlunya forum ekonomi kreatif yang dapat menghimpun pelaku industri kreatif supaya jangan jalan sendiri-sendiri.

Forum ini bertanggung jawab menjabarkan cetak biru ekonomi kreatif nasional ke dalam cetak biru industri kreatif Jawa Barat dan Kota Bandung. Dinas, asosiasi, perhotelan, dan pendidikan juga perlu duduk bersama membuat agenda tahunan apa yang perlu ditampilkan oleh Jabar atau Kota Bandung.

Ruang berekspresi perlu disediakan oleh pemerintah kota misalnya Gedung Sate atau kawasan Cilaki yang dapat digunakan hari Sabtu-Minggu untuk komunitas kreatif supaya gagasan dan pasar berkembang pesat. Gasasan lainnya adalah mencari kota yang cocok dengan komunitas Bandung sebagai sister city dalam mengembangkan industri kreatif.

Dewan kota juga perlu mengeluarkan payung hukum atau peraturan daerah kalau industri kreatif mau dijadikan salah satu komoditas unggulan Kota Bandung. Proteksi karya kreatif terutama warisan budaya perlu terus ditingkatkan melalui inventarisasi, pengkajian, direktori, promosi, pendaftaran ke lembaga dunia, dan penegakan hukum.

Sudah saatnya perguruan tinggi berbasis kreatif yang jumlahnya lebih dari 20 di Kota Bandung dapat bekerja sama dalam mendorong tumbuhnya komunitas kreatif melalui pengklasteran dan kolaborasi riset. Mereka perlu turut dalam memecahkan permasalahan teknis, modal, dan pasar industri kreatif. Sekolah-sekolah kejuruan dan balai-balai pelatihan kerja dapat diperkenalkan dengan industri kreatif untuk mendukung kegiatan produksi dan kreasi. Promosi media sangat penting terutama memberdayakan televisi daerah. Demikian juga dengan penyediaan beasiswa dan penghargaan perlu terus digulirkan oleh pemerintah daerah.

Oleh Dr. TOGAR M. SIMATUPANG
Penulis, Dosen Sekolah Bisnis dan Manajemen ITB, Bandung.
PIKIRAN RAKYAT - 28 Agustus 2007