Showing posts with label digital studio. Show all posts
Showing posts with label digital studio. Show all posts

Monday, August 11, 2008

Saturday, May 10, 2008

DSCollege Student Showreel (Design|Animation|Filmmaking)



DS College student Exhibition Opening


Design student portfolio showcase


Animation student portfolio showcase


Filmmaking student portfolio showcase


Event video coverage

Wednesday, April 30, 2008

DSCollege Graduation 26 @ F-Bar eX



Cre8ive Force showing off!

This is the celebration of the year! Our Design, Animation and Filmmaking has graduated. And ready to enter the industry.



Bernhard Subiakto from Octovate sharing his experience in creative industry, creating some of the best works including campaign for Gudang Garam TV Commercial and Visit Indonesia Year 2008.

Bernhard Subiakto from Octovate Group is invited. As one of the first Digital Studio College student, he has succeed to lead a creative team that creates a memorable TV Commercial for Gudang Garam as the celebration of Indonesia creativity. His team also creates the logo for Visit Indonesia Year 2008.

His message to all young designer is that design can be placed alongside with other industry as the one that truly rewarding, emotionally and financially. Thanks to Bernhard. Brilliant works!


Dahlia Zinnia Nizar received the Best Lecturer. Again!!??


Tjong Indra awarded with Special Appreciation as a Favourite lecturer.


On behalf of all lecturers, Bima Shaw give the last message for the students.

We give appreciation to the best lecturers in DS College, Dahlia Zinnia Nizar for Digital Design, Rully Rochadi for Digital Animation and Farizhad I Latjuba (Echa) for Digital Filmmaking and Special appreciation goes to Tjong Indra as the favourite lecturer. Bima Shaw represent all lecturers to give his last words to the students.

Then we give appreciation to our best students, Vina Puspita for Digital Design, Benny Kurniawan for Digital Animation and Ferry Arya Seto for Digital Filmmaking


All Digital Design students and faculty posing together.


Digital Animation students posing together with the faculty.


Digital Filmmaking students posing together with the faculty.


Vina Puspita, our Digital Design best student.


Ferry Arya Seto, Our best Digital Filmmaking students give speech to his parents, friends and lecturers.



Student parent give thanks to all lecturers and academic team at DSCollege.

After a wonderful moment to take pictures together, we close our event with portfolio showcase and pray to the graduates and Digital Studio College.


We pray together for DSCollege and our students future.

Saturday, April 26, 2008

DSCollege Profile featured on Slideshare


Digital Studio College profile presentation is featured on Slideshare.net.

Digital Studio College is the leading creative communication school in Indonesia. Most of our students recruited by local and international companies.

More information on Digital Studio College website.

Friday, April 25, 2008

Cre8ive Force Opening Night



The Cre8ive Force poster alongside with portfolio exhibition on design, animation, filmmaking.


Bima Shaw as DS lecturer enjoying the exhibition.


Motion graphic of student's works on display.


Richard Mengko (Advisor to the Ministry of Research and Technology) sharing an insight on creative industry.


Mark Marcin (Industrial Light and Magic) and Aamir Ghani (Lucasfilm) enjoying the animation portfolio.


Andi, Amy Quek(Lucasfilm), Bernhard (Octovate) and Shinta (Bubu)

It's been a busy day. Cause it's our student graduation show! The Cre8ive Force Exhibiton. The students and the College team has been working all night to prepare this wonderful evening. Salute to all of the team!

The guests starting to come at 6 pm and we start at 7 pm. Shinta and Agung from Bubu, Bernhard from Octovate, Dina and Hesti from Atomz, Edi Taslim from Kompas Cybermedia, Jerry Aurum, Caroline from FDGI, Danu from Binus, Ellen from Matahari Timezone are among the guests. Thanks for visiting us guys!

We are honored to have Mr. Richard Mengko as the Advisor for Ministry of Research & Technology to open our exhibition. And out of ordinary, we also have Amy Quek and Aamir Ghani from Lucasfilm Animation (Singapore) and Mark Marcin from Industrial Light and Magic (San Francisco) coming to our exhibition. They have a wonderful evening getting to know the industry players in Indonesia and an opportunity to see the new generation of creative force!

The exhibition is still open until Sunday, April 27 at Plaza eX, Center Lobby. Enjoy!

Saturday, April 12, 2008

DSCollege Exhibition 25-27 April @Plaza eX

eX & DIGITAL STUDIO
present
“CRE8IVE FORCE”
a superb Portfolio Showcase
@ Plaza Ex, Center Lobby, 25 - 27 April 2008



Temukan aksi Super Hero dunia kreatif ...
Saksikan tokoh tokoh sakti dan karya design, animation & filmmaking
angkatan 8 Digital Studio College pada acara ini.
Jadikan ini sebagai ajang "menangkap"
para Super Hero industri kreatif.

Acara
Portfolio Exhibition
Fun Games Berhadiah Menarik
Penyerahan Hadiah Lomba Blog WWF

Informasi
Digital Studio College
021 - 270 1518
Gedung Syariah Mandiri fl. 3
Jl. Sultan Hasanudin No.57
Kebayoran Baru - Jakarta12160
Email:
info@digitalstudio.co.id
www.digitalstudiocollege.com

Wednesday, August 30, 2006

IDE Awards @ Petasan Grafis


Moralitas Pers, Dolanpiade, Batik Illusion, Peranakan Idealis

Source: Imajineo

IDE AWARDS Ide Awards adalah kompetisi kreatif Mahasiswa dengan bingkai nasionalisme. Tujuan lomba ini sangat mulia, menggali kembali nasionalisme yang dikomunikasikan melalui ide-ide kreatif. Lomba ini dibagi tiga tema, yaitu:

  • Kemasan Makanan Tradisional Indonesia (eksplorasi kemasan dodol durian, tape ketan)
  • Acara/Event (promosi tari-tarian daerah, recital, gamelan);
  • Destination Branding (mengolah program komunikasi visual suatu tempat, seperti pantai, museum, wisata, tempat bersejarah) yang menarik di Indonesia.
Dan JAWARA nya adalah..
  • Dolanpiade, dari Digital Studio Jakarta (Dicky Mardona, Meliana Sari Hermanto, Octavia Subiyanto, Rifky Zulkarnain, Welly Caslin).
  • Peranakan Idealis, dari Institut Kesenian Jakarta (Irvan Muaia Ahmadi, Rahayu Pratiwi, Husin AL Kaff, Muhammad Rizki Lazuardy).
  • Lurjuk, dari Universitas Petra Surabaya, (Aileen Halim, Ang Siau Fang, Selvy Hermawan)
  • Batik Illusion, dari Universitas Bina Nusantara, (Adeline Ardine, Fredy Susanto, Nadya Kartika, Natalia)
  • Moralitas Pers, dari Universitas Bina Nusantara, (Kezia Winarta Wahyuni Wijayati, Lia Anggraeni, Filina Vicentia, Tafrian)
Publikasi pemenang dilakukan pada acara Petasan Grafis di Galeri Nasional yang dihadiri oleh Ibu Mari E. Pangestu.

Sunday, August 11, 2002

Kuliah Motion Graphic

posted at Designcampur mailing list

Program D1-D4 (diberi nama College/Akademi) model pembelajaran diarahkan ke bentuk praktis sehingga ini sangat sesuai untuk mereka yg ingin terjun sebagai praktisi. Contoh sederhananya, kebanyakan sekolah di Amrik untuk GD yg terbaik berbentuk College (Art Center College of Design, Academy of Art College, dll).

Program S1 (diberi nama Universitas) ditargetkan agar orang yg belajar di situ akan keluar sebagai seorang akademisi/teoritisi yg outputnya lebih ke arah pengajaran, membuat buku, dll.

Program pendek 1-2 tahun mengarahkan outputnya lebih ke arah junior desainer/desainer. Sedang program panjang 3-4 th mempersiapkan output siswanya ke pembentukan 'pola pikir' sehingga mereka cocok untuk menjadi 'leader', pada pekerjaan mereka setara dengan 'art director'.

Sayangnya di Indonesia, model pendidikan ini kacau balau dan nggak jelas. S1 di Indonesia membuang hampir separo waktunya untuk mempelajari hal-hal yg tidak digunakan di lapangan (Pancasila, IBD, ISD, dll). Bahkan yg akan berguna di lapangan seperti pelajaran Sejarah pun diberikan dengan sangat menyebalkan dan siswa disuruh menghafalkan hingga saat lulus ilmu ini sama sekali tidak berguna, dan kalo nggak salah ini diberikan hingga 8 semester.

Problemnya, saat mereka lulus dan mau bekerja, banyak hal-hal yg tidak dikuasai secara praktis, sehingga hampir tidak mungkin untuk mempekerjakan lulusan S1 langsung setara dengan 'art director'.

Kurikulum Digital Studio dirancang untuk menjawab kebutuhan tenaga praktis di Indonesia. Oleh karena itu, setiap tahun kita selalu berdiskusi dengan pelaku industri untuk menentukan perbaikan dan upgrade dari perkembangan ilmu dan teknologi yg digunakan di lapangan. Program D1 di Digital Studio diharapkan outputnya adalah 'graphic designer', bukan 'art director'. Jadi ini perlu dipahami dengan jelas. Kita sekarang sedang mempersiapkan konsep studi yg lebih panjang (3-4 th) dan di situ target dari output adalah kemampuan untuk menjadi art director, sehingga selain kemampuan teknis, juga dipersiapkan kemampuan teamwork, leadership, entrepreneurship, dll.

Jika Anda bertanya apakah Anda bakal kalah/obsolete? Jawabannya adalah IYA! Karena sekolah HANYA mampu memberikan ilmu yg sekarang ada, bukan yg bakal ada 3-5 tahun mendatang. Saat ini dari analisa saya, makin lama kita makin cepat menjadi obsolete. Jika Anda tidak memiliki sikap yg terus belajar, maka nggak peduli S1, S2, juga tetap aja bakal ketinggalan dengan anak SMA. Ini sudah saya saksikan di lapangan. Editor/compositor terbaik di Jkt ada yg lulusan SMA dan ditambahkan ikutan workshop singkat aja bisa menghasilkan gaji 10 jt/bln. Bahkan yg S2/S3 pun nggak ada yg menang.

Q: Sebuah design/karya yang baik harus memiliki sebuah konsep yang kuat juga... Konsep yang kuat itu bukan hanya dapat dimengerti oleh si pembuatnya doang, tapi juga harus dapat langsung ditangkap oleh audience yang bakal kita tuju.

A: Good point! Ini faktanya, di masa belajar awal, mayoritas orang belajar jika 'fun'. Dalam hal ini adalah desain yang bebas bereksplorasi tanpa beban apakah bisa dioutput, target market, dll. Pokoknya yg penting keren dan bagus. Mental ini perlu dibentuk sejak awal agar siswa memiliki keberanian bereksplorasi (ingat saat kita kecil selalu penuh dengan fantasi). Kemudian semasa studi, perlahan-lahan sikap tersebut diarahkan untuk menghasilkan karya yg bertanggung jawab, apakah sesuai dengan kebutuhan klien, target komunikasi, bisa diproduksi, biaya masuk, dll. Jadi kedua hal tsb seharusnya built-in di dalam kurikulum. Di Digital Studio, kita membuat setiap kuartal dari pelajaran dengan model ini. Di kuartal I, siswa bebas bereksplorasi dan beranjak ke kuartal III dibuat makin bertanggung jawab.

Q: Nah, pada kuliah D1 kebanyakan hanya mengajarkan pada segi teknis dalam berkarya/membuat sebuah design. Nggak kayak di S1, dimana mahasiswa selain dituntut
buat bisa berkarya secara teknis juga ditekankan pada konsep karya yang akan mereka buat.

A: Dengan durasi studi 4 th memang ini output yg diharapkan. Sebagai art director, ia harus mampu mengarahkan dan bertanggung jawab thp proyek secara keseluruhan. Apakah ini hanya bisa dipelajari di sekolah dan nggak bisa dipelajari di lapangan? Bisa saja, tergantung apakah orang tersebut mau maju dan menggali.

Q: Kuliah S1 itu juga nggak cuma belajar tentang bikin design dan konsep aja, tapi juga cara memandang pasar atau sasaran yang akan kita tuju, strategi periklanan, manajemen periklanan, copywriting, audio visual, masih buanyaaaaaakkkk dehhhhh....

Di Indonesia yang namanya Studi Komunikasi Visual sebenarnya terlalu luas untuk dipelajari. Yg ada adalah a little bit about everything dan begitu sampai ke eksekusi, masih terlalu banyak bolongnya. Komunikasi Visual seharusnya adalah Fakultas, bukan Jurusan. Masalah mana yg lebih tepat untuk setiap orang, menurut saya nggak sama. Ada orang yg tertarik belajar secara generalis dan tahu secara umum nggak perlu detailnya. Ada pula yang ingin belajar secara mendetail di bidang yg ingin diterjuni.

Semoga membantu.
______________
Andi S. Boediman
Digital Studio

Friday, March 08, 2002

Mengapa Propaganda Digital Studio?

posted at Designcampur mailing list

Q: Kabar angin katanya ada "propaganda"..tapi tau deh kebenarannya. tapi effort event ini bagus karena belum ada yang berani selain dari Digital Studio, tapi ada embel-embel kursus jadinya kurang netral gitu..he..he..he.. (maklum tempat kerja saya kompetitornya DS.hua..ha..ha..ha..ha..)

A: Ini mah bukan kabar angin, tapi kabar topan. Kenyataannya emang bener bahwa Digital Studio pasti diikutin dalam tiap event dong. Ini adalah proses dari brand building dari Digital Studio. Digital Studio=computer graphic. Dan kenyataannya kita tidak hanya melakukan ini saja. Kita melakukan 360 derajat branding, mulai dari iklan, kegiatan PR, emotional branding, buzzword marketing, peluncuran produk baru, peningkatan layanan customer service dan
masih banyak lagi.

Jadi bagi yang nanya apa sih tugas advertising, ya ini jawabannya, KOMUNIKASI baik dari sisi above maupun below. Sayangnya banyak perusahaan Ad yang hanya mengandalkan TV, radio dan print ad aja. Nggak ada terobosan media, under the radar communication, account planning yang baik. Ini juga yang membedakan antara perusahaan adv asal bentuk dengan yang udah pro. Kuncinya bukan di output desain, tapi pada strategi komunikasi, strategi kreatif dan eksekusinya.

Saya pernah ditanya kok sekarang Digital Studio lebih komersial ketimbang dulu, di mana saya sering diundang oleh banyak pihak tanpa dibayar (ini dengan suka rela lho).

Saya ngeliatnya gini, dulu waktu saya sering sharing dan ngajar di beberapa sekolah (UPH, LaSalle, diundang juga ke Trisakti untuk ngedevelop kurikulum lab computer graphic), problem utamanya adalah sulit sekali untuk mendapat dukungan dari berbagai kalangan untuk sadar bahwa kurikulum sekolah seharusnya serupa dengan pekerjaan di lapangan. Sekolah biasanya mempunyai prosedur yang amat birokratis.

Sebaliknya, saya hanya bisa mengajar di kalangan tertentu saja seperti Grup Gramedia, Sinar Mas, Tempo, dll (pasar high end) dan mendapat kompensasi yang cukup baik. Kompensasi ini tentu saja bermanfaat bagi saya untuk tetap bisa berinvestasi terhadap ilmu-ilmu baru baik melalui buku ataupun workshop yang saya ikuti di luar negeri yang ujung-ujungnya bisa lagi dibagikan ke rekan-rekan.

Jika Digital Studio dibangun dengan kacamata dan kekuatan satu orang saja, benefit yang saya bisa bagikan kepada industri hanyalah berimpact hanya pada maksimal mungkin 100 orang setahun. Padahal saya melihat industri kita jauh tertinggal. Dengan membangun pendidikan yang baik, ini impactnya dirasakan oleh banyak banget orang. Di th 2000 kemaren, kita mencatat 750 orang dan di tahun 2001 menjadi 800 orang. Bahkan dengan adanya Digital Studio, muncul banyak rekan-rekan lain yang akhirnya melihat potensi dunia computer graphic dan membuka pendidikan yang serupa dengan yang ditawarkan oleh DS. Siapa yang diuntungkan? Tentu saja publik. Dengan adanya kompetisi kualitas, harga dan persaingan yang sehat, masyarakat menjadi lebih terbuka wawasannya. Let public be the judge dan memilih yang terbaik.

Mungkin bisa kita lihat, bahwa keberadaan DS sejak th 2000 membuat adanya gairah di dunia computer graphic, muncul komunitas, workshop, seminar, perusahaan tandingan, dll. Bukannya ini yang kita tunggu-tunggu bersama sejak dulu? Terciptanya industri?

Kalo boleh jujur, th 1999 kemaren saya udah males balik ke Indo karena saya lihat perkembangan di Amrik saat itu sangat luar biasa. Tetapi berkat masukan dari rekan-rekan saya di sana, juga rekan-rekan saya di Indo mengingatkan bahwa sudah sepantasnya saya menyumbangkan apa yang saya tahu ke dunia akademis. Tujuannya adalah memberikan wacana dan dobrakan baru. Bahkan saya lihat Trisakti pun kini sudah mulai berbenah dan merancang kurikulum baru bagi para siswanya. IKJ membuka jurusan animasi. Muncul sekolah-sekolah baru di dunia computer graphic. Bahkan hingga saat ini, saya tetap membantu temen-temen di LaSalle College untuk penjurian lomba desain mereka. Ini apa untungnya buat saya? Sebaliknya, saya berpikir bahwa jika tujuannya sama, mestinya dibangun sinergi.

Mungkin aja satu hari nanti, saya melihat bahwa sumbangan saya udah cukup, saya akan mundur lagi dari dunia pendidikan dan bisa jadi artis lagi. Bisa jadi jika Digital Studio sudah memenuhi misinya, kita nggak lagi berkecimpung di dunia computer graphic. Siapa tahu!?

Hingga saat ini, cukup banyak kritik terhadap Digital Studio dan saya pribadi, apakah itu dari segi maksud dan tujuan, layanan, kualitas, dll. Saya melihatnya dari sudut yang positif, bahwa rekan-rekan yang memberikan kritik ini 'care' thd DS dan ini memacu tim DS untuk bekerja lebih baik lagi mendeliver apa yang diharapkan komunitas computer graphic. Kita jauh dari sempurna dan perlu dikritik terus untuk memberikan apa yang terbaik.

Secara personal, saya suka dengan kompetisi, kayak balapan lari, gimana kita ngukur kecepatan dan kehebatan lari jika nggak ada yang diajak lari bareng.

Satu lagi soal marketing dan profit. Bangsa kita ini kelihatannya takut sekali dengan embel-embel 'profit'. Kalo bisa semuanya non profit, nggak dibayar, saling sharing secara gratis. Pengalaman saya begini, cukup banyak temen atau generasi muda yang datang ke saya untuk bertanya dan belajar. Sayangnya dari waktu yang saya alokasikan, komitmen, semuanya seringkali dianggap nggak ada harganya dengan nggak muncul saat seharusnya muncul, telat, dll. Malah ketika usaha yang sama saya berikan harga, mereka bisa menghargainya dengan datang tepat waktu dan mengapresiasi ilmu yang saya berikan dengan antusias.

Model gotong royong inipun muncul saat kita sekolah dulu. Murid yang pintar mungkin tidak disukai karena 'mereka pintar, belajar dengan keras'. Maunya ilmunya dicontekin aja ke kita pas ulangan. Bahkan diajak belajar barengan sebelumnya pun mungkin kita males. Akhirnya kita nggak punya keunggulan bersaing saat bekerja atau ketakutan saat ada pesaing dari luar negeri masuk.

Nggak ada yang namanya kita dikasih duit dulu baru mulai bekerja. Yang ada hanya bekerja dulu (atau kita membayar dulu), baru nanti mendapat hasilnya. Begitu pula dengan ilmu dan keuangan, yang ada selalu kita berinvestasi dulu baru nanti mendapat benefit belakangan.

Pendapat saya bahwa kita seharusnya merangkul komersialisme, bukan dari sisi negatif. Bukan kita diperbudak olehnya. Uang tidak pernah boleh menjadi tujuan. Yang benar adalah kita punya tujuan, yang dari mana kita akan memperoleh uang sebagai suatu reward.

Contoh kasus Bill Gates dan Ted Turner (boss CNN), saat mereka berdua menjadi amat kaya dari bisnis, mereka malah bisa nyumbang sekian milyar dollar untuk amal. Duit semua lho itu! Saya mau nanya nih, apakah orang mendapat benefit saat mereka berdua miskin atau saat mereka berdua kaya? Apakah orang yang mengkritik mereka berdua bisa nyumbang secuil aja dari nilai yang sudah disumbangkan tsb.

Dunia marketing Indonesia punya Hermawan Kertajaya, di mana mereka punya acara bulanan untuk membahas buku baru, sharing dari rekan marketer dan saling berkenalan. Mereka perlu membayar 2-4 juta untuk ikut acara sepanjang tahun. Apakah ini mahal? Ternyata yang ikut bilang, wah ini murah banget. Kita dapet network dan dapet ilmu. Sekarang mereka mendapat keuntungan bersaing dengan kemampuan yang lebih baik. Mereka puas karena berkonsentrasi
pada APA YANG MEREKA DAPATKAN, bukan pada APA YANG ORANG LAIN DAPATKAN. Dan mereka berkonsentrasi pada APA YANG BISA MEREKA HASILKAN, bukan APA YANG SUDAH MEREKA HABISKAN.

Kita cenderung takut untuk memberi harga pada diri sendiri. Ingat, penghargaan tidak datang dari orang lain, kita harus percaya dan menghargai diri sendiri dulu baru kita bisa dihargai oleh orang lain apalagi oleh bangsa lain.

Andi
Digital Studio

Membangun Digital Studio

posted at Designcampur mailing list

Q: Benar-benar... semenjak saya baca buku "Rich Dad, Poor Dad" saya pingin juga keluar dari perlombaan tikus... so bagi-bagi ilmu donk pak andi ttg sisi lain dari desain (baca : bisnis). Soalnya sekarang saya Cuma orang 'disuruh' kerja doank..he..he.he...

A: Udah abis, baca lanjutannya, Cashflow Quadrant (lebih bagus), terus Guide to Investing (lebih bagus lagi) dan The Richest Man in Babylon.

Start small. Saya membangun Digital Studio dengan modal 10 juta di th 96. Itu sebagian buat beli software, clip art, dll. (bukan versi Mangdu lho). Untuk operasional tinggal sekitar 3 juta. Saya start dengan bisnis web design di awal 96. NGGAK LAKU. Nggak ada yang ngerti apa itu Internet. Terus ganti haluan ke grafis. Saking nggak punya klien, duit di kantong tinggal 10 rebu. Abis itu janji pada diri sendiri 'I'll never be hungry again!!' (itu tuh, kayak film Gone with the Wind).

Dengan modal utang, ngotot cari klien lagi dari nol. Abis Arema di Jkt kan nggak punya kenalan. Jadi kenalan aja ke sana ke mari kayak maling :)

Dengan mulai dari hal-hal kecil, akhirnya dipercaya untuk hal-hal yang lebih besar. One thing lead to another. Tapi inget, jangan pernah kehilangan visi. Visi boleh besar, tetap perlu dijalankan setapak demi setapak.

Dari tiap kali kesandung, bikin kesalahan, selalu ambil hikmahnya. Hingga hari ini, saya belajar banyak dan selalu sharing ke orang lain.

Good luck

Andi
Digital Studio