Monday, August 04, 2008

DJ to DJ Poster Competition at EDGE


Juara 1 dari Univeritas Surabaya


Juara 2 dari Universitas Ciputra


Juara 3.








Favorit media


Foto para pemenang dan wakil dari FGD.

Mengangkat seni budaya Wayang DIII Komputer Grafis dan Cetak (KGC) STIKOM SURABAYA mempersembahkan kompetisi desain poster dengan tema DJ to DJ untuk kalangan mahasiswa. Tema tersebut tak lain merupakan kolaborasi antara ‘Dalang Jawa’ dengan ‘Disc Jockey’. Dalam kompetisi ini para peserta diuji untuk berunjuk gigi menggambarkan keadaan dalang jawa yang mulai pudar dengan masuknya disc jockey di kalangan generasi muda. Dari sinilah nanti akan diketahui seberapa besar kecintaan para generasi muda menanggapi kebudayaan yang sudah hampir tertinggal itu.

Penjurian dilakukan oleh Irvan A. Noe'man dari BD+A dan Djoko Hartanto dari majalah Concept. Para pemenang diumumkan pada EDGE (East Design and Graphic Expo) yang diselenggarakan di gedung Gramedia Expo Surabaya.

Selamat kepada para pemenang dan maju terus desain grafis di Surabaya!

Sunday, August 03, 2008

Jonathan Harris: The Web's secret stories



Brooklyn-based artist Jonathan Harris' work celebrates the world's diversity even as it illustrates the universal concerns of its occupants. His computer programs scour the Internet for unfiltered content, which his beautiful interfaces then organize to create coherence from the chaos.

His projects are both intensely personal (the "We Feel Fine" project, made with Sep Kanvar, which scans the world's blogs to collect snapshots of the writers' feelings) and entirely global (the new "Universe," which turns current events into constellations of words). But their effect is the same -- to show off a world that resonates with shared emotions, concerns, problems, triumphs and troubles.

"Jonathan Harris [is] a New York artist and storyteller working primarily on the Internet. His work involves the exploration and understanding of humans, on a global scale, through the artifacts they leave behind on the Web."
Edge.org

Saturday, August 02, 2008

Arsitek Muda yang Sangat Diilhami oleh Bandung

Source: Adoi
Oleh DEBBIE CHAN

ITU MEMBUTUHKAN kecerdasan, kreativitas dan di ujung bisnis untuk mengantar anda ke tingkat yang berikutnya.

Satu arsitek Asia menunjukkan bahwa daerah kita memiliki lebih banyak untuk ditawarkan dalam kaitan dengan ekonomi yang kreatif daripada hanya mendorong ke luar karyawan pekerja keras.

Ridwan Kamil, arsitek dan perancang kota, sesuatu yang jarang ditemukan hari-hari ini. Tinggal di kota kelahirannya di Bandung dan menolak untuk pindah ke Jakarta, yang dianggap tempat untuk orang Indonesia, ia telah menciptakan suatu platform untuk kota untuk berkembang menjadi suatu ibukota kreatif kelas-dunia.

Menyadari suatu mimpi: Kamil menjelaskan bagaimana penghargaan telah membantu dia membawa suatu masa depan baru untuk Bandung.

“ Menjadi kreatif adalah untuk bertahan di Bandung. Banyak lulusan gagal untuk mendapat pekerjaan sepanjang krisis keuangan 1997 sehingga mereka merubah jalan mereka ke kreatifitas untuk bertahan. Banyak yang berkecimpung di dalam area seperti fashion sampai musik,” kata Ridwan.

Pergeseran menyeluruh ke arah ekonomi yang kreatif adalah sesuatu yang perlahan dialami oleh banyak negara tetapi daerah Asia mempunyai banyak hal yang dapat dilakukan.

“Kreatifitas ekonomi memerlukan sumber daya manusia dan kemampuan untuk menghasilkan gagasan dan konsep yang unik dan berbeda. Banyak faktor yang membangunnya mulai dari pendidikan yang bagus sampai suatu lingkungan membangkitkan semangat. Faktor-faktor ini membantu menghasilkan orang yang dapat berpikir di luar jalur,” ia berkata.

“Kota-kota besar Asia memiliki banyak hal yang dapat dilakukan tetapi juga hebat untuk mengamati masa depan kota besar ini karena tren perkembangan itu. Yang lebih penting lagi, para pemimpin harus mengenali dan mendorong tren ini.”

Ridwan mengutamakan budi pekerti, suatu studio arsitektur dan disain perkotaan di Bandung dan telah bekerja dengan klien disain internasional di Bahrain, Hong Kong, San Francisco dan Singapura. Proyek yang sekarang dilakukan adalah Super-Block Rasuna Epicentrum di Jakarta.

Ridwan adalah finalis nasional Indonesia untuk Young Design Entrepreneur award 2006 British Council International dan penghargaan ini yang telah membuka jendela kesempatan untuk membantu mengembangkan Bandung.

“ Penghargaan ini memberiku kesempatan jaringan dan bertemu orang-orang kreatif dari seluruh penjuru dunia.

“ Aku harus katakan bahwa networking adalah unsur yang paling utama dalam membangun dan hubungan yang telah kubangun telah membantuku banyak dan Agustus akan menjadi suatu momen penting untuk Bandung,” ia berkata.

Forum Komunitas Kreatif Bandung yang pertama, suatu gerakan kreatif akan dilaksanakan di bulan Agustus meliputi bermacam-macam industri di kota itu.

“Dewan Britania di Indonesia menasehatkan pemerintah untuk menerima lebih banyak pekerjaan kreatif dan membuat kita mudah untuk lebih lanjut mengembangkan Program Kreatif Kota Bandung.

“ Jika Malaysia dapat mengirimkan suatu wakil usahawan disain, hal-hal dapat dibuka dari sini tetapi harus ada tindakan lanjut secara konsisten membangun kota,” ia berkata.

Penghargaan Usahawan Desain Muda British Council International tahun ini akan dibuka untuk Malaysia untuk pertama kalinya tahun ini. Penghargaan ini adalah suatu pencarian global tahunan untuk usahawan disain internasional muda terbaik dan yang tercerdas.

Terbuka bagi peserta yang berusia antara 25 sampai 35, penghargaan ini merayakan pentingnya usahawan kreatif dalam bidang disain, Terutama di dalam perbedaan dan sering juga pasar yang belum digunakan. Aplikasi akan ditutup tanggal 30 Juni. Untuk aplikasi dan keterangan lebih lanjut, kunjungi www.britishcouncil.org.my

Friday, August 01, 2008

Hellomotion, Bersandar pada Komunitas

Source: Kompas

KOMPAS/DAHONO FITRIANTO / Kompas Images
Sebagian koleksi film animasi produksi Rumah Animasi Indonesia sejak tahun 2003 yang telah dipasarkan.
Minggu, 22 Juni 2008 | 03:00 WIB

Seperti para musisi indie, animator memanfaatkan benar yang namanya komunitas. Dengan komunitas, mereka menciptakan peluang ekonomi sendiri sekaligus bersama-sama menyampaikan aspirasi politik.

Salah seorang animator yang gigih membentuk komunitas adalah Wahyu Aditya (28), pemilik tempat kursus animasi Hellomotion di kawasan Tebet, Jakarta. Sejak empat tahun lalu, dia mencoba menghimpun komunitas animasi melalui festival film pendek dan situs internet.

Festival film itu bertajuk Hellofest yang digelar setiap tahun sejak 2004. Menurut Wahyu, setiap tahun, film yang ikut serta dalam Hellofest sekitar 150 buah, 80 persennya adalah film animasi. Festival yang berlangsung semalam ini biasanya dihadiri sekitar 3.000 orang. Mereka terdiri dari pelajar, mahasiswa, praktisi animasi, dan kurator film animasi.

Melalui festival ini, lanjut Wahyu, animator yang banyak tersebar di Indonesia bisa saling berinteraksi. Dari sini muncul animator-animator potensial.

”Beberapa di antara mereka kami ajak untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek yang bersifat komersial,” ujar Wahyu.

Wahyu juga mencoba menghimpun komunitas melalui situs internet bernama Kementerian Design Republik Indonesia dengan alamat kdri.web.id. Situs ini semacam kementerian virtual lengkap dengan kebijakan-kebijakannya. Setiap orang boleh mengirim karya desain grafis, animasi, atau ide liar yang berkaitan dengan kehidupan bangsa Indonesia. Pokoknya, situs ini bisa menampung ide-ide liar dan kritis.

Di situs itu ada sebuah film pendek bertajuk Najis Award. Film itu berupa gabungan karakter animasi dan potongan adegan sinetron. Di bagian akhir, film itu menobatkan sinetron yang mengumbar adegan tampar-menampar sebagai sinetron ternajis karena dianggap paling berhasil melecehkan logika.

Mereka juga mengkritik desain logo-logo yang dianggap kaku milik instansi pemerintah maupun swasta. Mereka menawarkan desain baru yang mereka anggap lebih oke, keren, dan funky. Situs itu, katanya, dikunjungi 800- 1.000 orang dari seluruh dunia setiap hari.

”Melalui situs itu kami memang ingin mengubah Indonesia dengan kekuatan alternatif, yakni kekuatan animasi. Sekalian, kami bisa menghimpun komunitas,” ujar Wahyu yang dipilih British Council sebagai International Young Screen Entrepreneur of The Year pada tahun 2007 karena sepak terjangnya dianggap berpengaruh kepada orang banyak.

Bagi Wahyu, komunitas sangat penting bagi orang-orang yang bergerak di dunia animasi. Mengapa? Karena hampir semua industri animasi dijalankan dengan sistem outsourcing. Sebuah film animasi bisa dikerjakan beramai-ramai oleh animator dari berbagai negara.

Wahyu kini sedang menyiapkan sebuah film animasi dengan sistem crowdsourcing. Maksudnya, sistem yang sumber daya dan dananya berbasis pada komunitas yang disebut Wahyu sebagai crowd.

”Saya membuat ceritanya dan di-publish di internet. Crowd bisa mengomentari cerita itu atau memberi dana. Nanti saya akan mencantumkan nama pemberi dana pada film itu,” papar Wahyu.

Setelah film jadi, film itu akan ditonton dan didistribusikan oleh komunitas. Menurut Wahyu, sistem ini sudah digunakan sejumlah animator independen di seluruh dunia untuk mengurangi ketergantungan pada pemilik modal.

Kalau sistem itu berjalan, komunitas animasi mungkin bisa menggoyang hegemoni pemodal besar yang bermain di bisnis ini. (Budi Suwarna)

Facebook Study

Thursday, July 31, 2008

Pendidikan Animasi Terbentang Luas

Source: Kompas

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Siswa belajar animasi di Cybermedia College, Jakarta.
Minggu, 22 Juni 2008 | 03:00 WIB

Susi Ivvaty

Bagaimana cara bisa menjadi animator andal? Apakah setelah bersekolah siswa lantas langsung siap menggauli industri animasi yang kompetitif ini? Sejumlah lembaga pendidikan dengan cerdas menangkap peluang, menawarkan berbagai kurikulum sesuai dengan kebutuhan industri.

Cybermedia College menjadi salah satu lembaga yang menjanjikan lulusan animator siap pakai, taruhlah bisa bekerja di perusahaan film atau periklanan. Lulusan tidak hanya piawai menggerakkan gambar, tetapi juga bisa bercerita. ”Keberhasilan animasi itu tergantung dari ceritanya. Kalau enggak diberi knowledge, ya jadi kosong,” kata Direktur Cybermedia College Suzanna V Mokalu.

Jadi, sekolah setingkat diploma tiga ini pun mengajarkan tujuh modul untuk empat jurusan yang dibuka, salah satunya jurusan animasi. Untuk modul pertama, misalnya, siswa harus mempelajari fundamental of art & design and color theory dan fotografi.

Cybermedia College yang didirikan pada tahun 2005 di Kelapa Gading ini mulanya akan disetarakan dengan diploma tiga sebanyak 110 sistem kredit semester (SKS). Namun, Departemen Pendidikan Nasional menolak dengan alasan harus ada mata kuliah dasar umum (MKDU) 16 SKS. ”Wah, kami ini berpacu dengan industri, maunya lulusan bisa cepat dipakai,” ujar Suzan.

Lembaga ini kemudian berafiliasi dengan universitas di luar negeri, yakni Lim Kok Wing, Malaysia, Raffles University Singapura, dan Billy Blue School of Graphic Arts Australia. Lulusan Cybermedia College dibekali sertifikat dan jika melanjutkan ke tiga universitas itu, SKS yang didapat langsung disetarakan.

Biaya pendidikan untuk dua tahun belajar di lembaga ini sekitar Rp 40 juta. ”Enggak ada lulusan lembaga kami yang nganggur. Visi kami adalah a bridge to creative industry,” tandas Suzan.

Lukman Harry (21), siswa Cybermedia College yang sedang mengerjakan tugas akhir, masuk lembaga ini lantaran murah dan memberikan kurikulum yang ia mau. ”Saya pengin jadi sutradara film animasi yang terkenal di dunia,” katanya. Ia pernah bekerja tiga bulan di Castle Production dan menggarap layout di Elex Media.

Sama seperti Cybermedia College, Digital Studio College yang dibuka pada tahun 2000 juga menawarkan program dua tahun. Yang ditampung bukan hanya lulusan SMA, melainkan juga pekerja dan mahasiswa. Untuk pekerja, waktu belajar bisa malam hari. ”Ada yang kerja di asuransi, marketing, hingga pegawai negeri,” kata Rini Suprapto, College Manager Digital Studio College.

Lembaga ini setiap tahun menerima 80 siswa untuk jurusan animasi dan desain grafis. Biaya untuk dua tahun perkuliahan adalah Rp 15 juta untuk biaya masuk dan Rp 750.000 per semester. Untuk program kursus para pekerja selama empat bulan, biayanya adalah Rp 5 juta-Rp 6 juta.

Satu lembaga yang cukup kondang, Hellomotion, bahkan sudah meluluskan 600 siswa. Lembaga ini membuka empat kelas, yakni animasi, motion graphic, digital movie, dan editing. Biaya setiap program dipatok Rp 3,8 juta, kecuali editing Rp 1,5 juta.

Siswa belajar empat kali sepekan dan setiap kelas cukup diisi 10 peserta. ”Sekarang ada tiga kelas yang masuk daftar tunggu,” kata pemilik Hellomotion Wahyu Aditya.

Prinsip-prinsip animasi

Sekolah animasi biasanya menerapkan 12 prinsip dasar animasi yang diakui dunia. Animage: Indonesia Animation College, sekolah animasi dua dimensi yang didirikan Kepala Humas Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (Ainaki) Leila Djawas dan akan dibuka Agustus 2008 ini, pun demikian. Prinsip animasi itu antara lain stretch and squash, anticipation, slow in slow out, timing, hingga solid drawing dan appeal.

Animator yang lulus sekolah ini akan mampu mewujudkan segala macam fantasi yang ada pada dirinya dalam bentuk nyata dan hidup. ”Apa pun karakter yang Anda ciptakan dapat dibuat bergerak, berakting seolah-olah hidup sesuai dengan keinginan Anda,” ujar Leila.

Di Cybermedia College, prinsip dasar juga diberikan. Siswa belajar pula soal storyboard, membangun cerita, membuat karakter, mematung, komposisi tiga dimensi, hingga analisis film. Untuk tugas akhir, siswa membuat film animasi pendek. ”Pengetahuan soal kebudayaan dan pengetahuan umum juga kami berikan,” ujar Suzan.

Sekolah menengah

Kurikulum untuk jurusan animasi di sekolah menengah kejuruan (SMK) pun mengadopsi 12 prinsip itu. Sekolah menengah? Ya, SMK jurusan animasi memang makin banyak didirikan, bersamaan dengan terbentuknya Ainaki yang diketuai Denny A Djoenaid pada tahun 2004.

Waktu itu Depdiknas dan Departemen Perindustrian belum ngeh dengan keberadaan potensi animasi di industri kreatif. Denny lantas bertemu dengan Direktur Pendidikan Menengah dan Kejuruan Gatot Hari Priowirjanto dan bersepakat mendirikan jurusan animasi di SMK. Jurusan animasi ini awalnya dibentuk di delapan SMK, di antaranya SMKN 5 Bali, SMKN 1 Malang, dan SMKN Yogyakarta.

Sebagai persiapan pembukaan jurusan ini, guru-guru dari sekolah tersebut ikut kuliah di program D-4 Animasi Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB. Para animator profesional di Ainaki juga melatih para guru ini.

Sekarang makin banyak jurusan animasi di SMK. Kepala Jurusan Animasi SMKN 4 Malang, Jawa Timur, Kuncoro Aji, mengatakan, jurusan animasi di SMKN 4 baru setahun lalu dibentuk. Namun, sekolah ini justru dijadikan percontohan SMK se-Indonesia.

”Kami meng-update kurikulum, sesuai dengan kebutuhan industri,” katanya. Pengetahuan dasar itu semisal menggambar orang dengan berbagai pose dengan komposisi pas.

Apakah para lulusan sekolah ini mampu menjawab tantangan di industri kreatif? Pengamat animasi Dwi Koen mengatakan belum tentu. ”Kita masih belum merambah wilayah kreativitas, masih sebatas perajin. Itu karena sulit untuk bersatu. Industri di Indonesia tumbuh secara sporadis,” katanya.

Dwi Koen mencontohkan perusahaan Amerika Serikat, Walt Disney dan Pixar, yang saat ini bisa bekerja sama. ”Dulu tak terbayangkan. Disney banyak bikin 2D, Pixar 3D. Nyatanya mereka bisa bersatu dan membuat film bagus. Kita susah untuk bisa seperti itu,” terangnya. (DHF/BSW/IND)

Wednesday, July 30, 2008

Mengubah Tukang Menjadi Macan

Source: Kompas

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG / Kompas Images
Aktivitas pembuatan klip video animasi di Digital Studio, Jakarta.
Minggu, 22 Juni 2008 | 03:00 WIB

DAHONO FITRIANTO

Rumah berlantai dua itu terselip di tengah Gang Sukamakmur, sebuah gang sempit di kawasan Ciputat di selatan Jakarta. Tak ada reklame atau papan nama di depan rumah bercat putih yang mulai kusam itu. Namun, di tempat itulah sebuah industri yang disebut ekonomi kreatif dijalankan selama sembilan tahun terakhir.

Sejak 1999, Andi Rusmana (39) dan tiga temannya, Johnny Rinaldi (37), Adji Sunaryo (41), dan Sukaji (39), menjalankan Mrico Animation di rumah kontrakan itu. Mereka memproduksi film-film animasi yang dijual dalam bentuk VCD.

Salah satu produknya yang cukup berhasil di pasar adalah film pendidikan anak dengan tokoh utama karakter anak kecil bernama Mrico (bahasa Jawa dari merica). ”Kami membuat film- film animasi sesuai pesanan produser di Mangga Dua. Setiap film dibeli putus seharga Rp 60 juta per episode,” kata Andi, yang populer dengan sebutan Andi Mrico.

Dengan tim beranggotakan 15 orang, Mrico Animation setiap bulan rata-rata mampu membuat satu episode film animasi berdurasi 30 menit. Selain menggarap film, mereka juga menerima pesanan animasi untuk iklan. ”Hampir semua kami kerjakan sendiri, mulai dari cerita, storyboard, gambar, sampai composing dan editing. Hanya pengisian suara dan pembuatan efek 3D (tiga dimensi) yang dikerjakan di studio lain,” ungkap Andi.

Di salah satu kamar di rumah itu yang sempit dan tanpa pendingin ruangan, Andi, Johnny, dan Adji tiap hari menggambar sendiri tokoh animasi ciptaan mereka. Dengan meja lampu (light box) sederhana, satu demi satu detail gerakan satu tokoh mereka gambar. ”Kami hanya membuat gambar-gambar kuncinya, sedangkan gambar in-between (rangkaian gambar di antara gambar kunci) dikerjakan teman- teman lain,” ungkap Johnny.

Belum inti

Begitulah industri kreatif dunia animasi dikerjakan di Indonesia. Industri berpotensi pasar triliunan rupiah ini masih dikerjakan dalam skala industri rumahan, belum dipandang serius oleh para pemilik modal.

Sekretaris Umum Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia (Ainaki) Kris H Sulisto menyebutkan, potensi pasar industri animasi di Asia saja mencapai 3 miliar dollar AS. Dari potensi pasar sebesar itu, yang dikerjakan di Indonesia selama ini baru bernilai sekitar 10 juta dollar AS, alias belum mencapai 1 persen.

Dan, yang disebut industri animasi di Indonesia itu pun belum benar-benar menyentuh inti industrinya, yakni produksi film animasi. Ketua Ainaki Denny Djoenaid mengatakan, suatu negara baru bisa disebut memiliki industri animasi jika sedikitnya ada satu serial film animasi buatan sendiri yang diputar di stasiun televisi nasional sebanyak satu episode setiap minggu selama satu tahun penuh. ”Itu asumsi minimal untuk sebuah tokoh animasi bisa diterima pasar utamanya, yakni anak-anak,” papar Denny.

Dari sekian banyak rumah produksi animasi yang ada di Indonesia, hanya segelintir yang benar-benar memproduksi film animasi utuh. ”Sebagian besar bekerja untuk dunia periklanan dan desain arsitektur,” papar Denny yang memiliki rumah produksi Denny Animation.

Sekadar ”tukang”

Kalaupun ada perusahaan besar yang memproduksi film, itu pun tak lebih dari sekadar mengerjakan order dari perusahaan- perusahaan film di luar negeri, seperti Jepang atau Amerika. ”Konsep film mulai dari cerita, storyboard, sampai karakter sudah dikirim dari negara asalnya. Kita tinggal membuat gambar- gambar in-between-nya. Makanya Indonesia hanya dikenal sebagai negara in-betweeners. Sekadar jadi pabrik atau tukang,” kata Denny, yang menimba ilmu animasi sejak 1974.

”Pabrik-pabrik” animasi pesanan luar negeri ini memang sudah sejak lama ada di Indonesia. Pada periode 1980 hingga 1990-an ada beberapa perusahaan besar, seperti Asiana Wang Animation di Cikarang, Evergreen di Surabaya, dan Marsa Juwita Indah di Bali. Menurut Gotot Prakosa, Ketua Asosiasi Animasi Indonesia (ANIMA), mengatakan, film-film kartun populer dari Jepang, seperti Doraemon, Crayon Sinchan, Saint Seiya, dan Sailor Moon, sebagian dikerjakan oleh pabrik-pabrik itu.

Pabrik-pabrik animasi itu juga yang turut menelurkan para animator Indonesia, yang kemudian membuat rumah produksi sendiri.

”Dulu kami sering mendapat order film-film kartun Jepang, seperti Doraemon dan Pokemon,” kenang Andi Mrico, yang bersama Johnny, Adji, dan Sukaji adalah ”alumni” Marsa Juwita.

Kemampuan para animator Indonesia kini sudah tak kalah dengan animator dari luar negeri. Andi, misalnya, mengaku bisa membuat film animasi setara serial Avatar: The Last Airbender (film animasi berkualitas 25 gambar per detik) seandainya mendapat modal cukup. Bahkan, para animator tersebut sudah mampu membuat film-film animasi 3D.

Untuk kualitas standar animasi yang setara dengan film-film semacam Doraemon atau Crayon Sinchan, beberapa rumah produksi bahkan sudah mampu membuat dalam skala industri. PT Rumah Animasi Indonesia (RAIS Pictures) di Pondok Pinang, Jakarta Selatan, misalnya, sejak 2003 rutin memproduksi 3-4 episode film animasi berdurasi 24 menit setiap bulan. ”Film-film itu dipasarkan dalam bentuk VCD/DVD dan sejauh ini masih diserap pasar. Bahkan film produksi pertama pun sampai sekarang masih dicetak ulang,” ungkap Setiyo Budi Leksono, Direktur RAIS Pictures.

Sulit modal

Lalu, mengapa animasi belum jadi industri seperti yang diharapkan Denny? Salah satu faktor utama adalah ketidakseimbangan antara biaya produksi dan daya beli stasiun TV di Indonesia. ”Untuk membuat satu episode film berdurasi 24-30 menit, rata-rata dibutuhkan biaya Rp 60 juta-Rp 100 juta. Sementara stasiun TV hanya mau membeli film animasi lokal dengan harga di bawah Rp 10 juta per episode. Mereka lebih memilih membeli film animasi dari luar yang harganya hanya 500-2.000 dollar AS per episode,” papar Denny.

Hambatan kedua adalah faktor permodalan. Menurut Denny, sebenarnya distributor film-film animasi, seperti Nickelodeon dan Disney, menerima film animasi dari mana pun. Akan tetapi, mereka menuntut kapasitas produksi yang tinggi sebagai syarat. ”Mereka menuntut harus ada jaminan kita mampu membuat minimal 52 episode film yang sesuai dengan standar mereka. Nah, modal untuk membuat 52 episode itulah yang tidak ada,” tuturnya.

Denny mengibaratkan, industri animasi Indonesia adalah macan tidur. Potensi yang besar, tetapi belum digarap optimal. Pertanyaannya adalah bagaimana mengubah kultur tukang menjadi kultur macan? (BSW/IVV/IND)

Monday, July 28, 2008

Will Wright: Games that make worlds




Will Wright invented a genre of computer game that involves neither winning nor shooting, yet has generated colossal hits. Among them: SimCity (which earned its publisher $230 million), The Sims, and the forthcoming Spore.

A technical virtuoso with boundless imagination, Will Wright has created a style of computer gaming unlike any that came before, emphasizing learning more than losing, invention more than sport. With his hit game SimCity, he spurred players to make predictions, take risks, and sometimes fail miserably, as they built their own virtual urban worlds. With his follow-up hit, The Sims, he encouraged the same creativity toward building a household, all the while preserving the addictive fun of ordinary video games. His next game, Spore, which he previewed at TED2007, evolves an entire universe from a single-celled creature.

Wright’s genius is for presenting vital abstract principles -- like evolution, differences of scale, and environmental dynamics -- through a highly personalized, humorous kind of play. Users invest themselves passionately in characters they create (with Wright’s mind-boggling CG tools), and then watch them encounter fundamentals of life and nature.

If it all sounds suspiciously educational, well, it just might be. Wright has created not just an irresistible form of entertainment, but an ingenious, original pedagogy. His latest game, Spore, is set for release Sept. 7, 2008.

See more video of Will Wright, from the 2007 New Yorker Conference >>

"Will Wright -- a legend among gamers, the nerd’s nerd, undisputed king of the simulation."
New Statesman

Sunday, July 27, 2008

1001 Inspiration Design Festival @ Senayan City

Source: Aryakuro Blog

Awalnya ke Sen-Ci cuma mo nemenin nyokap reunian temen SMA-nya dulu di SMA 4 Jakarta…Begitu nyampe langsung cabut ke Urban Kitchen, salam-salaman ama temen-temen nyokap gw, sungkeman, saling bermaafan, terus makan ketupat campur opor ayam…lah lebaran ini mah…oke yang bener cuma salamnya doang terus langsung makan dah…dan dari makan di tempat ini gw menemukan 1 fakta penting yang akan menentukan masa depan Anda!!! adeknya Ayushita (nyokapnya kebetulan salah 1 dari sejuta temen nyokap gw yang lagi hadir di situ) mirip pol dah, udah kayak Ayushita versi cowok…eh kurang penting yak??ahaha..maap-maap..

Nah abis kelar makan itu, daripada basi bin expired di Urban Kitchen, gw berdua ama kakak gw mending berkeliling Sen-Ci…nah, terus pas berkeliling itu, ada yang oke yuh kayaknya, rame-rame di bawah, kayak ada pameran gitu, langsung deh cabut ke TKP….

Oh! ternyata ada 1001 Inspiration Design Festival!!

1001 Indie Smiles

Mbak! Mbak! jangan tidur di situ dong!!

Pokoknya eksibisi yang ada hubungannya ama DKV dan desain grafis lah (diselenggarain ama majalah Concept, yang notabene emang majalah desain grafis), ada instalasi patung gitu, ada ilustrasi-ilustrasi kreatif yang dipajang, tapi yang paling outstanding di sini adalah eksibisi Indie Smiles-nya…Maksudnya? jadi sepengertian gw, mirip-mirip ama lomba desain cover hape N***A itu, udah ada format bentuk karakternya, nah entar si desainernya ngasih ilustrasi ke format bentuk karakter tadi…tapi kalo si Indie Smiles ini ada temanya: senyum dan kenapa si karakter itu tersenyum…demen neh gw ngeliat kayak gini-ginian…

Ada yang ide-nya dari karakter yang beredar di masyarakat Indonesia:


Oknum Negara

Bagian belakangnya Oknum Negara

Tante Tika

SinTal alias Sinden Metal

Mbak Jamu Menor

Dan ada juga yang dari tokoh masyarakat:

Kang Soe (Tau lah ya siapa…)

Gie si Mahasiswa (Yah ini ketebak lah ya..ada Jakun-nya juga!)

Agni-Agnian (Apalagi ini, ketebak dahsyat..)

Aa Gym (Yaudalah, eksplisit…)

Kreatif banget kan? sbenernya masih banyak banget tuh, dan kalo sesuai judulnya sih harusnya ada 1001 biji karakter, tapi gw agak kurang rajin yak ngitungin, jadi agak kurang tau juga…tapi yang pasti gw salut banget neh ama yang nge-desain semuanya, stunning!!

1001 Senyum di Senayan

Source: Kompas.com
Jumat, 18 Juli 2008 | 09:27 WIB

JAKARTA, JUMAT - Katanya orang Indonesia suka berantem. Katanya orang Indonesia tak ramah lagi. Fenomena ini akhirnya menggugah beberapa desainer untuk mengajak masyarakat kembali pada karakter yang "Indonesia" melalui seni desain. Mereka ingin mengajak orang-orang Indonesia mulai rajin tersenyum lagi. Senyum menurut mereka adalah output dari kebersihan hati dan kunci dari interaksi.

Senyum inilah yang kemudian diangkat dalam 1001 Indie Smile Exhibition yang menjadi salah satu acara utama dalam rangkaian 1001 Inspiration Design Festival 2008 yang diselenggarakan oleh Digital Studio Creative Education dan Majalah Concept dari tanggal 17 sampai 24 Juli 2008 di Senayan City, Jakarta.

Selain itu, festival ini juga terdiri atas acara utama lainnya, seperti 1001 Portfolio of Digital Studio, launching Komik ALiA, seminar kreatif Fire Up Your Inspiration, dan Creative Workshop.

Menurut Andi S Boediman, salah satu festival publisher yang berasal dari Digital Studio Creative Education, dalam kompetisi senyum Indonesia ini mereka telah mengumpulkan 1001 karya desainer muda se-Indonesia. "Senyum-senyum itu kemudian dituangkan dalam karakter "Peyo". Karakter ini hasil Indonesia," ujar Andi ketika ditemui Kompas.com sebelum acara pembukaan festival di Jakarta, Kamis (17/7).

Peyo sendiri adalah karakter buatan mereka yang khusus dikonsepkan untuk acara ini. Menurut Andi, Indonesia tidak memiliki karakter yang cukup terkenal, sedangkan negara lain memiliki banyak karakter yang sudah mendunia dan dapat menghasilkan jutaan bahkan miliaran dollar setiap tahunnya. "Karakter itu potensial untuk menghasilkan revenue yang tinggi dalam suatu produk. Mengapa pilih Peyo karena nama itu paling Indonesia," tandas Andi.

Desain-desain pada karakter Peyo sangat unik. Ada gambar para politisi, profesi-profesi, karakter, dan hal-hal lucu lainnya yang semuanya tersenyum. Andi dan kru-nya berharap hasilnya dapat membawa inspirasi bagi masyarakat yang melihatnya hingga dapat menularkan kedamaian melalui senyum kepada orang lain di mana pun dirinya berada.

Pemenang karakter Peyo dengan makna senyum yang terbaik akan diumumkan pada hari Minggu ini. "Nantinya desain senyum terbaik tidak hanya akan dipublikasikan dalam karakter Peyo. Kami sudah mencoba menggaet beberapa pelaku bisnis untuk mengadaptasinya. Misalnya, provider menjadikannya desktop screen handphone," ujar Andi.

Tentu saja, selain Peyo, peluncuran Komik ALiA paling ditunggu-tunggu pada hari Sabtu ini pukul 13.00. Komik ALiA adalah hasil kolaborasi dari para insan komik Indonesia, majalah Concept, dan penerbit independen yang memiliki mimpi untuk menerbitkan komik Indonesia secara berkualitas.


Caroline Damanik
Sent from my BlackBerry © Wireless device from XL GPRS/EDGE/3G Network

Sunday, July 20, 2008

1001 Inspiration Design Festival at Blog

Source: Customxait


Some stuff from 1001 Inspirational Design Exhibition 2008

held by 17 until 24 July on Senayan City, jakarta

theres a collective character design competition too, even less than 1001 entries but it collected more than 920 artworks.

and heres some flicks from the event.

Peyo Submission

my char’ with other entries

Heres my submission called

Motherland (Ibu Pertiwi)

Kitty Felicia - 20 Finalis - Best Barongan Category

And Heres Kitty Felicia Character called

“Si Kenyem”

one of 20’s Finalist and got the best nominee character design

for Barongan Category, Congratz Big Sista…

1001 Inspiration Design Festival in the News

Source: Kompas


Pengunjung melihat hasil indi smile character contest yang dipamerakan di 1001 Inspiration Design Festival di Senayan City, Jakarta, Sabtu (19/7). Festival desain yang berlangsung hingga 18 Juli tersebut untuk merangsang kreativitas anak muda dan memasyarakatkan tokoh kartun Indonesia. Kompas/Lucky Pransiska (UKI) 19 Juli 2008





Pengunjung menyaksikan karya seni yang dipamerkan di 1001 Inspiration Design Festival yang diselenggarakan Digital Studio Creative Education di Senayan City, Jakarta Pusat, Kamis (17/7). Acara ini merupakan even eksebisi karya desain dan kreatif terbesar di Indonesia yang berlangsung hingga 24 Juli mendatang. Kompas Images/Fikria Hidayat (FIA) 17-07-2008



1001 Inspiration Design Festival Photo


1001 Inspiration Design Festival Opening


Opening sirene by Andi S. Boediman, Djoko Hartanto, Mariana (HP) & Mr. Sim (GM Senayan City)


Chris Lie interviewed by Qtv


Djoko Hartanto interviewed by OChannel


Hanny Kardinata interviewed by Dina Danubrata


Wedha


1001 Inspiration Design Festival Opening


Rully Rochadi, Bambang, Bagiono & Peni Cameron


Kavin Noe'man, Irvan A. Noe'man, Nico Pranoto


Nico Pranoto & Mendiola B. Wiryawan


Arifin, Rudy Tjahjadi & Trisakti Dean – Yusuf Effendi


Digital Studio Exhibition at 1001 Inspiration Design Festival


Digital Studio Exhibition at 1001 Inspiration Design Festival


Murdhi & Gianto Peyo


Peyo – 1001 Indie Smile Character


Djoko Hartanto & Andi S. Boediman holding AliA special edition


1001 Inspiration Design Festival display


Indie Smile display at 1001 Inspiration Design Festival


Billy Blue at 1001 Inspiration Design Festival