Showing posts with label advertising. Show all posts
Showing posts with label advertising. Show all posts

Sunday, November 06, 2011

Deadly Sin: Copycat Advertising

Here's I collect a few deadly sin in Advertising, creating a copycat ads!







Monday, October 31, 2011

Jogja Hiphop Foundation, The Voice of Indonesia



In this Visibly Smart film a group of young Indonesian artists known collectively as the 'Jogja Hip Hop Foundation' presents Indonesia in a new way. Through the eyes of a young, urban, optimistic, and culturally proud music generation we see a fascinating and fresh fusion of old and new Indonesia. The JHF are inspired by and often use traditional Javanese poetry for themes and lyrics as well as traditional gamelan sound. They then mix it with modern hip hop beats, rhythms and sensibilities. The film shows how the computer helps them produce and distribute their music, videos, and related band information to their fans in Indonesia and beyond. Turn up your speakers and enjoy.

This is the second vignette done by 
Bubu.com, an Indonesian digital agency as part of Intel Visual Life global campaign. A humble story of Jogja Hiphop, in which they infuse the hiphop beat with Javanese poetry to communicate a true voice of Indonesian heritage. A great experience to be part of this campaign!




Thursday, September 15, 2011

Batik Fractal, an Inspiration from Indonesia



In this Visibly Smart film, contemporary Indonesia is revealed through the eyes of batik fabric and clothing designer, Nancy Margried. Batik is a fabric dyeing and printing method dating back as far as the 6th century and remains a treasured cultural symbol of Indonesia. UNESCO designated Indonesian batik as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity in 2009. Nancy's Bandung-based design atelier, Batik Fractal, is reinventing batik design with 3D modeling software her team created while maintaining much of the traditional production process. The film illustrates how everyday people can realize their creative ambitions while remaining true to their culture through the use of technology.

Bubu.com, an Indonesian digital agency was appointed to adapt this Visual Life global campaign and find the Indonesian heroes that reflect the marriage between inspiration of culture and technology. We believe that batik, our true heritage and culture, should be portrayed in this vignette. Collaborating with Nancy Margried as the creator of Batik Fractal, the story of Indonesian inspiration and craftsmanship translated into this beautiful story. The vignette is brilliantly shot and executed by an Amsterdam production house and I am honored to be part of this story creation. Intel is truly a great client to work with, that enabled the Indonesian inspiration to be told and shared.







Sunday, December 20, 2009

Insightful Lunch with Hermawan Kartajaya: New Wave + Marketing 3.0

Dear Bloggers, MarkPlus dan Hermawan Kartajaya mengundang rekan-rekan media untuk menghadiri; “Appreciation Lunch”, demikian bunyi undangan yang saya terima.

Tulisan-tulisan saya tentang media sosial ternyata membuka diskusi dengan icon marketing Indonesia – Hermawan Kartajaya. Tentu kesempatan menarik, sekaligus bertemu dengan rekan-rekan blogger seperti Pitra Satvika, Leonita Julian, pasangan blogger Aulia Halimatussadiah (Ollie) & Anang Pradipta. Juga beberapa teman baru seperti Mada Azhari, Ilman Akbar dan Hendry Gunawan.

Selain blogger, hadir pula beberapa media seperti Smart FM, Seputar Indonesia, Kompas.com, Infobank.

Beberapa rekan blogger ini menjadi community leader dari situs Marketeers.com, komunitas marketing Markplus. Mengutip dari 12 C of New Wave Marketing, ini adalah langkah konkrit dari Communitization, atau pembentukan komunitas agar user bisa saling berkomunikasi melalui platform yang difasilitasi oleh Markplus.

Yang menarik dari kegiatan ini adalah diskusi yang terlontar dari peserta yang hadir. Partisipasi menarik dari para pelaku marketing, pengamatan para blogger dan juga kontribusi dari rekan-rekan media. Hermawan mengajak semua yang hadir untuk melakukan Co-creation atas isyu New Wave Marketing dan Marketing 3.0.


Youth, Woman & Netizen

3 aspek yang menjadi perhatian Hermawan adalah Youth, Woman dan Netizen. Ketiganya akan mendapat konsentrasi khusus di tahun 2010 melalui kegiatan conference. Youth untuk merebut heart share, woman untuk merebut market share dan netizen untuk membentuk opini publik.

Youth adalah mereka yang membuat perubahan dan melihat masa depan. Pengalaman saya di dalam acara Youth Engagement Summit 2009 melalui kampanye South East Asia Change memperlihatkan kontribusi anak muda untuk memberikan suara dan membuat perubahan. Hanya dalam hitungan 6 minggu, terkumpul suara dari 150 ribu anak muda di seantero Asia Pasifik. Suara mereka bukan sekedar untuk didengar, tetapi mereka membuat perubahan di sekelilingnya. Youth adalah penentu pasar masa depan. Mereka bukan lagi generasi yang tergantung pada orang tuanya. Malah saat ini orang tua yang mengikuti tren anak-anaknya, seperti halnya penggunaan Blackberry dan iPod.

Women, adalah mahluk yang multitasking dan punya peran ganda. Ketika mereka bekerja, mereka memikirkan anaknya. Ketika sedang berbelanja, mereka memikirkan anak, suami dan orang-orang terdekatnya.

Netizen adalah mereka yang menjadi opinion leader. Kemenangan di online akan memastikan produk/jasa mendapat review positif dan menjadi pilihan pelanggan. Dalam hal ini perlu kepiawaian marketer untuk mampu mengintegrasikan media online dan offline.

Studi kasus dari Sarah Aprilia, karakter semu yang menjadi ambassadar produk Bask adalah contohnya. Hype di dunia maya ternyata tidak diikuti usaha terintegrasi marketing offline sehingga kehilangan taringnya. Kebalikan dari kampanye digital Axe di mana saya terlibat sebagai Strategic Planner bersama dengan Bubu.com dan BBH. Pemahaman insight bahwa keinginan anak muda adalah untuk punya kesempatan berkenalan dengan cewek idaman diterjemahkan menjadi kampanye Call Me, di mana hype diciptakan melalui kegiatan WAAXE (Woman Against Axe Effect), kegiatan online dipadu dengan demo di bundaran HI. Kampanye ini dilanjutkan dengan peluncuran produk dan iklan televisi yang semua berbicara dalam koridor komunikasi sama. Berwujud pada naiknya penjualan produk secara signifikan.


Ubud: Spiritual Marketing in Action

Ubud adalah kisah sukses marketing yang sesungguhnya. Proses menciptakan tempat yang begitu indah, berawal dari kultur yang terbuka, dan melalui ambassador yang tepat, maka budaya yang demikian unik menjadi bagian dari tujuan wisata dunia.

Raja Ubud, Cokorda Gede Agung Sukawati kala itu, mengundang para artis seperti Antonio Blanco dan Walter Spies. Walter Spies menemukan tempat impiannya di Ubud dan menetap hingga menjelang kematiannya. Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak.

Begitu pula halnya dengan Antonio Blanco. Ia membangun sebuah rumah tinggal di Ubud yang menjadi tempat istirahat dan rumah bagi karya-karyanya yang demikian unik.

Artis-artis inilah yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Mereka memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang kenamaan di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali dan membawa cerita menarik sehingga Bali kini menjadi bagian dari budaya dunia.

Gagasan serupa saya lakukan ketika membuat konsep FGDexpo2007. Mimpi saya adalah melihat bahwa desain Indonesia menjadi bagian dari budaya dunia. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh desain dunia ke Indonesia, saya berharap dua hal, kita bisa belajar dari mereka dan mereka akan menjadi ambassador Indonesia. Mimpi saya menjadi kenyataan bahwa Stefan Sagmeister memutuskan untuk tinggal selama setahun di Ubud. Ia mengajak desainer Indonesia untuk menjadi apprentice, mempelajari budaya Bali dan menerjemahkannya di dalam karya desainnya. Dan yang terpenting adalah membicarakan pengalamannya ini di forum TED (technology, entertainment, design)–tempat berkumpulnya para influencer dunia.

Esensi dari Marketing 3.0 adalah ketika pemasaran tidak lagi berpura-pura, tetapi mengekspresikan apa nilai sesungguhnya dari suatu produk. Ubud adalah tempat yang memiliki inner value luar biasa, tempat berpadunya hubungan antara Tuhan, manusia dan masyarakat. Ini yang menyebabkan Ubud memiliki esensi luar biasa, karakter yang unik dan tidak dimiliki oleh tempat lain di dunia.


Anxiety & Desire: the Drive of Insight

Pemahaman aktivitas marketing tidak akan lengkap tanpa pemahaman akan sifat dasar manusia. Perjalanan memahami insight ini saya dapatkan ketika bekerja sama dengan Walls – Unilever. Rekan dekat saya, Tommy Wattimena, kini menjabat sebagai Brand Director Walls dan menangani bisnis ice cream global dari Walls yang selalu menjadi teman bicara paling seru.

Ketika saya merancang kemasan Walls, berujung pada diskusi pemahaman insight atas kebutuhan anak. Ketakutan anak terbesar adalah jauh dari orang tua, sehingga kisah petualangan Paddle Pop adalah terjemahan dari anak yang mengeksplorasi dunia baru di mana pada akhirnya akan kembali ke rumahnya. Dengan menerjemahkan kebutuhan anak ini menjadi film, Walls berhasil membuat revolusi pemasaran dengan membuat advertising sebagai content. Film Pyrata dengan Paddle Pop sebagai karakter hero membawa daya tarik luar biasa bagi anak-anak untuk datang dan menontonnya. Di sini brand story berubah menjadi kesempatan engagament dengan pelanggan.



Kebutuhan remaja tentunya berbeda. Dengan memahami keinginan anak muda untuk kenal dengan lawan jenisnya membawa pemahaman insight dan diterjemahkan ke dalam kampanye Axe Call Me. Di sini Axe membuka kesempatan bagi cowok untuk berkenalan dengan cewek melalui Conversation, satu lagi aspek New Wave Marketing. Salah satu mobile game yang diciptakan untuk memulai conversation adalah Axe-O-Meter, di mana dengan menekan tombol handphone, akan berbunyi ketika diarahkan ke cewek yang ingin kita ajak berkenalan. Ini akan memicu perbincangan awal. Pas dengan insight cowok yang ingin berkenalan dengan cewek.

Pada akhirnya, pemahaman akan ketakutan dan keinginan dasar manusia menjadi modal dasar untuk berkomunikasi. Ini adalah basis dari insight. Give them what they want and they will give you want you want. Facilitate the human insight and people will relate with the brand.

Undangan makan siang yang benar-benar tidak sia-sia. Insightful yet enjoyable!

Read the blog in English. Please leave comments on Ideonomics.com. Follow me on Twitter @andisboediman.

Thursday, December 03, 2009

Prediksi Industri Advertising 2010: 'It's Going to be Fierce'

Interview oleh Majalah ADOI

Tahun 2010 akan ditandai dengan integrasi media, komunikasi dan konten secara digital. Indikasi ini bisa dilihat bahwa media-media konvensional seperti koran dan majalah mengalami penurunan oplah, dan terjadi pertumbuhan luar biasa di media digital seperti Kompas, Kaskus, Kapanlagi.

Pemain besar seperti Yahoo, Google dan Microsoft sudah masuk ke Indonesia dengan serius, khususnya Yahoo (lihat artikel Yahoo Raksasa Portal Unjuk Gigi)

Trend telekomunikasi masuk ke dalam feature phone, transisi dari antara telepon genggam biasa dan smart phone. Blackberry adalah contoh smart phone. Feature phone banyak tampil dalam bentuk Qwerty phone dengan fitur khusus seperti chat, social network, dll. Feature phone ini akan merepresentasikan pertumbuhan konsumsi konten digital dan aplikasi konektivitas dan interaktvitas melalui messenger dan email. Pertumbuhan adopsi Internet terbesar berada di mobile Internet melebihi PC.

Pertumbuhan Netbook juga menjadi sangat luar biasa karena harganya murah dan banyaknya fungsi cloud computing, di mana aplikasi gratis yang tersedia di Internet bertaburan, mulai dari free email account hingga Facebook page.

Perusahaan telekomunikasi dan investor akan masuk ke ranah konvergensi media komunikasi – informasi dan konten ini. Telkom sudah mencanangkan mereka masuk ke strategi TIME (telecommunication, media, information dan edutainment) (lihat artikel Geliat Telkom Gerakkan Dunia Media Informasi dan Digital Entrepreneur)

Perusahaan FMCG yang tadinya cukup konvensional, siap masuk ke digital advertising. Terjadi migrasi besar dari advertising konvensional kini harus diintegrasikan dengan layanan digital advertising. Komunikasi konvensial dan digital bukanlah ATAU, tetapi DAN. Artinya digital advertising bekerja bahu membahu dengan media konvensional.


Bagaimana keadaan perekonomian pasca-krisis (ekonomi global) di tahun 2010?

Faktor utama dari krisis adalah kondisi finansial dari industri perbankan yang menghentikan kucuran kredit. Kondisi Indonesia dari sisi finansial cukup baik karena konservatisme dari pelaku industri perbankan sejak krisis finansial 1998 membuat mereka menghindar dari investasi derivatif yang beresiko.

Krisis muncul akibat kondisi geopolitis di mana lembaga finansial luar negeri dan international trade yang berdampak pada kondisi di Indonesia. Hal ini tidaklah berdampak terlalu signifikan karena Indonesia relatif tidak terlampau bergantung kecuali industri B to B.

Belanja iklan ditentukan oleh konsumsi B to C seperti industri FMCG (fast moving consumer goods), telekomunikasi, perbankan dan rokok. Karena target adalah konsumen yang tetap mengonsumsi kebutuhan sehari-hari, selama tidak terjadi krisis global lagi, maka industri advertising tentu akan mengalami kondisi pertumbuhan positif.


Bagaimana dengan ‘kompetisi’ di tahun 2010?

Pemain global yang sudah bermunculan di Indonesia akan mendominasi industri advertising. Industri advertising sudah mengalami komoditisasi, di mana advertising dianggap menjadi biaya yang harus ditekan menjadi sekecil-kecilnya. Oleh karena itu, industri advertising hanya survive bila nilai kreativitas dijadikan value added TIDAK dijual terpisah dengan komoditi (baca: belanja media). Ini sulit karena sudah banyaknya media specialist.

Tahun 2010 adalah kancah ganas agar pelaku industri advertising mutlak memberikan value added baru, yakni 'digital services' di mana advertising diharapkan memberikan solusi terintegrasi untuk kombinasi media konvensional dan digital. 'Digital is a must to survive' Mereka yang tidak memberikan layanan ini akan ditinggalkan oleh klien atau dikomoditisasikan sehingga fee akan makin ditekan oleh klien.

Aliansi strategis perlu dilakukan oleh pemain-pemain advertising besar, menggandeng 'digital agency' atau 'creative butique' yang piawai menggunakan social media dan memahami apa itu SEO/SEM (search engine optimization/search engine marketing). Mereka yang baru lulus dan menguasai digital media akan sangat dicari-cari oleh seluruh agensi.

Pemain media online akan bertaburan dan menangguk belanja iklan, seperti Detik, Kompas, Kaskus dan Kapanlagi. Tetapi pemain konvensional yang menguasai media konvensional akan melawan dengan memberikan bundled media, misalnya belanja di koran dan majalah akan mendapat harga khusus di online media. 'It's going to be fierce!'

Perusahaan telekomunikasi yang menghadapi perang harga akan mulai bermain masuk ke mobile advertising. Bermunculan eksperimen dengan berbagai model mobile ad yang dalam waktu 3 tahun akhirnya mulai mengerucut. Konten digital akan bertaburan di tahun 2010, khususnya game dan musik yang makin mudah dan murah karena biaya distribusi digital hampir nol. Akan muncul konten tidak berbayar tetapi dibiayai oleh advertising.


Strategi yang digunakan di tahun 2010 dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat?

Untuk industri advertising
Bagi pemain besar adalah aliansi strategis atau akuisisi perusahaan kreatif yang menguasai digital. Bagi pemain sedang harus berusaha menjadi besar atau dalam waktu 3 tahun tidak akan bertahan. Caranya adalah mencari inovasi di dalam kancah digital advertising. Bagi pemain kecil, secepatnya cari kakak angkat untuk mengamankan klien dan bisa masuk ke liga besar.

Untuk klien
Saatnya mengadopsi community/connected marketing, khususnya membangun komunitas atas brand, baik melalui media digital mainstream seperti Detik, Kompas, Kaskus, Kapanlagi ataupun social media seperti Facebook dan Twitter. Tujuannya adalah untuk menjalin relationship dengan pelanggan dan mendapatkan insight dan feedback langsung dari pelanggan.

Digital advertising tidak ubahnya media konvensional, mulai dari insight dan beranjak ke media strategy dan baru ke creative strategy. Integrasikan antara media digital dan konvensional. Gunakan metode seeding (pembibitan) ke komunitas di media digital dan baru eksposur besar dilakukan dengan media konvensional.


Dengan dicanangkannya 2009 sebagai tahun ekonomi kreatif, apakah ini akan semakin memacu perkembangan industri advertising di tahun 2010?

Konsep ekonomi kreatif baru dalam tahap pemberitaan dan belum mampu membangun industri kreatif secara fundamental. Advertising adalah bagian dari industri service, yang memberikan layanan atas order dari klien. Industri kreatif adalah mereka yang memiliki dan memegang hak kekayaan intelektual. Selama industri advertising tidak bisa memetik royalti atas keberhasilan karya mereka, di mana keberhasilan penjualan dari klien membuahkan reward kepada advertising, maka industri ini akan tetap sebagai industri jasa.

Perubahan ekosistem terjadi ketika perusahaan advertising mampu menciptakan hak kekayaan intelektual seperti masuk ke pemilik hak cipta di dalam industri konten seperti musik, games dan film.

Di balik industri advertising, ada industri fundamental yang menghabiskan dana advertising, misalnya real estate, FMCG, pariwisata, politik, dll. Selama tidak muncul perubahan besar atas industri fundamental, tidak akan terjadi perkembangan signifikan atas belanja di industri advertising.


Inovasi-inovasi seperti apa yang akan muncul di tahun 2010?

  • Mobile advertising akan mengalami banyak eksperimen dan model. Inovasi ini ada yang akan bertahan dan banyak pula yang tidak.
  • Location based service akan mulai diperkenalkan, seperti kita akan mendapatkan penawaran khusus jika berada di lokasi tertentu.
  • Konten digital akan dibundle dengan biaya berlangganan pita koneksi, yang disebut sebagai freemium. Seperti gratis tapi bayar. Modelnya serupa berlangganan cable TV. Konten yang ditawarkan adalah musik, games dan banyak lagi.
  • Pengiklan akan masuk ke menawarkan konten premium secara gratis bila kita membeli produk, misalnya membeli barang sebagai tiket untuk nonton, atau mendapatkan musik dan games.
  • Pembayaran micropayment via online akan menjadi mudah dan terpercaya. Semua pemain besar akan masuk ke sini dan mulai bersaing. Perlu waktu 2 - 3 tahun sehingga terjadi standar industri dan baru pemain besar akan mulai bekerja sama dan terjadi kompatibilitas.


Pesan dan kesan khusus untuk menghadapi tahun 2010

Untuk semua brand manager dan advertising agency
  • Siap dengan integrated marketing, yang mengombinasikan media digital dan konvensional.
  • Bangun komunitas!

Model sukses untuk beriklan digital masih sangat terbuka. Saatnya perusahaan advertising dan brand manager untuk melakukan eksperimen dan belajar bersama. Jadikan kedua belah pihak sebagai partner. Lakukan kesalahan bersama dan belajar dari kesalahan tersebut.


Komentar Bapak tentang perkembangan industri digital Indonesia

Masuk ke Internet industry!, demikian pesan saya mengatakan kepada semua teman saya selama 2008 dan 2009. Semua investasi besar sudah dilakukan di tahun 2008 dan 2009. Mereka yang masuk setelah ini akan berat karena berhadapan dengan pemain raksasa. Kecuali mereka yang punya inovasi demikian hebat, akan sangat sulit kecuali beraliansi dengan pemain besar.

Jendela waktu 2010 pesan saya adalah masuk ke konten dan digital advertising (Internet dan mobile). Masih ada waktu buat pemain kecil. Setelah itu semua pemain raksasa akan kembali menyerbu. Pemain besar hanya akan menunggu jika pasar siap, dan pada saat mereka masuk yang dilakukan selalu aliansi strategis dan akusisi. Saatnya untuk exit atau menjual sebagian saham perusahaan ke kakak angkat kita :)


Prospek beriklan dengan media digital di Indonesia?

Iklan digital akan bertumbuh pesat karena terukur, jauh di atas media konvensional. Jika sekarang advertising dianggap sebagai cost atau biaya yang sulit diukur, maka dengan digital, akurasi pengukuran akan menjadi sangat terlihat.

Brand awareness diukur dari berapa 'eyeball'. Dalam digital akan diukur dengan istilah CPM (cost per thousand impression), di mana ada berapa banyak yang melihat iklan kita. Ini dilanjutkan dengan CPC (cost per thousand click), yang mengukur seberapa orang yang bereaksi dengan mengklik iklan kita. Setelah itu dengan teknologi mobile, akan muncul CPA (cost per thousand acquisition), di mana mereka yang melihat iklan akan diajak langsung melakukan order.

Masih sangat panjang perjalanan media digital untuk tumbuh dan menjadi matang. Langkah awal menggunakan media digital adalah menciptakan engagement dengan komunitas dan pelanggan, yang akhirnya mengonversi hubungan ini menjadi insight, atau memahami keinginan pelanggan tanpa perlu melakukan biaya riset yang sangat mahal.


Seberapa optimis menekuni dan mengembangkan jalur digital di Indonesia?

Saya menerjuni dunia digital sejak 1996, sebagai salah satu pionir digital imaging. Sebagai desainer grafis, saya berkiprah di berbagai aspek, mulai dari pembuatan motion graphic untuk Seputar Indonesia, hingga packaging design untuk Walls ice cream melalui Admire|integrated marketing communication.Teknologi digital selalu menjadi bagian dari proses kerja saya.

Di tahun 2000, saya mengembangkan pendidikan kreatif melalui Digital Studio Workshop – School of Computer Graphics dan IDS|international design school. Di tahun 2007 saya mulai masuk ke digital advertising dan terlibat di dalam pembuatan kampanye Axe dan di 2009 masuk ke industri Internet sebagai Chief Innovation Officer dari Mojopia – anak perusahaan Telkom yang akan bergerak di ecommerce dan content. Situs yang saya tangani adalah Plasa.com. Jadi seumur hidup saya memang sudah ada di industri ini, hanya berpindah-pindah dari satu media ke media lain.

Read the blog in English. Please leave comments on Ideonomics.com. Follow me on Twitter @andisboediman.

Saturday, November 28, 2009

Citra Pariwara, Hadirnya Era Digital Advertising

Catatan dari Citra Pariwara 2009




@CP09live/creator CP09live is now active and open! adalah bunyi akun @CP09live, wahana baru memberitakan live event Citra Pariwara 2009 melalui Twitter. Kini copywriter perlu piawai menggunakan batasan 140 karakter, yang juga menyurutkan ide Twitra Pariwara sebagai nama akun karena terlalu panjang.



“It's Time To Kill Your Old Tricks adalah sebuah signal bagi yang bergelut di industri periklanan untuk menyadari bahwa paradigma maupun teknik-teknik lama sudah saatnya dikubur,” demikian ungkap Ricky Pesik, Ketua Panitia Citra Pariwara 2009. Era online dan mobile dengan menawarkan beragam konten digital, mau tidak mau harus mengubah pola pikir para kreatif di industri periklanan. Bagaimana tidak, konten yang ada sekarang mengarah pada tren berpadu-padan saling berkonvergensi menggunakan wahana teknologi sebagai bagian dari proses kreatif.

Turunnya oplah media cetak sudah saatnya diantisipasi dengan sigap. Daniel Rembeth, CEO The Jakarta Pos dalam kesempatan santap siang dengan saya mengungkap, wartawan masa kini memberitakan secara real time menggunakan Blackberry dan Twitter. Kedalaman informasi dan beragam tautan akan referensi merupakan tugas berita dan artikel yang muncul di Internet dan media cetak.

Muncul konsep third screen, layar ketiga, perangkat mobile dalam genggaman yang menyusul Internet dan televisi. Semua media ini tidak akan pernah saling menihilkan yang lain seperti ramalan bahwa lahirnya radio membunuh koran, lahirnya televisi membunuh radio dan lahirnya Internet membunuh televisi. Yang selalu terjadi adalah proliferasi media ini membuat setiap media melakukan reposisi dan menjadi medium yang makin personal. Saat ini makin banyaknya kanal televisi dan radio yang isinya makin niche, ditargetkan ke demografi dan psikografi tertentu. Akan terjadi transisi ke arah komunitas. Setiap komunitas akan membutuhkan kanal tersendiri, baik itu media komunikasi, informasi maupun konten.

“Medium is the Message,” ungkapan terkenal Marshall McLuhan. Setiap lahir media baru, akan lahir pula cara baru berkomunikasi dan berinteraksi. Lahirnya teknologi digital mengizinkan adanya interaktivitas. Ini menimbulkan paradoks konvergensi sekaligus divergensi antara informasi, komunikasi dan konten.

Perangkat mobile kita gunakan untuk berhubungan dengan orang lain – media komunikasi. Juga kita gunakan untuk membaca berita – media informasi. Tidak lupa kita gunakan untuk mendengarkan musik dan bermain game – media distribusi konten. Ini konvergensi.

Tetapi kita tidak cukup membawa satu perangkat di dalam saku, ada Nokia, Blackberry dan iPhones yang kita bawa, masing-masing untuk keperluan berbeda. Ini divergensi.

Insan periklanan adalah mereka yang termasuk sebagai early adopter bagi penggunaan teknologi ini. Citra Pariwara 2009 adalah momentum bagi insan periklanan agar pelaku industri periklanan memanfaatkan teknologi di dalam menyampaikan pesan iklan. Sudah saatnya publik dan klien untuk mawas terhadap transisi ke era digital advertising ini.


Generasi Advertising 2.0

Satu hal yang menarik adalah BG AWARD (STUDENT COMPETITION) kali ini dilakukan proses penjurian di lokasi IDS|international design school. BG Award adalah suatu kompetisi cipta iklan antarsiswa/mahasiswa Institusi Pendidikan se-Indonesia yang bertujuan mengukur tingkat kreativitas para siswa/mahasiswa khususnya yang tertarik pada bidang periklanan.




Tim juri adalah Elwin Mok – Managing Creative Director Celsius Communications, M. Ismail Fahmi (Ismet) – Creative Director Satucitra, Panata Harianja – Creative Director Matari Inc., Adi S. Noegroho (Seseq) – Creative Director Narrada Communications dan Leonard Wiguna – Sr. Art Director JWT Indonesia.

Dan dari BG Award ini muncullah nama Tulus Ciptadi & Chyntia Monica Fabella; Faldi Dwi Wahyudi & Febrian Adi Putra; Fachrul Rizal & Jefri Maulana Novalino sebagai finalis. Kampanye Sayang Ayah dari pasangan Dwi – Putra benar-benar mengharubirukan para juri. Mereka inilah yang besar sebagai the net generation dan akan membawa angin segar sebagai generasi advertising 2.0.


Seulas Cerita Pesta Citra Pariwara 2009




Citra Pariwara diidentikkan dengan pestanya insan periklanan. Semua yang terlibat dalam industri periklanan diberikan apresiasi dengan memberikan penilaian berbagai kategori. Bukan sekedar malam penghargaan, tetapi benar-benar adalah pesta besar untuk bertemu dengan rekan lama. Untuk menjalin tali silaturahmi mereka yang sudah sekian lama di industri periklanan maupun mereka yang baru bergabung.

Satu malam di mana saya bisa berbincang santai bersama Gunawan Alif, bekas Pemimpin Redaksi Majalah Cakram yang sayangnya kini sudah almarhum dan Fadjar Rusli, salah satu dedengkot periklanan yang sudah malang melintang di industri. Kesempatan bertukar sepenggal salam dengan Ricky Pesik, Ketua Panitia Citra Pariwara 2009 yang nampak demikian sibuk dan Narga Habib dari Cabe Rawit, mantan Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI). Dan kesempatan bertegur sapa dengan Djito Kasilo, sang ‘Ayah’ yang selalu setia membimbing para insan muda periklanan.

Ajang bertemu dengan rekan-rekan online agency, Anthony Liem dan Danny Wirianto dari Semut Api, Shinta W. Dhanuwardoyo, Tommy Prastowo dan Detty Wulandari dari Bubu.com, Iyo dan Seseq dari Narrada, tidak lupa Edi Taslim dari Kompas.com. Komplit! Ataupun kejutan menyenangkan bertemu Mike Wiluan Infinite Frameworks yang ternyata hadir membawakan salah satu sesi seminar.

Dan mereka yang meskipun tidak lagi di industri advertising tetapi masih begitu mencintainya. Daniel Rembeth, CEO Jakarta Post dan Jeanny Grace, yang dulu menggawangi majalah Behind The Screen.




Yang asyik adalah bercengkerama dengan Vinit Suraphongchai (Chairman of ADFEST), berdiskusi tentang pendidikan kreatif. Ia menjadi tamu kehormatan memberikan anugerah di malam Citra Pariwara. Demikian pula Andi Sadha dari Activate dan saya mewakili IDS|international design school yang merasa bangga bisa bersanding memberikan penghargaan kepada rekan-rekan di dunia advertising. Saya kebagian mempersembahkan kategori Illustration – Bronze - Nathan dari BBDO Komunika, Art Directing - Gold - Adam Pamungkas dari JWT dan Art Directing - Bronze - Ori dari JWT. Congratulation friends!




Ditemani Arianto Bigman dan Adez Aulia dari IDS|international design school, membuatnya menjadi malam yang hangat mengajak kita berpesta. Mengutip tweet dari @CP09live Thank you all Livetweeters! This TweetWall should be the future of live shows and visual experience medium. Glad that @CP09live inspires it!. Benar-benar menjadi malam “where everybody knows your name,” seperti ungkapan serial TV Cheers.

Read the blog in English. Please leave comments on Ideonomics.com. Follow me on Twitter @andisboediman.

Friday, September 05, 2008

Axe: From Insight to Execution









A new campaign from Axe.

How this great commercial generated?

Enjoy my side of story.



Andi S. Boediman – Strategic Innovation Consultant
_____________________

In a Friday afternoon, Shinta from Bubu called me.

What's up? Turns out we need to create digital campaign for Axe–the leading male deodorant. And we have to present all the solution on Monday morning. Goosshh! Always a deadline like that :)

On Saturday, the team, including me, Shinta and Agung–the Creative Director at Bubu sit together and review all the progress so far. We got the qualitative research, we have a few creative digital marketing solution, but we don't have the coherent BIG IDEA. Ouch, a creative idea without answering the direct big question will be a waste. It will be shooting to too many direction without aiming.

Then we have to go back to the drawing board. We start the brainstorming session, we ask questions, we challenge the solution. The execution idea didn't rings true without knowing the real problem. We see the Axe ad from all over the world and we ask WHY they come up with the solution. You know, women flocking to men. Hmmm, is this what we have in Indonesia? I don't think so. We are moslem country. And most of the user are regular male.

We look into the qualitative study based on loose interview with the target market. A pattern emerge from this interview. There is a vast difference between Indonesian male and caucasian male. Indonesian are shy, they don't have the courage to approach girls, even for just introduce themselves, not to mention asking a girl's name or getting their phone number. Aha, this is a real problem! How come you get the best girl if you don't have the confident to approach them? Could this be the MILLION DOLLAR QUESTION? The kind of question that really give a million dollar solution when you really answer them. Let's try to exercise the solution then.

Will Smith in The Hitch. This is the kind of guy that we are all dream about. Cool, smooth and really know what he is doing with girls around. Who else? The Game, a book about the secret world of pickup artist came to mind. The protagonist, Neil Strauss, is a journalist who enter this world of women seduction as 'Style' and became one of the most successful PUA (pickup artist). In this book, he shares his insight on getting a woman, from learning the pickup line, peacocking strategy, neghits and many other tips. Wouldn't it be cool if Axe can become the vehicle for guys to really know get around girls like that. This idea really cement our thought on approaching the problem.



Then we step into the next question. If Axe is the leading brand, how can the adoption is still quite small in Indonesia? What is really the problem? We look again at our target market behavior. Turns out that quite a lot of them don't buy the product themselves. They ask their mom to buy for them. And they don't admit that they use deodorant. They feel it's their problem, not others. It's common for women to use deodorant, not for men. Wow, what a shame! Then how we solve this problem?

When we see women, they have a ritual when they meet men. They use lipstick. That's why lipstick is a big category. Every woman use them. This is a big consumption. Can we turn deo becomes a consumption? Then it should become part of the ritual. What ritual do men have when meeting with women? They style their hair! Another BIG AHA! How about creating ritual, style your hair, spray your body and get the girl!



Working two looong night to prepare the strategic insight presentation. Bubu team fine tune the digital campaign to reflect this insight! Suddenly all the creative idea leads to one direction. Make Axe the vehicle for guys to get KNOWN to girls.

And on Monday morning, our full team heading to the client's presentation for idea pitching. It's a blast! From idea to execution is a matter of understanding a real problem and looking the right answer. In a matter of weeks, we got the project! Even though we have to pitch with all the big guys! Appointed as the digital marketing agency, our team at Bubu then work with all the stakeholder, the ad agency, the event organizer and the brand manager.

After a few looong meeting with all the agency and client, in the end, our crazy night becomes the leading strategic insight used even for the TV campaign and set the theme! WOW! I am so proud becomes the daddy of this insight along with the Bubu team!

Cheers to the Bubu team, cheers to the clients who really understand what we propose, and also cheers to the ad agency who did very well on adopting this idea as part of the group idea, expand them, twist them and executing this idea very well.

Looking into another story on strategic idea becomes great execution!

Keep inspired,

Andi S. Boediman

Thursday, August 07, 2008

Tryvertising



Ide ini muncul di UK. Tingginya kebutuhan untuk melakukan advertising menciptakan satu ide baru, di mana setiap orang boleh datang untuk mendapatkan tabung Tryvertising. Isinya adalah barang-barang sponsor dari pengiklan. Menarik bukan :)

Wednesday, August 06, 2008

MTV Research Open Source







Pada Ad Research Day, MTV mengungkapkan pemahaman trend generasi muda saat ini yang hidup pada generasi digital. Meskipun mereka sering diasumsikan sebagai kreator, ternyata survey ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar aktif berkreasi. Yang lain tetap lebih menjadi konsumen.

Paradoks yang terjadi adalah mereka menjadi makin global, tetapi juga makin lokal. Mereka tahu dan mengadopsi hal-hal baru dari Internet, tetapi juga makin mengkonsumsi konten lokal. Musik merupakan indikator yang sangat kuat di mana lebih dari 60% memilih musik digital.

Monday, June 09, 2008

iGotcha installs first interactive display in Canada

igotcha digital signage

iGotcha media has installed an interactive window display at Garage’s flagshop Montreal store, located at the corner of Peel and St-Catherine Street. (I actually noticed it last week but they only officially announced it today). Window shoppers can interact with a touch screen interface, access the Garage website, product info, and participate to forums. The screen is in high-definition and has a viewing angle of 180 degrees.

This is the first interactive digital signage in Canada, and I found it very innovative. It’s much better (as in environment-friendly) than printing endlessly brochures on latest store sales and discounts. It is also faster on broadcasting information, as store managers can show videos through an easy-to-use interface or highlight real-time product information.

iGotcha media says Garage was the ideal spot as teenagers and young women are “incredibly active online” and that interactive displays are more captivating than “traditional” signage. But just wait until they install one at Futureshop’s store in St-Catherine.

Friday, May 02, 2008

Digital Artist from Thailand

As part of 1001 Inspiration 17 - 24 July, we are going to invite Anuchai Secharunputong to share his insight to create this mind-boggling images.
_____________________



Source: Anuchai website

Mr. Anuchai Secharunputong established “P.A.Graphic Company Limited” in 1989. The company provided print-designing service to both service and product companies for their advertising and promotional purposes. The name “P.A. Graphic Company Limited” was renamed to “Remix Studio Bangkok Co., Ltd.” in 1993. Remix Studio Bangkok Co., Ltd located at 487 Ladprao 94 Road Wangthonglang Bangkok 10310. Remix Studio is the production house where photography and computer retouching are arranged at one place as one stop service. Anuchai’s works have been known more to oversea market when they appeared at Cannes Lions since year 1999, and the prizes have been received continuously until 2006 totally 13 prizes which includes 2 Gold awards, 2 Silver awards and 9 Bronze awards. And he received 4 prizes this year 2007 which include 2 Gold and 2 Bronze.



Moreover, he has received the winner and merit awards as the best photographer from Maha Chakri Sirindhorn on the occasion of Bangkok Steel Exhibition; Conference 2006 which held by The Royal Photographic Society of Thailand & LPN Plate Mill Public Co., Ltd.

Anuchai Secharunputong has been ranked at the very beginning numbers of international photographers ranking arranged by Archive magazine every year. (For more information, please visit www.luerzersarchive.com). In 2004, he was ranked number one photographer by Archive Magazine. In the same year, Anuchai has been promoted by Archive magazine to be one of 200 world best photographers. And his achievements are announced in 200 Best Ad Photographers Worldwide Book, 2004 – 2007. For domestic rank, Archive Magazine has put him on the first rank for over 5 years continuously.

The acceptance of Anuchai’s works and his fame have opened him chances to be invited as honor guest for several important occasions offered by different institutions and organizations both locally and oversea; such as Board of Jury of Citra Pariwara, Jakarta Indonesia; Board of Jury for the project “Thai Heritage, World Heritage” held by PTT; Board of Jury for Bangkok Art Directors Awards (B.A.D. Awards); Board of Jury Top Advertising Contest of Thailand (TACT Awards) and more which will be described later.

The highest honor and most pride of his working life came when he was selected to be one amongst famous professional photographers to work with the greatest ceremony occasion of “The 60th Anniversary Celebration of His Majesty’s Accession to Throne”.

In year 2007, Anuchai is selected to be one of 55 world’s most celebrated photographers to create a contemporary portrait of the Kingdom called “Thailand-9days in the Kingdom” book.
Moreover, this year Anuchai is remarked to the public by his soloist photo exhibition called “Our Beloved King”. He has spent his after-work over three years on this project. His journey through 76 provinces all over Thailand to take the King’s pictures hung on Thai residents’ home wall for 81 exhibited-photos has proved his extreme intention and dedication to make something for the King.

Friday, April 18, 2008

"LUX Provocateur" Character Concepts




Katie Holmes


Natalie Imbruglia


Natalie Portman




Source: Jim Clark blog

This commercial is done at Bent Image Lab, for the agency Santo-Buenos Aires. Jim Clark was contracted to provide character designs and develop techniques to capture live facial performance that could then be manipulated, distorted, match moved and finally composited onto stop-motion puppets. Part photo manipulation and a lot of hand painting in Photoshop.


Saturday, April 12, 2008

Challenge, Insight & Solution – Deodorant in Indonesia


copyright: Andi S. Boediman, 2008

Once, I was invited to pitch for a deodorant client and we have only less than a week to conduct the study before the pitch. The key to win this project is to understand the consumer insight behind the brand. We are conducting a qualitative study with casual discussion among the users. Out of this discussion, we found a few insight that leads to the finding that deodorant is something that people use but never want to admit it.

We conclude that we should create a ritual that deodorant should be a part of an activity alongside with combing your hair. With this understanding, we got the project even though the deadline is very tight and we have to compete with all the big guys :)

Here's is the video supporting the insight presented above.

Friday, October 11, 2002

Brand Insight vs Consumer Insight discussion

posted at Marketing Club mailing list

Hani Susilo Handoyo

Brand Meaning


To give meaning to a brand, it's important to create a brand image and establish what the brand is characterized by and should stand for in customers' minds. Brand meaning can be broadly distinguished in terms of more functional, performance-related considerations vs. more abstract, imagery related considerations. These brand associations can be formed directly from a customer's own experiences and contact with the brand through advertising or some other source of information (e.g., word of mouth). Performance. The product is the heart of brand equity. It is the primary influence of what consumers experience, what they hear about, and what the firm tells customers about the brand. To create brand loyalty and resonance, consumers' experiences with the product must meet, if not surpass, their

expectations.

Brand performance is the way the product or service attempts to meet customers' more functional needs. It refers to the intrinsic properties of the brand, including inherent product or service characteristics.


The performance attributes and benefits making up functionality will vary by category. However, five important types of attributes and benefits often underlie brand performance.
Primary characteristics and supplementary features:
  • Product reliability, durability, and serviceability
  • Service effectiveness, efficiency, and empathy
  • Style and design
  • Price
Brand performance transcends just the "ingredients" that make up the product or service to encompass aspects of the brand that augment these ingredients. Any of these different performance dimensions can help differentiate the brand.

Imagery. Brand meaning also involves brand imagery, which deals with the extrinsic properties of the product or service, including the ways the brand attempts to meet customers' more abstract psychological or social needs. Four categories of brand imagery stand out:
  • User profiles--the creation of a profile or mental image of users or idealized users based on brand imagery.
  • Purchase and usage situations--the formation of associations of a typical purchase situation may be based on type of channel, specific store, ease of purchase, or associated rewards.
  • Personality and values--the assignment of a personality to a brand, which Aaker describes in five dimensions: sincerity, excitement, competence, sophistication, and ruggedness.
  • History, heritage, and experiences--the creation of brand associations based on their past and certain noteworthy events in the brand history ........
http://www.hamiltonco.com/features/newsletter/enews022802/KellerSummary.html



Andi S. Boediman
Ini kata-kata Bill Bernbach, salah satu advertising man terbesar:
"At the heart of an effective creative philosophy is the belief that nothing is so powerful as an insight into human nature, what compulsions drive a man, what instincts dominate his action, even though his language so often camouflages what really motivates him. For if you know these things about a man you can touch him at the core of his being."
- Truth, Lies & Advertising - Jon Steel

Gampangnya, insight adalah 'isi hati' dari seseorang, yg mendorong ia melakukan sesuatu. Bukan apa yg ia ucapkan, tetapi yg ia rasakan dan lakukan. Dengan melakukan studi terhadap perilaku target market, kita bisa melakukan komunikasi hingga ke subconcious level, mis dlm contoh iklan Sampoerna Ijo adalah orang Indonesia adalah masyarakat guyub yg seneng
ngumpul, dalam contoh iklan Axe adalah cowok sebenarnya suka kalo didekati cewek.

Thursday, September 26, 2002

Consumer Insight

posted at Marketing Club mailing list

Insights ini bisa macem-macem deh. Basicnya cuma pengamatan atas perilaku, harapan dan persepsi dari target market/calon target market. Saya sendiri masih belum bisa melihat benang merahnya, ini beberapa contoh aja: dari survey diketahui bahwa target market dari Sampurna Ijo adalah masyarakat yg guyub, seneng maen bareng sehingga bisa muncul campaign Sampurno Ijo, asyiknya rame-rame. Contoh lain misalnya iklan Axe. Insightnya, cowok pada dasarnya pingin kalo cewek itu hit on him daripada selalu cowok yg usaha. Dari sini Axe bikin iklan ada cowok culun bersenggolan dengan cowok lain yg baru aja pake Axe. Di lift si cowok culun itu 'digarap' oleh cewek cakep.

Tidak hanya untuk iklan, pemahaman tentang insight ini dipelajari pada consumer behaviour. Kuncinya pada pengamatan Satu buku menarik yg membahas ini adalah The Science of Shopping. Salah satu contoh di situ adalah yg biasa membeli suplemen untuk anjing biasanya adalah anak-anak. Oleh karena itu dengan meletakkan barang tersebut di shelf bawah, langsung meningkatkan sales. Banyak banget deh studi kasus diulas di sini yg semuanya hanya dari sekedar proses pengamatan atas perilaku konsumen.

Saya jadi inget studi kasusnya Coke, Zyman menganalisa ada 13 fungsi/occasion di mana Coke bisa diminum. Coke adalah low involvement, kayak permen. Oleh karena itu ia bikin 13 iklan berbeda yg menjelaskan 'reason to buy Coke' dan ia ngotot ngukur efektifitasnya dari peningkatan jumlah krat yg terjual. Sebagai perbandingan, di Indo saat ini sales Sprite aja masih lebih tinggi daripada Coke, karena Coke di Indo di benak konsumen masih masuk dalam kategori 'limun', bukan kategori 'cola'. Ia bahkan menstop salah satu iklan Coke paling disukai audience, dapat award banyak dan sangat diingat penonton karena tidak meningkatkan sales. Iklannya adalah seorang anak kecil yg ngasih minum pada idolanya, Mean Joe Green, pemain football.



______________
Andi S. Boediman
Digital Studio

Monday, September 16, 2002

The Fall of Advertising discussion

posted at Marketing Club mailing list

Sumardy
Makanya muncullah buku ini yang hanya membandingkan antara sales performance dengan advertising dan tentunya dengan Public Relation dan dengan asumsi yang lain ceteris paribus. COULD YOU IMAGINE THAT WAY OF THINKING ??!!!!

Andi S. Boediman
Yg saya lihat dari buku ini bukan sekedar PR dalam konteks sempit, tetapi merupakan kegiatan marketing dalam konteks lebih luas ketimbang penggunaan TV, print AD & radio. Mungkin source yg baik adalah buku Scientific Advertising yg ditulis Claude Hopkins. Kelihatannya ini buku Ad pertama yg ditulis di th 30-an. Di sini banyak sekali diungkapkan bagaimana advertising pada zaman itu punya tanggung jawab besar sekali. Ambil contoh: untuk memperkenalkan komponen kue (cotosuet -> kira-kira sebangsa margarin), ia membuat acara display roti terbesar di dunia yang diliput di media dan toko tersebut menjadi ngetop. Bargaining yg ia minta kepada toko adalah untuk membuat roti tersebut, toko akan mengorder cotosuet dalam jumlah cukup besar. Si pemilik toko tentu saja sangat puas dengan hasilnya. Hopkin menyebutkan bahwa advertising adalah SALES, tetapi ditujukan kepada banyak orang. Untuk menghasilkan sales, ia membuat event, membuat publikasi di media, dll. Advertising is about all of that, bukan sekedar dalam konteks sempit yg kita lihat hari ini. Yg disebut PR oleh Ries adalah mengcreate konsepnya, bukan sekedar sebagai penyelenggara event yg sudah dipikirkan klien atau menjadi sekedar pendesain iklan seperti advertising yg banyak
kita lihat saat ini.

Contoh lokal yang menurut saya sangat sukses adalah membangun brand Clear, di mana dikombinasikan advertising dan kegiatan pendukung seperti Clear Top Ten, acara di mal, dll. Ini adalah jenis kombinasi PR & advertising yg sangat bagus.

Sumardy
kalau kita mencoba membandingkan antara advertising dan sales, maka yakin deh, sampai dunia kiamat sekalipun kita tidak akan menemukan korelasi yang linier meskipun menggunakan teknik analisis yang paling canggih sekalipun. Korelasi dan regresinya hanya akan mencengangkan dunia persilatan :))

Andi S. Boediman
Advertising bermanfaat mengingatkan akan persepsi yang kira-kira sudah terbentuk di sebagian masyarakat, sebagai satu 'enhancer' yang dampaknya bisa lebih luas. Kredibilitasnya sendiri akan dikonfirmasi oleh orang-orang yang sudah mendapat benefit dari produknya. Saya saat ini menganut bahwa advertising adalah lebih ke 'selling'. Setiap pasang iklan, saya ukur bagaimana impactnya dan saya ukur dari respon langsung. Jika respon kurang, maka iklan tidak efektif. Tetapi saat menggunakan metoda PR (event, seminar, berbagai kegiatan), saya malah tidak mengharapkan direct impact. Impact saya ukur dalam kurun waktu at least sebulan ke atas. Di sini bisa terlihat adanya peningkatan grafik sales. Jadi dalam hal ini saya malah mengkorelasikan antara advertising & sales. That's my method and it's work. Saya tidak mengatakan bahwa cara yg saya lakukan tersebut bisa dimanfaatkan oleh semua orang, tapi at least dalam cukup banyak kasus ini berhasil.

Salah satu pendukung bahwa advertising should generate sales adalah Sergio Zyman - bekas CFO Coke yg disebut si Aya Cola (lihat The End of Marketing as We Know It). Ia merevolusi metoda pembayaran ke advertising di Madison Avenue untuk menggunakan model commission based. Perusahaan advertising mendapat komisi dari peningkatan sales, tapi jika ad tidak berhasil, maka mereka nggak dibayar :), tapi jika sales meningkat, they win....big time! Ia menarik iklan Coke yg meskipun recallnya tinggi tapi nggak generate sales.

Sumardy
Kita sering lupa bahwa setiap bentuk periklanan memiliki tujuan khusus yang tidak semuanya bisa diarahkan untuk menghasilkan penjualan dan AKAN MENYESATKAN kalau membandingkan biaya periklanan dengan penjualan. FORGET ABOUT IT !!!

Andi S. Boediman
Ries malah setuju hal ini. Ia membandingkan Advertising dengan Insurance. Advertising adalah insurance bagi company untuk memperbesar/mempertahankan market share, mind share dan sales yang sudah ada, bukan bikin dari yg nggak ada. Dalam hal ini, ia tidak membandingkan advertising harus menjual, tapi tanpa advertising, penjualan akan menurun.

Sumardy
Saya tidak totally 100% menyalahkan buku tersebut tetapi PR saya akui cukup penting di era over communicated society and over loaded communication tetapi tidak bisa digeneralisasi bahwa advertising sudah menurun peranannya dan PR akan menggila menjadi the ultimate weapon for building a brand. Semua tergantung konteks :
1. Siklus hidup konsumen
2. Siklus hidup produk
3. Siklus hidup pasar
4. Siklus hidup Industri
5. Perkembangan maro enviroment especially technology

Andi S. Boediman
Setuju banget. Saya lihat setiap kondisi yg unik menyumbangkan variabel di dalam marketing. Seperti halnya diskusi yg sudah terlontar di sini beberapa hari ini, senjata kita kan ada PR, ada permission, ada emotional/experiential, dll. Kita sebagai marketer tentu memilah sendiri senjata mana yg cocok saat kita berada di kondisi apa, market apa, siapa sasarannya.

Saya tertarik pada konsep kognitif, afektif dan behaviour yg pak Sumardy sampaikan. Tadinya saya nggak kepikir hal ini, tetapi begitu terlontar, saya kepikir istilah yang banyak dipake temen-temen advertising, yakni AIDDA (attention, interest, desire, decision, action). Kelihatannya ini hanya sampai kepada kognitif dan afektif, tidak sampai behaviour. Keberhasilan advertising merubah perilaku ini contohnya adalah: Keramas setiap hari, keramas/pake sabun sekali nggak cukup dan mesti 2 kali biar lebih bersih, minum air 3 liter sehari. Sebaliknya salah satu campaign yg paling banyak dapet award di Amrik adalah 'Got Milk' yg dikampanyekan oleh asosiasi penghasil susu akibat menurunnya tingkat konsumsi susu. Tetapi kreativitas ini tidak nampak pada sales susu yg tetap menurun, alias gagal.

Ini bisa juga ditautkan pada technology adoption life cycle yg disampaikan oleh Geoffrey Moore di Crossing the Chasm. Pernah di satu waktu PAKU adalah teknologi tinggi :). Di masa awal adopsi teknologi/produk, kita membutuhkan komunikasi yang kognitif dan lebih ke arah functional benefit, pada saat teknologi/produk sudah mature, komunikasi kita maju ke tahap image dan bisa ke arah behaviour, tetapi saat teknologi sudah sampai tahap down market, maka tak pelak kita hanya memanfaatkan after market yg terjadi (contoh: mesin ketik, software Wordstar yg saat ini masih aja ada yg pake & tetap dijual baik produk maupun trainingnya:). Asumsi yg sama saya ambil dengan diskusi mengenai low involvement & high involvement produk. Bukan masalah high/low untuk mengkomunikasi functional, image, dll, tetapi kepada cycle produk. What do you think?

Sumardy
jadi Intinya adalah jangan mencoba untuk melakukan generalisasi dan diskusi kita ini dapat menjadi sebuah pelajaran karena kalau kita melihat apa yang terjadi di Indonesia, banyak sekali perusahaan yang senangnya ikut-ikutan alias imitasi strategi yang dilakukan oleh perusahaan lainnya regardless of its product characteristics and other factors.

Andi S. Boediman
Bener juga, kayaknya pelajaran advertising/marketing secara general cocok untuk orang yg baru ingin memahami konsepnya, tetapi begitu sampai pada tahap implementasi, perlu adanya kombinasi stretegi/taktik. Malah mungkin pendekatannya malah bukan theoritically correct, tapi try and error (ini saran dari Claude Hopkins & Sergio Zyman), jadi setiap usaha, kita evaluasi impactnya dan kemudian kita perbaiki strategi/taktiknya :). Terus menerus!

Sumardy
ini yang akhirnya menjadi bumerang (mungkin ini juga ada kaitannya dengan values masyarakat kita) yang terjebak dalam suatu arus menuju komoditas.

Andi S. Boediman
Dari sisi produk, ini ada untungnya karena advertising/marketing kerjanya nggak terlalu berat untuk mengedukasi publik dari sisi adopsi & benefit produk, tapi di lain pihak problemnya adalah margin yg kecil sehingga terpaksa kita mendeferensiasi produk kita melalui
ad/marketing.

Me too style ini kelihatannya bukan cuma monopoli orang kita, tapi widely adopted di Barat juga. Kan aji mumpung :)

The Fall of Advertising

posted at by Sumardy at Marketing Club mailing list

Salam Marketer

Coba refer ke buku Al Ries terbaru: The Fall of Advertising & The Rise of PR, di sini ia menunjukkan bahwa advertising adalah defensif untuk MEMPERTAHANKAN BRAND dan kredibilitasnya sangat rendah, sedang komunikasi melalui kegiatan PR memiliki kemampuan MEMBANGUN BRAND. Konsep peremajaan brand, brand personality, brand value, dll, is good, tapi tanpa 'result' yg dihasilkan oleh sales adalah sia-sia. Saya ngobrol dengan seorang temen saya Brand Manager di Unilever pun tetap memiliki tolok ukur DOES IT MAKE SALES?

Jujur saja, saya agak sedikit bertanya2 dalam hati mengenai buku Al Ries ini yang membandingkan antara PR dan advertising dan yang lebih penting lagi (ini yang banyak salah kaprah), kita selalu memperlihatkan iklan sebagai THE ONLY AND ULTIMATE WEAPON to win the market share. THAT'S CRAZY !!!!!

Makanya muncullah buku ini yang hanya membandingkan antara sales performance dengan advertising dan tentunya dengan Public Relation dan dengan asumsi yang lain ceteris paribus. COULD YOU IMAGINE THAT WAY OF THINKING ??!!!!

kalau kita mencoba membandingkan antara advertising dan sales, maka yakin deh, sampai dunia kiamat sekalipun kita tidak akan menemukan korelasi yang linier meskipun menggunakan teknik analisis yang paling canggih sekalipun. Korelasi dan regresinya hanya akan mencengangkan dunia persilatan :))

Kita sering lupa bahwa setiap bentuk periklanan memiliki tujuan khusus yang tidak semuanya bisa diarahkan untuk menghasilkan penjualan dan AKAN MENYESATKAN kalau membandingkan biaya periklanan dengan penjualan. FORGET ABOUT IT !!!1

Iklan hanyalah merupakan salah satu bagian dari integrated marketing communication dan marketing communication itu memiliki tujuan tersendiri pada tahap dan stage tersendiri. Konsumen dalam mengambil keputusan juga memiliki proses yang harus dilalui mulai dari
cognitif, affective sampai behaviour.

dan masing-masing ketiga tahapan tersebut juga memiliki subtahap lagi yang harus dilalui oleh setiap konsumen. dan iklan sendiri juga memiliki tujuan mau mencapai yang mana, menyasar cognitive, affective atau behavior ??

Kalau iklan yang dimunculkan untuk menyasar cognitive dan kita mengharapkan menghasilkan penjualan, maka IKLAN TIDAK EFEKTIF DAN MENYESATKAN KITA SEMUA !

karena cognitive itu baru menyangkut belief, setelah ada belief harus ada evaluasi terlebih dahulu terhadap berbagai merek dan itu terdapat dalam proses affective dan masih menmbutuhkan jalan panjang menuju perilaku membeli suatu merek. terus iklannya mau disasarkan kemana ??

AL RIes dalam bukunya (in my opinion) mencoba untuk melihat segala sesuatu secara sepotong-potong dan hanya mengaitkan antara iklan dgn penjualan dan brand equity serta antara PR dengan brand equity. Tapi apakah kita pernah berpikir bahwa dengan PR saja maka segala sesuatu akan terselesaikan dan kita akan memiliki mighty brand in this
universe ???

Wow........ asumsi ceteris paribus yang lebih menghenyakkan dunia pemasaran dibandingkan asumsi ceteris paribus dari supply dan demand orang ekonom yang sudah mati ketinggalan jaman sehingga muncullah buku The Death of Economics. Kalau kita mengikuti pola pikir Al Ries, maka The Fall of Advertising sekali lagi akan banyak menyesatkan kita semua dan terjadilah The Death of Categorization and Ceteris Paribus Mind-set yang membuat kita lupa terhadap kompleksitas konsumen dalam pengambilan keputusan pembelian merek.

Saya tidak totally 100% menyalahkan buku tersebut tetapi PR saya akui cukup penting di era over communicated society and over loaded communication tetapi tidak bisa digeneralisasi bahwa advertising sudah menurun peranannya dan PR akan menggila menjadi the ultimate weapon for building a brand. Semua tergantung konteks :
1. Siklus hidup konsumen
2. Siklus hidup produk
3. SIklus hidup pasar
4. SIklus hidup Industri
5. Perkembangan maro enviroment especially technology

Simplifikasi permasalahan sering membuat kita gagal dalam meluncurkan strategi karena hanya melihat konsumen sebagai individu yang dicerminkan oleh cara berpikir kita sebagai produsen dibandingkan cara berpikir orang lain sebaga konsumen.

correct me if I am wrong

Any other opinions ???

Salam Marketer

Sumardy

Friday, July 05, 2002

Dekonstruksi Kurikulum DKV

posted at Creative Circle Indonesia mailing list

Q: OK langsung aja.....saya nggak banyak ngerti soal art karena saya nggak pernah sekolah art.... walaupun di jurusan saya, saya dapet sekian puluh sks mata kuliah yang berhubungan dengan art. makanya saya nggak pede untuk bicara art, bicara sejarah, typografi, dll.....

A: Bagi yang melakukan studi advertising, pemahaman tentang sejarah dan tipografi tetap penting, meksipun porsinya tidak perlu sedalam di graphic design.

Q: saya lulusan UGM jurusan advetising (baru ada D3 se indonesia, S1 nya belum dilahirkan sampe sekarang) saya melihat di mail-mail terdahulu yang membahas tentang kurikulum ada beberapa hal yang sering saya temui juga di kantor saya..... yaitu gap yang kuat antara jurusan komunikasi dan turunannya (advertising, broadcasting, PR) dengan design grafis dan keluarganya.....

A: Memang demikian adanya. Cukup banyak orang advertising berlatar belakang marketing. Orang graphic desain lebih banyak berbicara branding. Tetapi menurut pendapat saya, keduanya akan bermuara sama yakni marketing communication. Level ini kelihatannya masih sulit untuk dijangkau oleh pendidikan sekolah. Di sini yang diperlukan adalah pemahaman advertising, marketing, sedikit sales, PR, dlsb.

Saya melihat jabatan art director di advertising dan graphic design punya tanggung jawab berbeda. Di graphic design, AD dituntut kepada attention to detail, punya wawasan luas di sisi desain, komposisi, tipografi, warna. Tetapi di advertising, mereka lebih memerlukan pemahaman konsep, latar belakang produk, konsumen, target market dan mereka tidak terlalu dituntut melakukan eksekusi secara mendetail. Merupakan job departemen produksi atau computer graphic untuk detailnya. Hasil yang berbeda ini tentu saja memerlukan pendidikan yang berbeda.

Jurusan komunikasi visual di Indonesia memang dibuat 'besar' bukan sekedar karena kita tidak tahu bedanya advertising, graphic design, computer graphic, animation, dll. Salah satu penyebab utamanya adalah pelajar kita pun memilih bidang studi bukan karena mereka ingin menjadi praktisi di bidang tersebut, tetapi karena jurusan tersebut 'sekarang lagi diminati' atau 'temen saya pada ngambil itu'. Ini bisa dibuktikan bahwa output dari jurusan komunikasi visual mungkin hanya separuhnya aja yang terjun ke industri komunikasi visual. Sisanya melakukan studi lanjut, terjun ke bidang yang nggak nyambung, dll.

Sekali lagi, ini tugas kita sebagai praktisi untuk 'memberitahu' generasi muda perbedaan bidang yang bisa diterjuni. Melalui kunjungan Creative Circle ke sekolah misalnya, itu memberikan wawasan tentang bidang apa yang bisa diterjuni. Malah tugas ini tidak cuman dilakukan untuk tingkat universitas saja, tetapi seharusnya hingga ke tingkatan SMA/SMK. Mereka seharusnya sudah menentukan jalan hidupnya saat memilih fakultas atau jurusan di universitas atau diploma. Bukan setelah lulus universitas baru mikir 'saya mau kerja apa'

Q: saya pernah baca kutipan omongan david ogilvy (kalo nggak salah sih dia yang ngomong) sebuah teori yang berbunyi "it's not creative unless it sells" jadi advertising menurut saya adalah bisnis komunikasi.... bukan sekedar bisnis teknologi (dalam arti jago-jagoan software) walaupun kalo bisa jago software juga lebih kompletlah.... (soalnya saya juga ngarang buku photoshop.... he..he..) bisnis ini juga bukan sekedar seni.... baik seni murni atau seni yang lainnya.... (bener kan saya nggak tau banyak soal seni)

A: Advertising memang cukup dekat ke arah marketing. Sebenarnya masalah kreativitas juga menjadi perdebatan panjang karena cukup banyak iklan yang dibuat dengan sangat kreatif tetapi melupakan esensi marketing dan salesnya.

Kalo boleh saya rekomendasikan buku The End of Marketing as We Know It - Sergio Zyman (CMO dari Coke).

Q: bener apa enggak.... yang penting PRODUK GUE LAKU NGGAK? masih ngomong soal art... coba deh kita ambil kasus iklan TV daia.... siapa yang bilang iklan daia bagus...? gue bilang sih jelek dan norak banget

A: Mungkin sebagai pembanding, P&G lah yang pertama kali melakukan pendekatan seperti ini dengan iklan Mr. Whipple (lihat buku Whipple, Squeeze This). Iklannya begitu menyebalkan sehingga semua orang inget. Iklan ini mampu menjual kertas tissue berjuta-juta dan menjadi salah satu iklan mereka paling sukses.

Q: (bukan yang premium kayak rinso dan soklin)bahkan iklan competitornya (SURF) buatan anak buahnya mbak Jeanny, yang menurut saya lebih better jauh lah.... masih nggak bisa ngedeketin salesnya daia.... emang bener itu belum tentu karena iklan semata.... karena advertising sendiri cuma bagian kecil dari marketing mix.....

A: Menurut saya ini bukan sekedar masalah advertising, tetapi pendekatan marketingnya. Advertising kan hanya merupakan muara dari marketing. Dari sisi pasar, low end tentu memiliki pasar lebih besar dibanding high end. Jika target low end yang mau disasar, pendekatan iklan tentu berbeda. Emotional branding, experiential marketing mungkin hanya cocok untuk produk high end. Program diskon, sales, bonus, dll mungkin lebih cocok di low end market, dst.

Q: Yang dari tadi mau saya sampein adalah.... kenapa nggak bapak-bapak jagoan seni kita yang dari kemaren-kemaren ngomong panjang lebar untuk nyari yang terbaik soal kurikulum sebentar mampir ngelihat kurikulum D3 advertising yang udah ada..... (kalo di jakarta ada di ITKP atau UI, di yogya ada UGM, AKINDO, di bandung ada UNPAD)

A: Saya setuju dengan ide ini. Memang susah mencari yang terbaik, tetapi memang kita perlu waktu bersama untuk saling mempresentasikan deduksi, hipotesis dan solusi kurikulum yang sudah disusun, outputnya, dst. Dari sini biar kita bisa saling belajar dari kegagalan/keberhasilan orang lain.

Q: ini emang bener-bener sokolahnya orang iklan.... lihatlah lulusan D3 advertising UI sekarang sudah mulai mendominasi lapisan muda di advertising.... karena mereka nggak kaget waktu pertama kali dikasih creative brief di tempat kerja... soalnya di kampus juga udah dapet sih.... sedangkan lulusan "censored" di kantor saya.... bengong-benong aja tuh...

A: Balik seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, bahwa target output nantinya merupakan 'positioning' dari sekolah. Tidak mungkin kita memiliki sarjana yang 'one size fits all' Bisa semua kayak Superman. Lagipula kan selera mereka terjun ke industri kan berbeda-beda.

Q: inget, di indonesia sekarang ini kalo nggak salah gaji graphic designer, web designer, 3D animator atau art director di perusahaan non advertising tuh masih tergolong kecil..... kalo udah ngerasa gede... coba rasain sebulan aja dapet gajinya "censored"..... 20 juta per bulan sih ada ya mas & mbak....jadi ke advertising aja lah.... gajinya gede loh..... jadi graphic designer nggak akan pernah nyampe kan..... (kecuali side job... he..he...)

A: Saya kurang setuju dengan pendapat ini. Di dalam bekerja, bukan sekedar reward yang kita cari. Jika memang sekedar reward, ngapain capek-capek belajar art, mending ikutan program multilevel marketing aja. Setiap industri membutuhkan orang-orang yang berdedikasi di masing-masing bidang.

Di foto mungkin kita punya mas Darwis, di komik dan animasi mungkin kita punya mas Dwi Koen. Jika sekedar besarnya imbalan, saya pikir mungkin Dwi Koen udah konglomerat kali kalo nggak jadi komikus :) Kebetulan saya cukup dekat dengan mereka berdua untuk bisa tahu yang membuat mereka menjadi 'orang besar' bukanlah mengejar rewardnya, tetapi mereka punya 'passion'.

Dunia advertising dan post production yang dekat dengan unsur komersial terjadi persaingan yang kadang dirasa kurang sehat dengan saling bajak membajak. Ini balik lagi ke orangnya. Apakah mereka sudah puas baik dari sisi karya ataupun kompensasinya. Saya lihat mungkin pak Paul yang jauh lebih senior pun kini malah ngurusin 'passion' ketimbang 'profit'. Isinya ngikutin diskusi nggak ada duitnya di Internet ini ketimbang bikin konglomerasi :)

Di tahap awal karir, kita semua mengalami digaji rendah. Ada yang mengambil jalan meloncat-loncat perusahaan untuk mendongkrak gaji. Ada yang setia dengan gaji pas-pasan. Ada yang setelah bekerja sekian tahun akhirnya menjadi entrepreneur. Ada pula yang hidupnya ngurusin orang lain dan nggak pernah mikiran berapa yang saya terima. Ini sekali lagi balik ke orangnya. Apa yang dia cari.

Saya tidak terlalu setuju bahwa saat kita mengedukasi generasi muda, hanya masalah gaji dan reward yang kita bincangkan. Yang lebih penting adalah di mana letak 'passion' dari mereka.

Q: Terpancing juga dengan rame-rame diskusi tentang kurikulum dan juga Untung yang mengutip Ogilvy, saya kebetulan baca lagi buku Ogilvy yang kuno itu (Ogilvy on Advertising) dan nemu ini: Chapter 18: Lasker, Resor, Rubicam, Burnett, Hopkins and Bernbach

A: Boleh saya tambahkan, Rooser Reeves dengan bukunya Reality in Advertising (pemuka konsep 'unique selling proposition'). Saya juga merekomendasikan bukunya Claude Hopkins yang berjudul Scientific Advertising dan My Life in Advertising. Ini mungkin buku advertising pertama. Secara personal, saya paling kagum dengan karya Bill Bernbach.

Ada beberapa advertising giant baru favorit saya seperti Wieden & Kennedy (pegang Nike), Kirchenbaum & Bond (dengan konsepnya 'under the radar advertising').

Q: Bagaimana kondisi ITKP sekarang ? mungkin kita bisa mengevaluasi (saya enggak tahu kondisinya nih...jadi saya enggak bisa mengevaluasi). Menurut saya, universitas ini juga enggak kalah segmentednya. dan didirikan bahkan pengajarnya pun praktisi periklanan yang sudah berpengalaman. ITKP bisa kita jadikan sample. Yang kemudian kita ajukan ke Departemen Pendidikan sehingga bisa dijadikan bahan studi sama mereka.

A: Sedikit catatan, ITKP sekarang sudah menjadi Sekolah Tinggi, bukan universitas.

Saya pikir pendekatan semacam ini memang baik. Saya hanya ingin mengemukakan problem dan kemungkinan solusinya.

Sekolah itu memiliki silabus dan kurikulum. Silabus memuat tujuan belajar, output dan gambaran singkat mata pelajaran yang akan diterima siswa. Tahap yang lebih mendetail dimuat di kurikulum. Di dalam kurikulum ini perlu dicatat tujuan setiap pertemuan, tugas apa yang diberikan, bagaimana persentasenya, dll.

Masalah yang dihadapi oleh sekolah adalah standarisasi. Katakanlah kita bergantung kepada beberapa pengajar yang kita anggap kompeten karena memiliki latar belakang sebagai praktisi misalnya. Jika praktisi tersebut pada satu ketika harus pindah, sakit, atau deadline sehingga tidak bisa hadir pada salah satu pertemuan atau malah nggak bisa nerusin mengajar, maka di tahun berikutnya kualitas pengajaran makin lama makin menurun.

Idealnya adalah di dalam kurikulum yang bersifat terobosan, pengajar dilengkapi dengan silabus dan kurikulum yang sedikit terbuka. Di setiap pengajaran, ia mencatat seluruh proses kelas tersebut, mulai dari tugas, pembagian waktu, output, problem yang timbul, dll. Di akhir semester, catatan ini dikumpulkan ke Akademik untuk dijadikan acuan untuk perbaikan tahun depan. Di tahun depan dilakukan hal sama. Jika sewaktu-waktu pengajar tidak bisa hadir, maka pengajar lain tidak kesulitan melanjutkannya.

Sayangnya, saya tidak melihat sekolah menerapkan sistem tersebut. Begitu pula dengan pengajarnya. Kecenderungan bekerja dengan orang-orang kreatif yang cenderung praktis, agak sulit untuk meminta mereka memiliki disiplin tinggi membuat catatan tersebut. Sehingga setiap tahun kita harus reinvent the wheel. Kita perlu belajar dari bangsa Jerman dalam hal ini.

Lagipula ada kecenderungan bagi sebagian orang untuk merasa bahwa ia tidak mau mengungkapkan seluruh pengetahuannya karena takut tersaingi. Akibatnya sistematika ini kurang berjalan.

Hingga saat ini, tidak adanya komunikasi antar sekolah juga menjadi adanya gap ini. Ada persaingan, cemburu, iri, dlsb. Sebelum kita mau minta pemerintah atau memberikan rekomendasi ke pemerintah, langkah awalnya adalah menjalin komunikasi dahulu antar akademisi. Saling berbagi dan membentuk sinergi. Baru kita punya power untuk memberikan rekomendasi. Saya pikir di awalnya persis seperti PPPI.

______________
Andi S. Boediman
Digital Studio