Source: Customxait


Source: Agung Pramudya's Blog


Source: Kompas
Industri Kreatif Punya Potensi Besar
Jakarta, Kompas - Industri kreatif berpotensi besar untuk dikembangkan. Terlebih lagi saat ini terdapat kecenderungan gaya hidup yang memberi peluang betapa kemasan serta merek memberi nilai tambah tinggi.
Berbagai karya desain dipamerkan dalam acara "1001 Inspiration Design Festival" di Senayan City, 20-25 April 2007. Acara itu merupakan kerja sama British Council, majalah Concept, dan Digital Studio-School of Communication.
Industri kreatif dimaksud melingkupi bidang yang cukup luas, mulai dari muatan siaran televisi, film, animasi, desain produk, fashion, hingga situs internet. Seperti dikatakan Yudhi Soerjoatmodjo dari British Council, Jumat (20/4), sekitar 50 persen konsumsi di seluruh dunia berasal dari industri kreatif. Di Inggris, industri kreatif menjadi sektor kedua terbesar setelah perbankan dan menyerap banyak tenaga kerja. Industri kreatif berpotensi untuk dikembangkan dan trennya akan semakin menguat.
"Berbeda dengan industri berbasis minyak bumi atau sumber daya alam lain yang rentan habis jika dieksploitasi, industri kreatif justru tidak akan habis dan semakin berkembang," katanya.
Djoko Hartanto dari majalah Concept menambahkan, kreativitas menambah nilai dan mempertinggi harga karena di dalam desain ada unsur ide, emosi, dan inovasi. Industri kreatif juga tidak selalu identik dengan padat modal. "Tidak selalu dibutuhkan modal besar untuk memulainya karena yang terpenting kreativitas dan kompetensi sumber daya manusianya," kata Djoko.
Director Digital Studio College Andi S Boediman mengatakan, sebetulnya potensi industri kreatif di Indonesia sangat besar. Terlebih lagi terdapat berbagai daerah dengan berbagai budaya yang memperkaya dan melatarbelakangi kekhasan desainnya.
Hanya saja, permasalahannya masih kurang jaringan atau networking. Dia mengatakan, setiap tahunnya terdapat sekitar 2.500 lulusan dari sekitar 50 jurusan desain komunikasi visual di berbagai lembaga pendidikan, sementara peserta baru mencapai 30.000 orang setiap tahun. (INE)
Alami sendiri bagaimana rasanya jadi pemecah rekor dunia. 1001 cover majalah yang berbeda dalam satu edisi? Mengapa tidak? Concept bikin gebrakan lagi dan kali ini menembus rekor dunia! Lihat karya-karya terbaik desainer muda Indonesia dan temukan siapa-siapa saja yang berhasil masuk ke dalam Hall of Fame pemecah rekor dunia ini dan bukan gak mungkin kamu adalah salah satunya. Jangan cuman hadir ... Ikut dan alami sendiri rasanya pengalaman sekali seumur hidup jadi pemecah rekor dunia ...
Kalo kamu kepingin tahu lebih banyak soal komputer grafis, seluk-beluknya, serta tips dan trik jitu maka kamu gak boleh melewatkan Digital Studio Fair. Simak karya-karya terbaik 50 orang jebolan Digital Studio College dari berbagai jurusan; Desain Grafi s, Advertising, Animasi, Multimedia dan Film.
Saksikan 160 karya terbaik 20 desainer top Inggris secara langsung! Sebut saja Zaha Hadid, Tom Dixon, Jamie Hewlett, Rockstar Games, dan masih banyak lagi! ‘Love & Money’ sendiri adalah pameran yang diselenggarakan oleh British Council dan telah berkelana di seluruh dunia; Jepang, Hong Kong, Indonesia, Malaysia, Thailand, Australia, dan New Zealand. dan kini hadir di Indonesia. Temukan indahnya karya-karya multi disipilin desain hasil kolaborasi antara seni dan komersial.

Program Lokomotif Adgi, dirancang oleh Danton Sihombing
duduk: Iwan Ramelan (Fortune), Djodjo Gozali (Fortune), Gauri Nasution, Priyanto S. (ITB) dan Irvan A. Noeman (BD+A). Danton Sihombing sebagai Ketua Adgi berdiri di antara mas Pri dan kang Irvan.
Akhirnya pencerahan yang kamu nanti-nantikan itu hadir! Inspiration Light Up: Secrets from the Creative Maven dijamin akan membuat listrik dalam otak kanan kamu meloncat-loncat bahkan meletusletus layaknya petasan cina atau senapan mesin.
Inspiration Light Up berlangsung selama 3 hari di Crowne Plaza, Jakarta dan mengundang pembicarapembicara kondang dari luar dan dalam negeri. Sebut saja Birger Linke (Creative Director JWT Vietnam), Phil Mitchell (Infinite Frameworks), Patrick Cheah (DPC Design), Arief Budiman (Petak Umpet), Chirstian Tirtha & Lucas Ho (Progres Animation), Calvin Kizana (Elasitas), Djoko Hartanto (Concept), Andi S. Boediman (Digital Studio)
Di hari yang ke-3, Adobe juga akan berlaga di Seminar ini. Yang seru adalah seminar Adobe ini gratis! Ya, gratis untuk 100 orang pendaftar pertama. Jadi tunggu apa lagi? Segera daftarkan diri untuk pemesanan tiket dan bersiaplah untuk menerima pencerahan kreatif itu.
After its’ success at the Pelita Harapan University Design Week, the Love and Money exhibition is coming to Jakarta’s newest and most stunning mall, Senayan City.
Taking part in the 1001 Inspirations Design Festival, this once-in-a-lifetime exhibition feature over 160 designs items –from animations to architecture, from furniture to real scooter, and from computer games to jewellery.
It took over three containers to bring it to Indonesia.
Organised in partnership with the Digital Studio College and Concept Magazine, the exhibition showcases 20 of the most globally well-known and commercially successful UK designers. This includes Jamie Hewlett (creator of the Gorillaz), Rockstar Games (Grand Theft Auto), architect Zaha Hadid, designer Tom Dixon (Habitat), and fashion’s dynamic duo Eley Kishimoto.
The exhibition brought to Indonesia the most tangible proof of UK’s expertise and experience in developing a world-class creative economy and highlights the culmination of BC Indonesia’s 2006-2007 creative industry programmes.
Today, the creative industry is the second largest sector in the UK after banking, contributing £ 121.6 billion per year to the country’s economy.
The exhibition’s exciting five day programme includes talk show with Eley Kishimoto, the Digital Studio exhibition, and a Debenham’s fashion run. The 1001 Cover Concept competition, meanwhile, is to be awarded a prize by the Indonesian Record Museum as the only magazine featuring the most cover designs within one edition.
The festival and UK exhibition is garnering strong government and industry support with sponsorship by the Department of Trade, Indonesian Design Power, Chevrolet, Metro TV, Adobe, Senayan City, Hewlett-Packard, and various professional and media partners.
Designers exhibiting in Love & Money:
Source: Surabaya Design Forum
Surabaya 14 September 2006 'nov' mendapat kesempatan hadir di Seminar yang digabung dengan launching ADGI chapter Surabaya. Acara dihelat di Mandarin Oriental Hotel / Hotel Majapahit dengan menghadirkan nara sumber dan parade poster finalis ADGI dengan mengambil tema Light Up The Spirit !.
Seminar terbagi membagi beberapa sesi, dengan 3 orang speaker :
Overall acara berlangsung sangat hidup dan menarik, dari kapasitas maksimal ruang Balai Adhika full dengan semua peserta. Pertama kali setiap peserta harus registrasi ulang+mendapatkan kit dari para sponsor, lalu memasuki lorong parade poster dilanjutkan dengan pemotretan langsung untuk sertifikat.
Mr. Lans Brahmantyo sebagai speaker yang mendapat kesempatan pertama membawakan materi "Creativity that communicates" dengan membawakan beberapa portfolio diantara dari Istana Kepresidenan RI yaitu Rumah Bangsa Project. Dalam materi inti yang disampaikan adalah bagaimana sebuah karya creative tetap memiliki sebuah message atau mampu berkomunikasi.
| Inventive | Getting the message across | |
| Imaginative | ||
| Experimental | ||
| Artistic | ||
| Expressive | ||
| Innovative | ||
| Inspiring | ||
| Visionary | ||
| Enterprising | ||
| Resourcefull | ||
Selanjutnya disambung dengan coffe break, hhmmm... karena jumlah peserta cukup banyak untuk sesi yang satu ini dan makan siang nanti para peserta harus berjubelan, mengantri untuk mendapat camilan, kopi atau teh. Walalu begitu nampaknya semua tetap kebagian bahkan ada yang terlena sampai lupa bahwa waktu sudah memasuki saat Mr. Sakti Makki sudah akan memulai presentasinya.
Dari pengamatan 'nov' ' Building powerful brand expression through strategic branding program' mendapat perhatian serius dari peserta. Mr. Sakti Makki benar-benar sakti, dengan membawakan case study project rebranding Bank BTPN yang saat ini sedang ditangani oleh MakkiMakki Branding Consult. Proses-proses rebranding yang disampaikan sangat detail dan sayangnya materi tidak dapat dishare karena memang masih bersifat confidential coz project masih belum usai. Inti dari presentasi ini, dalam sebuah proses branding terdapat 3 aspek penting yang harus dilakukan dengan baik, yaitu Perilaku, Ekspresi dan Komunikasi dannnn untuk proses Ekspressi dan Komunikasi brand hampir dipastikan selalu terkait dengan aspek Desain.
Pengalaman Coffe Break pada jam sebelumnya nampak beberapa peserta cukup bisa belajar, begitu mengintip lunch sudah siap mereka curi start duluan agar tak perlu berdesak-desakan antri lunch.
Sebagai speaker terakhir Mr. Hermawan Tanzil ( LeBoYe) membawakan 'Inside Graphic House-Inspiration+Mind+Soul' sebuah presentasi yang menarik dengan membawakan beberapa portfolio yang telah mendapatkan penghargaan international. Inti dari yang ingin disampaikan adalah, Sebuah desain yang bisa membuat hidup lebih indah, kaya dan berarti, 'Design Is My Life - Hand, Brain, Heart'.
Dalam setiap sesi speaker selalu diberikan kesempatan tanya jawab yang benar2 dimanfaatkan peserta dengan baik. Sebagai akhir dari rangkaian acara adalah pembagian doorprize dari para sponsor + launcing ADGI Chapter Surabaya.
Awalmula ADGI Sby ini adalah komunitas desainer surabaya dengan initial IDEAS yang telah lama vakum demikian juga dengan ADGI Chapter Jkt yang pernah beberapa belas tahun vakum juga, namun alhamdulillah setelah direvitalisasi bangkit lagi dengan kegiatan-kegiatan yang sejatinya memang diperlukan para designer.
Dalam sela-sela seminar 'nov' mendapat kesempatan ngobrol gayeng dengan salah satu presidium dan team revitalisasi ADGI Andi S. Boediman.
Nov : Pak opo sih resep membentuk komunitas dan menjaga agar tetap hidup
ASB : Cuma 1 ..!! Komitmen..!!! untuk membentuk, menumbuhkan dan menciptakan komitmen itu juga butuh waktu. Kalau satu hal itu dapat dilakukan yang lain bisa jalan sendiri.
Nah itu mungkin PR besar buat SDF, ADGI atau komunitas apapun agar tetap bisa solid dan hidup.
Sipapapun dan apapun bentuknya semoga dapat saling mengisi, memberi, menciptakan kondisi yang baik bagi para designer. Light Up The Spirit !!

Ridwan Kamil (1971, architect) is Principal of Urbane, an architecture and urban design studio in Bandung serving international design clients in Bahrain, Hong Kong, San Francisco, and Singapore. His current project is the super-block Rasuna Epicentrum in Jakarta. Ridwan is the Indonesian winner of IYCEY Design Award 2006. He is currently developing his Good Design is Good Business project in partnership with the British Council.
Andi Surja Boediman (1970, graphic designer) pursued film and multimedia production at the New York Film Academy and the Academy of Art College, San Francisco, USA. Starting his career in 1995/96 as a 3-D animator and Art Director, he went on to establish the successful Digital Studio Workshop in Jakarta in 2000. He is currently member of the presidium of the Indonesian Professional Graphic Design Association (ADGI).
Arief Budiman (1975, graphic designer) is currently Managing Director of Petakumpet in Yogyakarta. A graduate of Visual Communication Design from the Indonesian Arts Institute, he started the advertising agency with college friends and two computers. The company has since developed from a small graphic design boutique into a full-fledged professional creative company with a staff of 28.
Deny Willy (1975, product designer) is Director of the Apikayu corporation, which brings together innovation from design schools with the skill and local-material knowledge of traditional artisans. In 2004 the Apikayu became a legal business entity through the support of the Young Entrepreneur Start-Up programme (YES). The firm provides training and marketing service for SMEs, developing natural materials once-considered waste into saleable contemporary furniture and handicraft products.
Djoko Hartanto (1972, graphic designer) is principal and publisher of the graphic design magazine Concept since 2003. He obtained a Master’s Degree from the University of Technology and an Advanced Diploma in Graphic Design from the Billy Blue School of Graphic Arts in Sydney, Australia. He has worked in a number of companies in Australia and Indonesia as Business Partner and Art Director.
Kusprianto Oky (1977, architect) graduated from the Technical Faculty of the Parahiyangan Catholic University. He is co-founder and Principal Architect at APTA and Studio Habitat in Bandung. His studio collaborates with Habitat for Humanity in providing well-designed house for the underprivileged. Kusprianto’s love of books and art drove him to establish the Rumah Buku --a café, library and discussion space that also screens independent films.
Leonard Theosabrata (1977, product designer) is creator of the Accupunto line of chairs, which won Germany’s Red Dot Design Award (2003), Italy’s Well tech Award (2006) and was exhibited at the Museum of Science and Technology during the Milan Fair 2006. A graduate of the Arts Centre College of Design Pasadena, USA, he is the force behind the DForm forum of young product designers and architects.
Wahyu Aditya (1980, interactive design) is Founder, President Director, Teacher, Principal, Animator, and Creative Designer of Hello; Motion Corporation. Graduating from Sydney’s KvB Institute of Technology interactive multimedia and animation school, he went on to work as freelance comic illustrator and TV animator. His brainchild, the 8-monthly Hello; Fest educates schools and universities students about the art of motion picture.
Wisman Tjiardi (1974, interactive design) is Director of PT. Netpolitan that produces e-learning, multimedia, and portal development. A graduating of the University of Applied Science in Aachen, Germany, he honed his skills as web designer and creative head at leading German multimedia companies. One of his company’s innovative designs is the Character Library for Rapid e-Leaning Courseware Development.
Pemenang di tahun 2006 adalah mas Ridwan Kamil.Source: Imajineo
IDE AWARDS Ide Awards adalah kompetisi kreatif Mahasiswa dengan bingkai nasionalisme. Tujuan lomba ini sangat mulia, menggali kembali nasionalisme yang dikomunikasikan melalui ide-ide kreatif. Lomba ini dibagi tiga tema, yaitu:

Indonesia has lower ice cream consumption than many other countries. In order to educate the market, Wall’s starting at the very early age. Through Paddle Pop, its flagship brand for kids, they build brand stature through various creative strategy, such as creating adventure story for Paddle Pop Lion mascot. Its rainbow colors and fun flavors are a hit! The Paddle Pop Lion is the friendly face of fun and adventure and this ice-cream rates the fastest selling and most popular ice-cream among school-going children.
Conventional clear plastic packaging soon replaced by a new packaging design. A design study is conducted considering Kusuka will compete with other products on hypermarket shelves. Hypermarkets are becoming increasingly important for the consumer retail business. Also known as 'non-selling floors’, these environment allow consumers to browse unaided through rows of boxes, following a 'scan-and-choose' purchase procedure. This distribution model has intensified the packaging design role within a marketing strategy. Rather than merely protecting products, packaging, together with the supporting point of sale and retail solutions, has become the means to sell them, the 'silent salesman' that triggers consumers in their selection process.
Packaging Design as Brand Strategy
One of the challenges in mixed juice is that they don’t blend very well. Therefore an opaque bottle is used surrounded by nicely designed label.Source: http://aergot.wordpress.com/2008/02/21/separuh-nafas-industri-animasi-lokal/
Posted by algooth putranto on February 21, 2008
Dalam bisnis hiburan, animasi adalah tambang duit yang menjanjikan. Tidak hanya untuk industri layar lebar tapi juga layar kaya. Lihat saja saat pasar heboh dengan dua berita besar seputar akuisisi Dreamworks SKG dan Pixar.
Tercatat untuk mendapat sebagian saham Dreamworks SKG milik Steven Spielberg, George Soros harus merogoh duit hingga US$1,6 miliar. Sedang Walt Disney harus mengelontorkan dana senilai US$7,4 miliar untuk mengakusisi Pixar milik Steve Jobs.
Dreamworks SKG adalah pembuat film Antz, Shrek dan Shrek II yang luar biasa berhasil. Sedangkan Pixar memproduksi Toy Story, Finding Nemo dan The Incredibles yang sukses besar.
Uang yang berputar di industri ini mencapai ratusan juta dolar. Situs boxofficemojo.com menyebutkan film animasi buatan Disney tahun 1937, White Snow and Seven Dwarfs dengan modal US$1,5 juta bisa meraup untung sampai US$186 juta.
Bandingkan dengan animasi buatan Dreamworks SKG atau Pixar yang bisa meraup pendapatan antara US$230 juta hingga US$921 juta.
Ini belum termasuk kekuatan lain seperti Warner Bros dengan Pokemon, Fox dengan Ice Age dan kekuatan tradisional di luar AS seperti Eropa dan Jepang. Dan kekuatan baru seperti China, Korea dan India.
Lalu bagaimana Indonesia? Jawabannya bisa ditebak. Sejak lama Indonesia kondang hanya sebagai gudang tukang di industri film animasi Jepang dan AS.
Data Ainaki (Asosiasi Industri Animasi dan Konten Indonesia) mencatat nama-nama gudang animator Indonesia a.l Frozzty Entertainment, Tunas Pakar Integraha, Castle Production, Mirage, Pustaka Lebah, Jogjakartun, Mrico, Animad Studio, Jelly Fish, Bulakartun, Griya Studio, Bening Studio, Studio Kasatmata, Asiana Wang Animation, Bintang Jenaka Cartoon Film, Red Rocket, Infinity Frameworks dll.
Tak sedikit diantara banyak nama itu yang kini sudah tutup setelah mengeluarkan karya perdana mereka. Tetapi setidaknya tahun lalu masih sempat muncul serial animasi televisi, Sega Nusantara karya Mahaka Visual Indonesia yang diganjar ABU CASBAA Unicef Child Right Award 2005.
Sebelumnya juga muncul film animasi tiga dimensi layar lebar Homeland hasil kerjasama Visi Anak Bangsa dan Studio Kasatmata. Lalu gelar art director terbaik festifal film animasi Korea Selatan untuk film Cindelaras karya Bening Studio.
“Masalah utama dari industri animasi kita adalah distribusi. Dengan kata lain industri animasi kita belum sepenuhnya mendapat komitmen penuh dari pebisnis lokal seperti televisi dan layar lebar,” ujar Presdir Digital Studio, Andi S. Boediman.
Selain itu, menurut penulis buku Photoshop Master Class, Photoshop Special F/X dan Color Finder itu pelaku industri film lokal kurang memiliki kemampuan membaca peluang pemasaran.
Satu contoh harga serial animasi legendaris Doraemon, dengan durasi 24 menit dihargai US$1.000 per episode. Anda bisa hitung berapa uang yang diterima produsen film tersebut sejak film ini diputar di RCTI sejak tahun 1990.
Hal senada diungkapkan desainer grafis dan animator senior, Tutu alias AG Airlangga yang bercermin pada kurang berhasilnya film animasi-konvensional Janus: Prajurit Terakhir yang disutradarai Chandra S Endroputro.
“Saat itu, para jagoan animasi kita gagal memenuhi tenggat waktu dari jaringan bioskop Studio 21. Akibatnya Janus diputar harus bersamaan dengan Finding Nemo. Tahu sendiri bagaimana,” ujar alumnus desain grafis ITB itu.
Finding Nemo adalah film animasi buatan Pixar yang berkisah tentang ikan badut. Film berbiaya produksi US$40 juta ini adalah animasi paling rumit yang dikerjakan anak usaha Apple Inc. Dari seluruh dunia, Nemo berhasil meraup pendapatan hingga US$865 juta.
Selain itu, lanjut seniman grafiti itu, penyandang dana di dalam negeri masih seringkali ngeri melihat dana produksi film animasi yang super mahal dibanding dana untuk membuat film dengan bintang manusia.
Pada sisi lain, ganasnya pembajakan peranti lunak di dalam negeri sebetulnya mmberi keuntungan dibanding kawan-kawan mereka di luar negeri. Boleh disebut keuntungan sekaligus kerugian.
“Diakui atau tidak banyak anak desain termasuk saya yang kenal software animasi dari produk bajakan. Kerugiannya produk animasi lokal kita juga rentan dibajak,“ujar Aji Bekti, Art Director PT Dentsu Indonesia.
Kurang dihargai
Dibandingkan Jakarta, industri ini justru berkembang di daerah. Sebut saja almarhum PT Marsha Juwita dan PT Atelier Karo di Bali yang sejak lama mengerjakan gambar antara (in between) dan gambar latar (back ground) film Doraemon dan Candy-Candy.
Meski di Jakarta ada banyak studio mapan seperti Bintang Jenaka Cartoon Film, Asiana Wang Animation hingga Mahaka Visual Indonesia. Namun gebrakan animasi nasional justru lagi-lagi dimulai di daerah.
Sebut saja saat Red Rocket Animation, Bandung memproduksi serial film fabel Cerita Aku dan Kau hasil kerjasama dengan PT Nestle Indonesia.
Selain film animasi, mereka juga memproduksi banyak iklan animasi hingga filler pergantian acara di Trans TV, Metro TV dan Seputar Indonesia RCTI.
“Kami juga memproduksi film Pok! Pok! Pok! untuk Malaysia tahun 2001 dan sempat dipercaya mengerjakan order iklan dari AS,” kata Risty A. Maskun, produser utama Red Rocket Animation.
Selain Red Rockets, ada unit animasi Manajemen Qolbu (MQ) TV pimpinan Dudung Abdul Gani. Perusahaan yang berdiri tiga tahun lalu itu telah menghasilkan film animasi Jang MQ dan Rai Raka.
Film kartun anak Islami ini selain tayang di MQTV juga muncul TV7 dan Lativi selama masa Ramadhan.
Sayang meski diakui banyak pihak produk animasi lokal mengagumkan, nasib produksi animasi Indonesia umumnya menyedihkan. Pasalnya, hasil karya lokal tak dihargai dengan layak.
“Orang kita masih belum berpikir kalau produk animasi itu paduan seni dan teknologi. Ada proses kreatif yang harus dihargai dengan wajar,” ujar AG Airlangga dari Splat! dan Animagic, yang menggarap iklan animasi Kondom Fiesta.
Senada dengan AG, Risty menyebutkan klien Indonesia lebih percaya untuk membayar lebih mahal pada perusahaan luar negeri dibanding ke perusahaan lokal. “Animasi asing paling hanya 20%-30% tapi uang yang mereka dapat ratusan kali lipat dari yang kami terima.” .
Tentu saja hal itu berimbas pada pendapatan yang diperoleh animator lokal. Pimpinan MQTV Dudung Abdul Gani membandingkan pendapatan animator lokal dan Singapura.
Dengan kualitas kerja yang sama, animator lokal hanya dihargai antara Rp900.000 hingga Rp2,5 juta/bulan bandingkan dengan gaji animator asal Singapura yang mencapai Rp25 juta/bulan.
Kondisi ini makin diperparah akibat praktik ‘pelacuran’ alias banting harga gila-gilaan produk animasi yang dilakukan oleh perorangan di bawah harga standar yang dibuat perusahaan animasi.
AG Airlangga memberi gambaran untuk pembuatan iklan animasi Kondom Fiesta versi bunglon yang berdurasi 15 detik dibutuhkan dana Rp2 juta per detik. “Sekilas mahal. Tapi untuk bikinnya. Susah!”
Risty menambahkan, untuk membuat satu detik gambar gerak dibutuhkan sedikitnya 25 gambar, animator kadang harus tidak tidur selama dua malam bila sedang menggarap proyeknya.
“Sebenarnya saya senang kalau makin banyak orang Indonesia jago animasi, terbukti kualitas karya perusahaan dengan individu tidak jauh beda. Tapi ya, jangan jatuhkan harga gila-gilaan. Bersaing sehat lah,” ujarnya.
Kondisi ini langsung dirasakan industri animasi di Yogyakarta seperti Studio Bening, Studio Urek-Urek, Studio Kasatmata dan Studio Jutahira yang turun hampir 90%.
Menurut Risty hal itu karena industri animasi seolah ayam tak berinduk. Sejak awal tidak ada instansi yang menaungi sekalipun pemerintah tahu nilai ekonomi di dalamnya cukup tinggi.
Bandingkan perlakuan pemerintah China dan India yang mewajibkan agar perbankan memberi pinjaman tanpa agunan dan bebas bunga pada perusahaan animasi. Kalau terus begini mimpi kejayaan industri animasi Indonesia rasanya makin jauh saja.