Thursday, October 22, 2009
Geliat Telkom Gerakkan Dunia Media, Informasi dan Digital Entrepreneur
Telkom akhirnya memperingati hari jadi pertamanya di usia ke 153, yakni 23 Oktober 2009, sebuah tanggal bersejarah atas pengoperasian layanan jasa telegrap elektromagnetik pertama, menghubungkan Batavia (Jakarta) dengan Buitenzorg (Bogor) pada tahun 1856.
Telkom melakukan transformasi aspek-aspek fundamental yang diekspresikan melalui perubahan corporate identity dan mengukuhkan diri sebagai satu-satunya perusahaan telekomunikasi terintegrasi di Indonesia yang mencakup Telecommunication, Information, Media dan Edutainment–T.I.M.E.
Sambil menunggu puncak acara sosialisasi logo baru Telkom oleh Menkominfo, berdiri di samping saya adalah Agung Adi Prasetyo, CEO Kompas Gramedia yang memberikan kesan dengan komentar cukup dalam, “bak raksasa menggeliat, jika ia bergerak, apapun bisa terjadi.”
Banyak yang belum paham dengan strategi Telkom yang dari telephony dan broadband tiba-tiba menjadi perusahaan dengan konsep T.I.M.E (Telecommunication, Information, Media dan Edutainment). Apakah ini hanya sekedar jargon dan bagaimana wujudnya?
Mengamati konsep T.I.M.E, adalah membayangkan sebuah masa depan tumbuh kembangnya industri kreatif digital tanah air. Bagaimana tidak, dengan menyediakan fasilitas infrastruktur, menjaring ide-ide segar sebagai bagian dari proses co-creation, menjalin komunitas dan karya kreatif ke dalam mata rantai proses bisnis, maka benar-benar akan menjadi momentum di mana infrastruktur yang disediakan tak hanya akan dijual semata-mata sebagai komoditi. Tapi justru infrastruktur disediakan untuk menawarkan value added melalui dengan konten, media dan informasi yang bernilai ekonomi.
Prinsip Keadilan Distribusi Konten
Memahami supply chain management mengandaikan sebuah efisiensi dalam rantai distribusi. Melihat kondisi geografis Indonesia dengan wilayah luas dan gugus kepulauan, menguasai rantai distribusi adalah hal penting dengan di dalamnya harus tersedia infrastruktur pendukung.
Transportasi misalnya, insfrastruktur pendukung dalam rantai distribusi ini harus memenuhi persyaratan efektifitas dan efisiensi dengan memenuhi tuntutan seperti fleksibilitas, ketepatan jadwal, daya jangkau, faktor biaya, dan kesesuaian dengan apa yang didistribusikan. Peritel seperti Indomaret dan Alfamart, adalah contoh terapan supply chain management yang setidaknya sukses menyiasati rantai distribusi.
Bagi perusahaan telekomunikasi seperti Telkom, infrastruktur yang harus disediakan tentu saja yang berhubungan dengan distribusi produk komunikasi dengan tanpa mengabaikan setiap pihak terkait dalam rangkaian produk dan layanan yang akan didistribusikan.
Pada acara World Media Summit yang dihadiri eksekutif top media dunia, Presiden Hu Jintao mengungkap bagaimana campur tangan Negara dalam pengembangan visi media di China. Mereka siap membelanjakan USD 7,17 miliar untuk ekspansi multi medianya.
Rupert Murdoch, boss Wall Street Journal/WSJ, melihat hubungan industrial yang tidak sehat belakangan ini, di mana distribusi media/konten dianggap menguntungkan penyedia infrastruktur saja. Padahal ia memiliki keyakinan positif tentang era digital melalui ungkapan, “Within ten years, I believe nearly all newspapers will be delivered to you digitally.”
Jadi yang dibutuhkan media adalah prinsip keadilan dalam distribusi. Ini adalah peran Telkom sebagai penyedia infrastruktur distribusi untuk menjawabnya.
Peran Strategis Telkom
Kini, penting bagi semua untuk memahami bahwa media adalah konten yang memerlukan distribusi, dan kertas bukanlah jawabannya. Konvergensi media dan telekomunikasi terletak kepada perubahan value chain di mana distribusi konten utamanya akan melalui infrastruktur telekomunikasi. Ini adalah PR besar bagi perusahaan sekelas Telkom untuk memberikan solusi distribusi ini, artinya perusahaan telekomunikasi akan menjadi platform bagi distribusi informasi, media dan konten.
Ibarat bisnis pipa, saat ini perusahaan telekomunikasi sedang dalam proses tak hanya ikut bisnis pipa, namun masuk lebih dalam ke isi pipa melalui kemitraan strategis dengan para pelaku industri kreatif digital untuk mengisinya, infrastruktur berupa playground disediakan dan para pelaku industri kreatif digital adalah para pemainnya.
Jadi tak ada alasan mengatakan bahwa ketersediaan infrastruktur akan menjadi kompetitor yang akan segera menelan pelaku bisnis dalam mata rantai bisnis T.I.M.E . Justru, dengan berbagai media yang disediakan, terbuka peluang usaha padat karya bagi UKM atau insan kreatif cekak modal, dan kerjasama dengan distributor serta provider tetap terjalin baik. RBT misalnya, dengan adanya infrastruktur yang tersedia, maka artis, label, pencipta lagu adalah pihak-pihak yang akan mengisi.
Begitu juga dengan pengembang software, game, animasi bahkan penerbit media cetak atau penerbit buku yang akan melakukan transisi layanan kontennya ke online. Laku Telkom, akan membangkitkan industri kreatif digital dalam negeri, di masa depan, bisnis konten dan animasi bukan tidak mungkin akan menjadi idola.
T.I.M.E , adalah konsep media dengan ketersediaan infrastruktur sebagai fasilitas yang disediakan. Di dalamnya harus ada yang mengisi, dan Telkom berada di level distribusi. Teman-teman media cetak atau praktisi pers harus merapikan barisan untuk bermitra dengan perusahaan telkom atau sebaliknya, dengan peran sebagai news and content organization. Begitu pula dengan animator, advertising, kreator game, pengembang software.
Problem di dunia pendidikan nasional Indonesia misalnya, adalah terbatasnya distribusi guru-guru berkualitas. Nah, dengan aplikasi education 2.0 misalnya, problem itu teratasi. Bagi pelaku ritel kecil, akan mendapat kemudahan dengan hanya berlangganan melalui infrastruktur data yang sudah diimbuhi perangkat lunak point of sales. Bagi pecinta gaya hidup, tinggal berlangganan kanal game, musik dan film yang bisa diunduh kapanpun, di manapun dan harga terjangkau.
Sederhana, murah dan mudah, bukan?
Indigo Fellowship lahirkan Digitalpreneur
Sebagai program CSR untuk mendorong tumbuhnya industri kreatif digital di Indonesia, Telkom dengan program Indigo Fellowship 2009 ingin menciptakan Digitalpreneur. Indigo fellowship, sebagai inisiatif strategis Telkom, menjadi jawaban bagi keinginan pelaku industri kreatif digital untuk berkompetisi secara sehat untuk mewujudkan gagasan produk dan layanan ke publik. Pemenang mendapat modal untuk bekerja dan kesempatan mengikuti program inkubasi. Lebih dari itu, dengan menjadi fasilitator bagi industri kreatif digital di Indonesia, maka akan menghidupkan rantai proses bisnis industri kreatif berkesinambungan (sustainable).
Sustainabilitas atau kesinambungan yang akan dicapai, tentu saja melalui proses panjang yang harus dipahami oleh seorang entrepreneur di bidang ini, dalam berbagai tahapan. Pertama adalah tahap pengembangan dari ide menjadi solusi produk atau layanan, yang mana mereka diharapkan memiliki dana cukup untuk melakukan eksperimentasi terhadap model bisnis dan layanan. Setelah selesai tahapan ini, mereka perlu memiliki jalur distribusi atas produk atau layanan yang dikembangkan, sampai akhirnya akan tercapai model bisnis yang sustainable dan scalable.
Program Indigopreneur yang dilakukan pertama kali melalui Indigo Fellowship 2009, adalah membuka kesempatan bagi mereka yang baru memiliki gagasan ataupun model bisnis awal untuk dikembangkan. Para digital entrepreneur ini ditantang untuk membuat rencana bisnis yang konkrit dan bisa diimplementasikan. Selain fasilitas finansial sebagai seed capital atau modal awal bagi para pemenang lomba, mereka diberikan inkind facility pada saat mereka diinkubasi.
Evaluasi berikutnya membuka kesempatan bagi mereka untuk mendapatkan potensi second round investment atau investasi tahap berikutnya, di mana kesempatan distribusi layanan melalui resource Telkom dibuka. Jadi untuk menciptakan mata rantai produk dan layanan yang sustainable, kini para entrepreneur langsung mendapatkan pijakan tanpa harus membangunnya sendiri.
T.I.M.E , Social Company?
Dalam konsep T.I.M.E yang kini dikembangkan Telkom yang mengubah diri dari perusahaan telekomunikasi menjadi lebih luas sebagai perusahaan infokom, akan memberikan solusi dari berbagai hal.
Selain menyediakan infrastruktur bagi pengembang dan kreator, kini keterlibatan komunitas dalam struktur akan membuat sebuah sistem berjalan secara berkesinambungan, karena dilakukan bersama-sama dan menguntungkan semua pihak. Infrastruktur tidak dijual sebagai komoditi, tapi konten lah yang dijual dan diintegrasikan dengan infrastruktur distribusi.
Melihat model di atas, transformasi Telkom dari perusahaan telekomunikasi menjadi infocomm company akan terwujud karena adanya integrasi pengembangan infrastruktur teknologi dan juga disertai dengan membuka kesempatan para digital entrepreneur untuk mulai berkiprah.
Pengembangan Corporate Social Responsibility [CSR] ternyata dapat menjadikan Telkom tak hanya sebuah perusahaan terbuka, PT Telkom Indonesia, Tbk. Tapi keterlibatan berbagai komponen kreatif, menggambarkan sebuah social company, di mana terjadi pemberdayaan unsur-unsur potensial dalam masyarakat. Bisa dikatakan, geliat Telkom dalam momentum transformasi bisnis ini, akan menggerakkan dunia media, informasi dan konten yang ke depan akan menjadi idola.
Friday, October 02, 2009
Batik dan Semangat Berbagi Atas Kebanggaan Milik Kita
Tahun ini merupakan kebangkitan dari Batik Indonesia. Munculnya kebanggaan atas warisan bangsa ini dipicu oleh negara tetangga yang beberapa saat lalu melakukan klaim atas budaya Melayu. Munculnya kesadaran atas warisan tidaklah cukup, perlu adanya terobosan agar budaya kita menjadi relevan kembali ke generasi muda yang memahami semangat zaman, dan dari merekalah lahir sesuatu yang baru.
Klaim Malaysia atas beberapa produk budaya Indonesia, memunculkan euphoria. Dan atas batik, Malaysia pun sedang melakukan pemetaan batik melayu untuk turut memperkaya khasanah batik dunia, itu positif.
Problem bangsa ini antara lain masalah kecintaannya terhadap apa yang telah dimiliki, ketika terjadi klaim negeri jiran atas produk budaya menyusul klaim mereka atas wilayah geografis, banyak energi terbuang untuk menciptakan musuh bersama bernama Malaysia yang kemudian diplesetkan sebagai Malingsia.
Menciptakan musuh bersama itu mudah, namun perlu dicatat, kita membutuhkan pihak lain, termasuk Malaysia dan bangsa lain untuk berbagi, misalnya ini lho batik saya. Sehingga batik semakin menemukan kekayaan ciri khas pencapaian seni dan estetika budaya bangsa-bangsa, dan menjadi milik bersama dengan identitas dan ciri khas Indonesia ada didalamnya, yang dunia akan mengetahuinya karena kita mau berbagi dengan mereka.
Terhadap batik, yang pada 2 Oktober 2009 ini dirayakan dalam Batik Day, hari Batik Nasional, bersamaan dengan pengakuan UNESCO atas Batik Indonesia sebagai artefak budaya warisan dunia, harus menjadi momentum kebangkitan batik Indonesia. Dan kita akan membangkitkan kembali dengan kebanggaan, bukan dengan ketakutan-ketakutan atas klaim oleh bangsa lain, toh batik menjadi milik dunia dengan masing-masing bangsa memiliki keunikan, ciri khas masing-masing termasuk Indonesia.
Momentum pengakuan batik Indonesia sebagai warisan budaya yang harus dilestarikan, mengingatkan pada implementasi atas gerakan Mahatma Gandhi dalam Swadhesi. Gerakan Swadeshi ini diserukan Mahatma Gandhi untuk melawan dominasi eropa yang dengan imperialisme dan kapitalismenya mengancam India hanya menjadi budak dan pasar. Mengambil pelajaran Swadeshi, inilah saatnya menyerukan kembali kecintaan terhadap produk dalam negeri. Membeli dan memakai batik Indonesia, batik lokal, adalah kontribusi bagi bangkitnya industri dan pasar batik dalam negeri yang di era pasar bebas ini harus bersaing dengan batik China dan sebagainya.
Madiba, adalah kebanggaan batik Afrika yang selalu dikenakan Nelson Mandela sebagai kepala Negara dalam setiap aktifitas formil non formil. Batik Indonesia, juga menemani Presiden Soeharto dalam setiap acara menerima tamu Negara dan lawatan luar negeri, bahkan mengirim surat resmi ke Bill Clinton untuk mengenakan batik Indonesia yang ia siapkan untuk konferensi APEC 1994 dan Clinton berkenan memakainya. Sampai begitu tingginya estetika batik, Prada, dilukis dengan tinta emas dan hanya bangsawan yang mampu memakainya.
Tinggal selanjutnya, melakukan berbagai upaya melestarikannya, tak hanya menjaganya memagari agar tak diklaim bangsa lain, tapi juga kreatif mengemasnya, bangga memakainya dan membuka diri terhadap dunia luar dengan komunikasi yang baik, agar tak sekedar terdengar gaungnya di seluruh dunia, tapi juga bernilai tambah ekonomi.
Mengutip statement saya @andisboediman di Twitter, kita perlu membangkitkan kesadaran atas produk budaya leluhur yang adiluhung dengan pondasi semangat kebanggaan dan mau berbagi, bukan atas dasar rasa benci, If we are driven by fear that our culture is stolen, we can only hate, but if we are driven by pride of what we had, we will have more to share!
Tuesday, September 22, 2009
Naked News on @jokoanwar
What is the cheapest way to get a follower on Twitter? Simple! Go naked and tweet them on Twitter. That's what Joko Anwar says. For some of you who doesn't know Joko, he is the actor and screenwriter for Janji Joni.
Sunday, September 13, 2009
Saturday, September 12, 2009
How Engineers Create Digital Business
Ikatan Alumni ITB menyelenggarakan Workshop How Engineers Create Digital Businesses. Kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu 4 Juli 2009 di Gedung Research Development Center Telkom menampilkan tiga orang pembicara, yaitu Andi S. Boediman CIO PT. Metranet, Eka N. Ginting CEO PT. Indo.com , dan Widi Nugroho Kepala Content & App Task Force PT. Telkom.
Sesi kedua oleh Eka Ginting, dengan materi Indo.com: Digitalpreneurship case study. Untuk melengkapi sesi satu, dalam sesi kedua ini Eka menceritakan studi kasus bisnis digital, yaitu perjalanan bisnis Indo.com yang didirikannya. Indo.com merupakan perusahaan e-travel pertama di Indonesia. Eka menceritakan tentang bagaimana proses dia mendirikan dan menjalankan perusahaan ini, yang katanya berdarah-darah. Memang tak ada bisnis yang mudah. Sesi kedua ini memberikan gambaran yang lebih detil tentang seluk beluk bisnis digital atau disebut dengan digitalpreneurship. Eka juga menambahkan bahwa peluang bisnis digital di Indonesia masih sangat terbuka. Namun tantangan terbesarnya adalah bagaimana mencipatkan ecosystem yang mampu mendukungnya. Broadband access, Payment System, Financing dengan venture capital dan exit strategy seperti IPO di Negara maju untuk perusahaan-perusahaan sejenis ini merupakan bagian penting dalam ecosystem bisnis digital ini, paparnya.
Sesi ketiga oleh Widi Nugroho, dengan materi INDIGO Fellowship 2009. Sesi ketiga merupakan sesi penutup yang mengurai tentang solusi pendanaan dan marketing bagi para peminat bisnis digital. Indigo Fellowship merupakan inisiatif PT Telkom untuk menumbuhkan industri kreatif digital di Indonesia. Fellowship ini diberikan kepada perorangan maupun kelompok dengan usulan kegiatan yang memiliki nilai ekonomis. Telkom akan memberikan bantuan “hibah” dan fasilitas sesuai kebutuhan dengan nilai maksimal sebesar 50 juta rupiah.
Walaupun kegiatan berlangsung cukup singkat dan dilaksanakan di pagi hari kota Bandung yang dingin, tapi sangat efektif dan mampu membakar semangat peserta, sampai-sampai salah seorang peserta mengucap kata “WOW”.
Acara yang diikuti oleh 90 orang peserta baik dari Alumni ITB, mahasiswa ITB maupun umum, didukung penuh oleh PT Telkom.
Mencermati Perilaku Masyarakat di Era Digital
Laporan oleh: Erman
[Unpad.ac.id, 2/06] Teknologi telah semakin berkembang, begitu pun dengan teknologi media. Perkembangan teknologi ini juga membawa dampak terhadap perubahan perilaku masyarakat dalam pemanfaatan media massa, dan pada akhirnya juga merubah pola pemasaran yang efektif di era digital seperti saat ini.
Itulah salah satu benang merah yang terungkap dalam seminar bertema ”Print is Dead! The Rise of Digital Marketing” yang menghadirkan pembicara Direktur Digital Studio, Andi S. Boediman, dan CEO Bubu.com, Shinta W. Dhanuwardoyo di Ruang Serba Guna Gedung Lama Rektorat Unpad, Bandung, Selasa (2/06). Seminar dibuka oleh Kepala UPT Humas Unpad, Weny Widyowati, dan dihadiri sekira 200 mahasiswa.
”Sekarang ini jamannya digital. Bahkan penjualan compact disc saat ini pun sudah ’habis’, sekarang era mp3 dan ring back tone (RBT). Kelompok musik Samsons dari Indonesia punya penjualan RBT paling tinggi di dunia, game online banyak digandrungi, belanja online juga,” ujar Andi.
Lebih lanjut Andi mengatakan, kini banyak perusahaan yang cenderung memilih media pemasaran digital daripada media pemasaran era sebelumnya seperti print, radio, serta televisi. Selain sesuai dengan gaya hidup masyarakat saat ini, iklan melalui media digital juga memungkinkan untuk ditelusuri efektivitasnya secara detail.
”Kalau lewat radio atau TV, kita tidak bisa melakukan tracking. Sementara iklan lewat media digital, seperti internet, bisa ditrack dengan jelas, berapa pengunjungnya, darimana asalnya. Itulah salah satu kelebihan iklan online,” ujar Andi.
Hal itu juga ditegaskan oleh Shinta W. Dhanuwardoyo, CEO of Bubu.com. Menurut Shinta, internet telah mengubah cara konsumen berkomunikasi. ”Jika melalui media massa cetak, billboard, serta TV, bentuk komunikasi pemasaran biasanya bersifat satu arah, sementara digital marketing bisa bersifat interaktif,” ujar Shinta, sambil mencontohkan situs jejaring sosial Facebook juga merupakan salah satu bentuk personal digital marketing.
“The Rise of Digital Era” adalah juga tema pelaksanaan Bubu Awards tahun ini. Bubu Awards merupakan ajang kompetisi nasional bidang kampanye digital yang telah memasuki pelaksanaan tahun ke-6. Seminar ini, yang selain diadakan di Unpad juga diselenggarakan di beberapa kampus lain, merupakan salah satu rangkaian kegiatan Bubu Awards yang bertajuk “Road to BubuAwards, The Rise of Digital Era V.06″. Salah satu kategori yang diperlombakan dalam Bubu Awards adalah Education Category yang menilai penampilan website universitas dan lembaga pendidikan pada umumnya. *
Sunday, September 06, 2009
Indonesia Media & Celebrity Twitter List
Twitter Media
Media
@tweetdetik Detik.com
@987Genfm Gen FM
@1031Genfmsby Gen FM Surabaya
@inilahdotcom Inilah.com
@inserttranstv Insert
@istarafm Istara FM
@thejakartaglobe Jakarta Globe
@jakpost Jakarta Post
@kaskus Kaskus
@kompasdotcom Kompas
@antaranews Kantor Berita Antara
@ UFMRadio Radio UFM
@RollingStoneIna Rolling Stone Indonesia
@SCTV SCTV
@TRANSTV_CORP Trans TV
@tvOneNews TV One
@tempointeraktif Tempo Interaktif
Info
@infogempabmg Info Gempa
@infoll Info Lalu Lintas
@lewatmana Lewatmana
@TMCPoldaMetro Polda Metro Jaya
@timeoutjakarta Time Out Jakarta
Politics
@boediono Boediono
@politikana Politikana
@tifsembiring Tifatul Sembiring
Celebrity
@achachooey Acha Septriasa
@AdrieSubono Adrie Subono
@aichasoebandono Alyssa Soebandono
@agnezmo Agnes Monica
@andienaisyah Andien Aisyah
@andinieffendi Andini Effendi
@andharaearly Andhara Early
@rezerdewi Dewi Rezer
@endahnrhesa Endah N Rhesa
@ersamayori Ersa Mayori
@fedinuril Fedi Nuril
@GlennFredly Glenn Fredly
@HediYunus Hedi Yunus
@Herfiza Herfiza Novianti
@hilbramdunar Hillbram Dunar
@birowo Indra Birowo
@indraherlambang Indra Herlambang
@indybarends Indy Barends
@irfanhakim Irfan Hakim
@ivybatuta Ivy Batuta
@iwetramadhan Iwet Ramadhan
@jokoanwar Joko Anwar
@lunmay Luna Maya
@lukmansardi Lukman Sardi
@lyravirna Lyra Virna
@masayulembu Masayu Anastasia
@Maylaffayza Maylaffayza
@meisyasiregar Meisya Siregar
@Melanie_putria Melanie Putria
@melissa_karim Melissa Karim
@mieke_amalia Mieke Amalia
@mirles Mira Lesmana
@mratuliu Mona Ratuliu
@oonpop Mochamad Fachroni
@tehniadinata Nia Dinata
@nina_tamam Nina Tamam
@novariyanti Nova Riyanti Yusuf
@novitaangie Novita Angie
@oomleo Narpati Awangga
@SiOdie Odie Astadi
@pandji Pandji Pragiwaksono
@praburevolusi Prabu Revolusi
@rahmahumayya Rahmah Umayya
@ToborXes Randy Danistha
@revalinatemat Revalina S. Temat
@rezagunawan Reza Gunawan
@riantic Rianti Cartwright
@rizashahab @Riza Shahab
@PrincessSandraD Sandra Dewi
@sidmohede Sidney Mohede
@sitanursanti Sita Nursanti
@shantythesinger Shanty
@sherinamunaf Sherina Munaf
@sisogi Sogi Indra Dhuaja
@SophiaLatjuba Sophia Latjuba
@St_agustaf Steny Agustaf
@sbachtiar Susan Bachtiar
@TikaPanggabean Tika Panggabean
@tikeprie Tike Priatnakusumah
@titisjuman Titi Sjuman
@t_ORASUDI_ro Tora Sudiro
@ti2dj Titi DJ
@tracytrinita Tracy Trinita
@widimulia Widi Mulia
@vidialdiano Vidi Aldiano
@vincentrompies Vincent Rompies
@ZivannaLetisha Zivanna Letisha
@andisboediman Myself of course :)
@adarwis Andrew Darwis
@budip Budi Putra
@DanielTumiwa Daniel Tumiwa
Saturday, September 05, 2009
Mom Bloggers: A Credible Voice for Consumers

The URL directs us to the CloroxClassrom website. It provides information to the teachers:
"With teachers' limited resources and heightened concerns about the H1N1 2009 flu virus this year, it is critical that they have the tools they need to implement simple prevention strategies," said Jerry Newberry, executive director, NEA HIN. "Healthy habits, like hand washing and disinfecting germ hot spots are important steps to help prevent the spread of germs that can cause illnesses, like flu."
The website offers incentives to the teachers to download a free "Clean Up the Classroom" kit, which includes lesson plans, games and other tools to help reduce the spread of germs at school. This information is really relevant to the latest H1N1 threat lately. Once it is believed will be beneficial to all the mothers, then the message get retweeted, again and again.

We can break a viral message into two parts, the message and the viral effect. The message was published by Clorox Company as a press release. It is relevant to mothers that cares about health. Then comes Twitter that becomes the vehicle for the viral effect.
The creation of a #cloroxclassrooms hashtag certainly make it easy to refer to the topic discussed. A hashtag is similar to other web tags – it helps add tweets to a category. A tag can become a trending topic by creating a convention agreed by influencers–influential tweeters with thousands of followers, to tweet the tag back and forth supported by the followers behind them. A closer look at What the Hashtag shows us that @ConsumerQueen, @MommyBrain and @momspark are the highest influencers that drives the traffic for this topic. In a nutshell, added with an ecosystem of influencers, a tag can leap to become a trending topic.

The credibility of the person behind this influential tweeter is what we called the mom bloggers. They write what they see and believe. Especially in this economy, some mom bloggers write just to get some fun and free stuff. In return, they are putting a lot of time and energy what they think about those products. A lot of moms loved the idea of being sent products to review.
But for some, their goal is to offer support and advice to other moms, build a reputation for themselves as influencers, and to develop a chance to become professional bloggers. The most dedicated, innovative and marketing-savvy mom bloggers then become advisors for corporations, serve as spokespeople and even earn a living from this profession. In recent times, the values of those giveaways has substantially increase to a significant value. They use social media such as blog to share their opinion and Twitter to spread the message.
Here's some notable Mom's blog to explore:
- Beauty News NYC
- Chefdruck Musings & Chefdruck Reviews
- Cool Mom Picks
- Deal Seeking Mom
- Grocery Price Blog
- Kids in the City
- Lisa Reviews
- Mamanista
- Mom Most Traveled
- Mom Reviews
- Mommy Brain Reports
- Our Ordinary Life
- Parents GoodyBlog
- Riding with No Hands
- Seven Dogs and a Baby
- The Not Quite Crunchy Parent
- This Full House
Tuesday, August 25, 2009
#Sawityowit: Hashtag that Inspires Followers Tipping Point

Ketiga selebriti yang punya puluhan ribu follower pun mulai nimbrung, mulai dari tebak-tebakan sampai volunteer yang membuat situsnya, kreasi dari @ramyaprajna.

Penggunaan hashtag #sawityowit di seluruh obrolan mereka ternyata membawa pengaruh signifikan agar semua follower bisa mengikuti obrolan ini. Perhitungan sementara di hari pertama, kedua dan ketiga adalah 114, 301 dan 313 tweet.
Bagi yang belum memahami hastag, saya kutipkan: Hashtags are a community-driven convention for adding additional context and metadata to your tweets. They're like tags on Flickr, only added inline to your post. You create a hashtag simply by prefixing a word with a hash symbol: #hashtag.
Obrolan interaktif dari ketiga selebriti ini tidak hanya kesempatan menjalin relationship dengan penggemar dan follower mereka, lebih jauh, ada grafik signifikan peningkatan follower di Twitter. Telaah grafik dengan jarak waktu yang lebih panjang menunjukkan perubahan yang lebih kelihatan.
Kesimpulan sementara dari mengikuti diskusi selama 3 hari ini adalah dengan menciptakan hashtag menciptakan tipping point dari grafik follower ketiga selebriti.


Saya akan mengupdate artikel ini sambil mentrack hashtag ini. Silakan ikuti!
Sunday, August 23, 2009
Zivanna Siregar: Kampanye Miss Universe melalui Twitter

'Ayo indonesia! Yg punya tweeter.. retweet brulang2! Zivanna bth dukunganmu utk Indonesia d http://bit.ly/Zizi2 Vote (5 *). Mohon bantu RT y --> Beda 0,01.'
demikian bunyi message di Blackberry saya. Menarik! Saya masukkan ke twitter saya di @andisboediman Dalam sekejap, follower saya melakukan re-tweet berulang-ulang.
Saya ulang pesan tersebut di Facebook account saya dan teman-teman saya di Facebook langsung mengklik URL dari Miss Universe untuk mendukung kompetisi Miss Universe via online.
Ini kali pertama saya bisa terlibat secara live untuk mendukung kemenangan Indonesia. Dan cantik pula :)
Saya penasaran dengan siapa yang melakukan tweet pertama untuk mendukung Zivanna. Ternyata tidak lain adalah Zivanna sendiri! Brilliant!!!! Seorang calon Miss Universe melakukan kampanye kemenangannya sendiri. Melalui Twitter account @Zivanna.

Analisa melalui Twittercounter menunjukkan grafik yang menjadi follower putri kita. Luar biasa. Hanya dalam hitungan hari, follower dan pendukung Zivanna terus naik. Putri Indonesia kini nomor satu di website Miss Universe.
Dengan memasukkan tag selebriti seperti @TikaPanggabean, @saykoji, @iwetramadhan, @SophiaLatjuba, @pandji, @tora_sudiro, @CTinsert, Zivanna meminta agar para follower selebriti membantunya naik peringkat di situs Miss Universe.
Alhasil ini bukan lagi soal kemenangan satu orang, tetapi masalah kebanggaan bangsa. Getok tular untuk membawa kemenangan bersama, sangat pas dengan semangat Ramadhan! Ayo dukung kemenangan Putri Indonesia di Miss Universe.
Update: Monday 24 August

Lihat lompatan 3 kali lipat dari follower @Zivanna hanya dalam hitungan 1 hari. Trend prediction pun salah memprediksi. Ini adalah isyu hot sehingga hanya dalam semalam, demikian banyak tambahan pendukung.
Masih ada tambahan video ajakan di Youtube. Wah, ini benar-benar integrated viral marketing in action!
Apakah ini pekerjaan seorang profesional? Melihat kembali tweet dari @Zivanna ternyata memasukkan tag #indonesiaunite #pendetindonesia dan banyak lagi tag yang sedang populer di Indonesia. Referensi saya lihat di Tweetcloud.

Melihat analisa ini, saya melihat bahwa kampanye Zivanna dilakukan oleh seorang profesional yang sudah sangat piawai menggunakan social media atau fitur otomatis social media.
Update: Tuesday 25 August
Sayang beribu sayang, Zivanna belum mampu menjadi Miss Universe. Lebih sayang lagi, kampanye Twitter salah TPS, seharusnya kita tidak memilih melalui situs Miss Universe, tetapi di situs NBC.
Ternyata @Zivanna memang ditujukan untuk membantu kampanye kemenangan Zizi, sayangnya tidak tepat sasaran. Yah, apa boleh buat...
Sekarang semua supporter diharap pindah account ke @ZivannaLetisha. Analisa melalui Twittercounter menunjukkan grafik follower yang juga makin bertambah.

Saturday, June 13, 2009
Franchising & Licensing: Model Bisnis Animasi yang Sukses
Semua produsen animasi hanya konsentrasi pada pengembangan content tanpa melihat sisi bisnisnya. Artinya jika animasi dibuat, belum dipikirkan bahwa produk ini akan memberikan pendapatan terbanyak dari sisi penjualan stationery, mainan dan bahkan lisensi karakter untuk consumer goods.
Jadi menyalahkan sisi televisi dan produksi tidak ada gunanya. Yang diperlukan saat ini adalah pengembangan bisnis dari sisi licensing dan merchandising. Dari sini, animasi akan dianggap sebagai bagian dari marketing dari produk konsumen yang bisa dijual lebih banyak.
Animasi yang lain adalah untuk kebutuhan pembuatan advertising dan real estate, artinya tidak ada unsur intellectual property yang dipegang oleh kreator. Ini tidak akan sustainable dari sisi bisnis.
Film sangat high risk karena resiko gagal sangat besar. Televisi jauh lebih sustainable karena jika pemasang iklan tertarik beriklan, mereka mau iklan dipasang secara terus menerus selama episode berlangsung. Selain itu animasi juga memerlukan investasi besar karena tahap pertama dari animasi ini adalah membuatnya terkenal dulu, artinya pendapatan sangat kecil jika tidak ada yang percaya dari animasi. Setelah terkenal, barulah banyak pemasang iklan.
Game saat ini akan hidup dari sisi outsourcing, inipun problemnya adalah tidak adanya intellectual property yang dipegang oleh kreator sehingga tidak sustainable. Yang lebih menarik adalah mobile content yang punya skala lebih besar dari sisi distribusi.
Pada akhirnya, diperlukan adanya perusahaan yang sangat memahami licensing dan merchandising untuk menjadi backbone dari suatu bisnis animasi.
Referensi:
Beberapa studi tentang animasi yang pernah saya buat:
http://www.slideshare.net/
http://www.slideshare.net/
http://www.slideshare.net/
http://www.slideshare.net/
Sunday, June 07, 2009
Think Big with Design
Saturday, June 06, 2009
Kuliner Akan Masuk Industri Kreatif
VIVAnews - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan kuliner akan dimasukkan ke dalam industri kreatif. Saat ini cetak biru industri kreatif tengah dijadikan studi dan akan dievaluasi.
"Kami berharap demikian, kami akan membuat studi baru dengan Departemen Budaya dan Pariwisata," kata di Nusa Dua Bali Minggu 24 Mei 2009 malam.
Menurut dia, saat ini sudah banyak kemajuan dalam pengembangan kuliner Indonesia. Festival kuliner juga sering digelar. Untuk mendukung industri kuliner diperlukan adanya pendataan terhadap jenis makanan Indonesia.
"Variasi dan jenis makanan Indonesia kan banyak sekali, kita data untuk menjelaskan bahwa makanan tersebut asli Indonesia," tuturnya.
Karena jenis makanan Indonesia yang begitu banyak, maka Indonesia akan memilih beberapa jenis makanan agar lebih mudah dipromosikan. Cara ini dilakukan Thailand, dengan memilih beberapa makanan, seperti Tom Yum sebagai makanan khas Thailand. "Kami akan memilih beberapa yang akan diunggulkan, apakah itu nasi goreng, gado-gado," jelasnya.
Penambahan sektor itu, merujuk pada definisi industri kreatif yang dibuat oleh WIPO (World Intelektual Property Organization) menekankan pada unsur kreativitasnya dan tidak membagi dengan tegas sektor-sektornya.
Menurut cetak biru industri kreatif, terdiri dari 14 sektor industri seperti periklanan, film/video dan fotografi, musik, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, desain fashion, permainan interaktif, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, televisi dan radio, riset dan pengembangan.
Mari menjelaskan pelestarian industri kreatif dilakukan dengan mengumpulkan database. Misalnya seperti kain tenun tradisional ketika dijual, diberi penjelasan mengenai motif, daerah asal. "Kalau orang mencontoh motifnya, asal diakui mana daerah asalnya," kata dia.
Friday, June 05, 2009
Industri Kreatif Perlu Ekosistem
VIVAnews - Industri kreatif di tanah air dapat dibangun dengan menciptakan ekosistem industri. Terutama hubungannya antara industri kreatif tersebut dengan industri telekomunikasi. Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Komite Telekomunikasi Kadin, Anindya Bakrie.
"Sebagai contoh, ringbacktone (RBT). Bagi label company, sekitar 60-65 persen pendapatan mereka diperoleh dari RBT per bulannya," kata Anindya. "Kalau tidak ada RBT, dalam dua tahun terakhir mereka sudah bubar," ucapnya.
Anindya menyebutkan, RBT di dalam industri telekomunikasi merupakan salah satu layanan value added service (VAS). "Peluang pertumbuhan industri kreatif ada di sini," ucapnya.
Source: Vivanews
"Perlu diketahui, sekitar 7 hingga 8 trilun CAPEX (belanja modal) operator, 40 persennya dialokasikan untuk program layanan pada konsumen," kata Anin, "Itu termasuk promosi dan VAS," ucapnya.
Menurut Anindya, berdasarkan laporan terakhir, unique subscriber handset atau pelanggan layanan seluler mencapai 80 juta orang di seluruh Indonesia. Artinya, baru 40 persen dari total populasi penduduk Indonesia yang menggunakan layanan seluler. "Ini merupakan potensi yang cukup besar untuk menumbuhkan industri kreatif," ucap Anin. "Tentunya hal ini juga perlu didukung dengan regulasi yang tepat."
Anindya menyatakan, pemerintah seharusnya bisa menyiapkan regulasi yang pas untuk dapat membangun industri kreatif ini. Terutama agar mereka tidak terus terhambat berbagai masalah seperti HAKI, atau hak cipta.
Thursday, June 04, 2009
Museum Jadi Industri Kreatif
BANDUNG--MI: Sejarah dan museum dapat dikelola dan dikembangkan menjadi sebuah industri kreatif nasional.
Deputy Director National Heritage Singapore, Cheryl Koh mengatakan itu kepada wartawan disela-sela 'Asean University Student Conference' di Gedung Merdeka, Jl. Asia Afrika, Bandung, Jumat (22/5).
"Museum bukan hanya tempat menyimpan dan mempreservasi artefak, tapi juga tempat untuk menunjukkan kebudayaan lokal sebagai identitas nasional, serta mempresentasikannya dalam suatu alur cerita kohesif yang apresiatif sehingga dapat diminati dan dinikmati berbagai kalangan", kata Cheryl.
Kesadaran dan bekal pengetahuan kebudayaan lokal memegang peranan penting dalam proses pengembangan industri kultural (heritage industry). Meyakinkan setiap lapisan masyarakat bahwa museum dan sejarah adalah bagian dari hidupnya sebagai warga negara.
"Keterlibatan tokoh maupun artis sebagai ambasador dapat menghubungkan masyarakat dengan museum, Singapura sendiri memiliki Mark Lee dan Dimsum Dolles sebagai duta kampanye Explore Singapore", kata Cheryl.
Pendekatan ini diperlukan untuk membangun jaringan konektivitas antara sejarah, generasi tua, apalagi generasi muda. Publikasi pun dapat ditempuh melalui berbagai cara agar masyarakat dalam maupun luar negeri tertarik masuk museum ataupun situs bersejarah lokal.
"Kami memulai dari yesterday.com, yaitu sebuah blog interaktif yang berisi dokumen foto, rekaman video perjalanan sejarah dan budaya, juga forum yang melibatkan dialog antara pembaca, karena bagian terpenting dari internet adalah menciptakan sebuah dialog, bukan hanya komunikasi satu arah," katanya.
Berangkat dari blog, pemerintah Singapura merasa belum cukup melibatkan generasi muda hanya sebatas pembaca. Maka dimunculkan HTV (Heritage TV), dimana mereka terlibat dalam produksi rekaman yang bermuatan budaya lokal.
"Kami juga membuat versi singkatnya mengingat ketertarikan generasi muda pada situs youtube.com, maka kami memanfaatkannya sebagai medium untuk menarik minat generasi muda tersebut," kata Cheryl.
Pemutaran video sejarah dan budaya singkat di HTV youtube ditujukan untuk mendorong masyarakat luas untuk membuat video serupa. Jadi pelestarian budaya ini pada akhirnya tidak hanya dilakukan oleh pihak museum ataupun pemerintah saja, melainkan masyarakat juga menjalankan andilnya.
Selanjutnya, Cheryl menambahkan, jaringan infrastruktur yang kuat dapat dimanfaatkan kemudian untuk industri kreatif berbasis budaya yang lebih luas, misalnya pengembangan pada industri pariwisata melalui produk jasa turis dan travel, juga industri ekonomi dengan penjualan produk merchandise inovatif, maupun buku-buku cerita anak.
Cheryl yang sempat berkunjung ke museum Bhineka Art di Bali pun mengakui keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia.
Menurutnya, pelestarian budaya Indonesia dapat dilakukan tidak hanya sebatas pajangan museum saja, tapi dapat dikembangkan menjadi museum hidup (living museum), seperti pagelaran seni tari, juga pelatihan pada sanggar seni tradisional yang dapat mengajarkan anak-anak kebudayaannya. (Ant/OL-03)
Wednesday, June 03, 2009
ICT Partnership Forum 2009, ”Industri kreatif sebagai kunci perkembangan bisnis telematika masa depan”
Upaya peningkatan pemanfaatan teknologi telematika secara optimal oleh konsumen hanya dapat tercapai jika tersedia ragam aplikasi dan konten yang mampu memenuhi berbagai jenis kebutuhan konsumen. Oleh karena itu, dengan mendorong bertumbuhnya industri kreatif berbasis telematika, diharapkan akan berkembang sebuah industri yang akan menjadi motor utama penggerak industri telematika tersebut.
Aplikasi seperti e-learning, tele-medicine, social networking, sampai konten selular seperti mobile magazine, mobile news dan lainnya, adalah aplikasi unggulan yang disinyalir akan mampu menumbuhkan pengguna. Aplikasi unggulan tersebut seyogyanya juga mampu meningkatkan kualitas pengguna, yang akhirnya berujung kepada tumbuhnya industri akibat pemberdayaan pengguna.
Untuk mencapai tahap tersebut, lebih dahulu harus terbentuk suatu ekosistem ideal untuk Industri Kreatif berbasis TIK. Hal tersebut yang kemudian oleh Persatuan Insinyur Indonesia (PII) di tuangkan dalam bentuk Forum Telematika yang akan diinisiasi dalam sebuah kegiatan bertajuk “ICT Partnership Forum 2009 – Industri Kreatif Berbasis Telematika sebagai Kunci Pengembangan Bisnis Telematika Masa Depan” yang diselenggarakan hari ini, Selasa 31 Maret 2009 di Hotel Millenium Jakarta.
Disampaikan oleh Ashwin Sasongko, Sekjen Depkominfo selaku Ketua Bidang ICT PII, bahwa tumbuhnya konten-konten yang bermanfaat harus dapat mengimbangi penetrasi internet yang semakin tinggi. Sementara itu Cahyana Ahmadjayadi, Dirjen Aplikasi Telematika Depkominfo, sebagai panitia pengarah di kegiatan ini, mengatakan Pemerintah membuka diri untuk masukan-masukan terkait keperluan penerbitan regulasi yang terpadu. “Konten-konten yang positif adalah salah satu perhatian pemerintah saat ini” tambahnya.
Indra Utoyo selaku Ketua Masyarakat Industri Kreatif TIK Indonesia (MIKTI), menambahkan bahwa Industri Kreatif berbasis TIK adalah enabler dari industry telematika saat ini. Melengkapi hal tersebut M. Andy Zaky, Pemimpin Redaksi Teknopreneur mengatakan, “Ekosistem yang sesuai untuk bertumbuhnya Industri Kreatif Berbasis Telematika harus diciptakan bersama-sama oleh segenap stakeholder telematika di Indonesia, sehingga mengakomodir setiap kebutuhan dan dapat mengarah ke peningkatan daya serap pasar telematika di Indonesia”.
Sementara itu Menkominfo, Muhammad Nuh dalam pidatonya mengatakan pentingnya 5 C dalam industri kreatif, yaitu Human Capital, Social Capital, Cultural Capital, Technology Capital yang akan memunculkan Creativity. “Kreatifitas tidak cukup hanya bermodalkan Cultural Capital dan Social Capital saja. Technology Capital merupakan komponen yang penting untuk membentuk industri kreatif”. ujar Nuh.
Hadir sebagai nara sumber dalam acara tersebut Dirjen Industri Alat Transportasi dan Telematika Depperin - Budi Dharmadi, Sekjen Departemen Perdagangan - Ardiansyah Parman, pemusik Anang Hermansyah, Co Founder Main Games Creative Studion - Marlin Sugama, Marketing Director PT. Indosat - Guntur S. Siboro, Operational & Internal Affair Mobile 8 Telecom - Merza Fachys, National Technology Officer, Microsoft Indonesia - Tony Seno, Chairman Tekno Ventura - Amir Sambodo, Ketua Umum PII - Airlangga Hartarto, Ketua Komite Bidang Telekomunikasi dan informatika Kadin - Anindya Bakrie dan Habibie Center - Ilham Habibie, serta Andreas Pardyanto dari MIKTI sebagai moderator.
ICT Partnership Forum 2009 dilaksanakan atas kerjasama MIKTI, PII dan Teknopreneur serta Majalah BISKOM sebagai Media Partner.
Tuesday, June 02, 2009
Monday, June 01, 2009
Dorong Industri Kreatif, Telkom Bikin Indigo Fellowship
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) Senin (25/5) meluncurkan program Indigo Fellowship 2009 yang mengusung tema "For a Brighter Indonesian Digitalpreneurs." Indigo Fellowship adalah sebuah program yang disediakan untuk memacu insan kreatif dan wirausaha di bidang bisnis digital.
Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah, menerangkam Indigo Fellowship bertujuan untuk membangun creativepreneur di bidang industri kreatif sekaligus merupakan inkubasi bisnis dalam rangka link and match up bisnis industri kreatif yang berbasis ICT.
"Program Indigo Fellowship merupakan bagian dari program tanggung jawab sosial Telkom kepada masyarakat yang diarahkan untuk membangun generasi penerus bangsa yang cerdas dan kreatif," ujar Rinaldi
Menurut Rinaldi yang terpenting bagi Telkom adalah potensi anak bangsa dalam hal ini industri kreatif dapat memperoleh wadah yang layak sehingga dapat berkontribusi kepada bangsa.
Untuk tahun 2009 ini program Indigo difokuskan pada pengembangan tiga hal yaitu, program pembinaan insan kreatif digitalpreneur yang handal. Yang kedua adalah Digital Creative Playground, yaitu pengembangan platform untuk berkarya dan mengimplementasikan ide-ide kreatif. Dan yang terakhir adalah Indigo Award, ajang apresiasi bagi pelaku industri kreatif.
Telkom menargetkan sekitar 100 peserta ambil bagian dalam program ini. Seluruh rangkaian program Indigo Fellowship direncanakan akan rampung bersamaan pada hari jadi Telkom Oktober mendatang yang dikemas dalam Indigo Award 2009. Untuk informasi lebih lanjut mengenai Indigo dapat dilihat di www.plasaindigo.com
RDI
Saturday, May 30, 2009
Industri Kreatif 'Dihantui' Software Bajakan
Jakarta - Industri kreatif merupakan sektor industri yang digadang-gadang bakal jadi primadona di 2009. Namun perkembangan sektor industri ini sepertinya harus diwaspadai, sebab produk ilegal seperti software bajakan masih menghantui untuk menghancurkannya.
Demikian penilaian dari Joe Kaesshaefer, Commercial Counselor dari Kedutaan Besar Amerika Serikat, di sela seminar bertajuk 'The Importance of Strict Corporate IT Policy as Defense Agains Legal Claims of Software Piracy' yang digelar di US Commercial Service, Jakarta, Kamis (28/5/2009).
Menurutnya, geliat produk bajakan merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap perkembangan hidup dari industri yang membutuhkan daya kreatifitas pembuatnya ini.
"Ketika Anda sedang menonton penyanyi ataupun artis di layar TV, coba bayangkan sampai berapa lama ia akan berkarya seperti itu. Tentu tak akan selamanya. Lalu jika produk mereka (musik dan film) yang baru saja keluar sudah dibajak, bagaimana mereka mendapat pemasukan," jelasnya kepada sejumlah wartawan.
Kaesshaefer pun meyakini jika hasil kreasi para pencipta tersebut harus dilindungi. Sebab, dari itulah mereka bisa hidup. "Kreativitas akan mati jika tak ada reward bagi penciptanya," tegasnya.
Indonesia sendiri, pada tahun 2009 ini sudah mencanangkan sebagai Tahun Industri Kreatif. Sektor industri inilah yang digadang-gadang dapat sukses menyelamatkan ekonomi Indonesia di tengah hantaman krisis finansial dunia. Ada sekitar 14 lini bisnis yang dijadikan andalan, mulai dari animasi, film, fashion, piranti lunak dan masih banyak lagi.
( ash / sha )
Sunday, May 24, 2009
American Idol 2009 prediction: Adam Lambert wins over Kris Allen
Who will win in American Idol 2009?
According the search trend in Google and Youtube, Adam Lambert will wins hands down to Kris Allen.
When I search in Youtube, the suggestion system show Adam keyword when we type 'American Idol'

Looking further through keyword tool provided by Adwords, keyword search on 'Adam Lambert' compare to 'Kris Allen'.

Hitwise intelligence, the leading search analysis company also find out the same finding
Is search truly reflects people insight towards the winning result of American Idol? Let's see...
Saturday, May 02, 2009
Jika Signage Harus Seksi dan Cerdik
Oleh : Mahar Prastowo
KabarIndonesia - Andi S. Boediman, photoshop expert. Akses terhadap suatu tempat membutuhkan petunjuk arah. Seperti untuk public corner semisal terminal, pelabuhan, bandara, kebutuhan akses di area Ticketing, Lobby (Check In), Tenant (Business Center, Cafe, Restaurant, VIP/ Executive Lounge), Boarding Hall, Luggage/Baggage Hall dan koridor.
Signage dikenal dan digunakan untuk identifikasi, menunjukkan arah dan memberikan informasi suatu obyek. “Tugas” signage kini makin luas seiring kebutuhan manusia modern serta seiring dengan perkembangan dunia promosi.
Adanya sign system, memberikan banyak keuntungan ekonomi, selain mempermudah orang menemukan obyek yang dicari sehingga mempersingkat waktu, signage juga berfungsi menciptakan public image. Signage yang unik dan mudah dikenali akan terus diingat di benak yang melihat. Baik itu signage yang berfungsi sebagai petunjuk arah atau bahkan signage dalam advertising, sebagai pencipta public image sebuah brand, media promosi seperti untuk display & graphics, safety, security dan protection, consumer dan perkantoran, elektro dan telekomunikasi; kesehatan; industri dan transportasi.
Lalu, sudahkah signage system di kota-kota besar di Indonesia memenuhi syarat? Menguraikan tentang signage di Indonesia terutama di kota-kota besar dan area public, sebenarnya cukup dengan menjawab beberapa pertanyaan. Apakah anda mudah menemukan petunjuk menuju toilet di ruang tunggu terminal? Seberapa mudah anda menemukan: lift dan tangga darurat di gedung, ruang dokter di rumah sakit, kendaraan di tempat parkir, dan sebagainya.
Pekan lalu dalam sebuah lawatan di sebuah Rumah Sakit bertaraf High-Class di Jakarta, Susi, seorang dosen, masuk sebuah lift yang terpampang jelas begitu masuk dari pintu utama. Tak ada penjelasan apapun kecuali bahwa ia masuk ke dalam lift sampai kemudian seorang suster buru-buru menyusul. “Ibu mau kemana? Ini lift khusus menuju klinik. Lift ke kamar pasien disebelah sana.” jelasnya seraya menunjuk lift di jarak sekitar 50 meter. Tak hanya Susi, anda pun mungkin pernah melajukan kendaraan sampai melewati jalan seharusnya anda berbelok, bisa jadi karena anda melaju terlalu kencang, atau tipografi signage yang tidak memenuhi syarat jarak pandang, warnanya buram atau terlalu dekat dengan obyek tujuan yang ingin ditunjukkan.
Signage, sebagaimana fungsi awalnya sebagai petunjuk pada ruang public, pada kenyataanya juga tak cukup hanya memenuhi kebutuhan visual saja. Sebuah kota modern, selain harus juga dilengkapi dengan keindahan taktil (tactile) atau keindahan ragawi seperti udara segar, suasana teduh, jalan-jalan yang mudah ditelusuri oleh siapa saja (termasuk masyarakat diffable) adalah keindahan yang tak tampak tetapi nyata-nyata dibutuhkan oleh masyarakat kota. Disinilah kemudian signage perlu mengambil peran non visual, misalnya untuk memenuhi kebutuhan informasi atau petunjuk bagi penderita kebutaan, sinyal suara pasti sangat diperlukan. Dan signage seperti ini belum ditemukan.
Pada dasarnya, tanpa bermaksud mengesampingkan warga diffable-penderita buta- menampilkan signage berarti menghadirkan komunikasi visual dan lingkungan dimana signage dihadirkan, adalah media komunikasi. Karena ia menyampaikan pesan visual dari pengirim pada penerima. Jika dengan adanya signage ternyata masih juga bingung atau tersesat, mungkin signagenya yang kurang cerdik menyampaikan pesan, atau kita yang kurang pandai menangkap pesan.
Signage atau tanda, menjadi tidak memberikan nilai tambah apapun jika tidak berdiri sendiri. Karena keriuhan tanda, semacam iklan gaduh produk-produk consumer yang menawarkan hadiah, karena terlkalu banyak informasi dan ikon ditampilkan disatu sisi membuat tertarik sambil tidak menyadari kadangkala tersesat dalam memilih. Bgritu juga jika pada sebuah area terdapat banyak tanda, bisa jadi malah akan menyesatkan atau setidaknya membingungkan. Tanda yang baik, tentu yang dengan mudah terlihat dan sering terjadi, secara tidak sadar dipahami oleh public sebagai kewajaran yang seharusnya. Banyak hal diungkap dalam sebuah kesempatan berbincang dengan Gamawan, dari IM3, salah satu pelaku industri pembuatan signage besar. Dalam pengerjaan beberapa brand ada diantaranya yang menggunakan teknologi digital terkait dengan pemberian efek yang pada siang dan malam hari tampak muncul warna berbeda.
Perkembangan teknologi Signage kearah digital juga diakuinya menjadi tantangan di persaingan bisnis kedepan. Namun itu bukan berarti model printing stiker lantas terlibas. Agar tetap menjadi pilihan, kualitas tetap menjadi syarat utama yang ditawarkan. Warna yang konsisten baik pada siang dan malam hari, tahan lama, warna merata dan konsisten, penyebaran cahaya merata, tidak mudah berjamur, tidak buram dan kotor adalah indikasi yang menunjukkan sebuah signage berkualitas tinggi.
Beberapa factor yang mempengaruhi tampilan tampilan signage antara lain kesalahan proses aplikasi, kesalahan material cutting sticker atau substrate yang digunakan, penggunaan material dasar (substrate) dan cutting sticker yang tidak kompatibel, keterbatasan material kualitas produk dan kesalahan proses produksi. Untuk mendapat kualitas tinggi dan agar dapat bertahan lama, butuh berbagai pendukung antara lain dalam hal system warna. Dengan mengikuti standart PANTONE misalnya, dapat dipastikan akan mendapatkan hasil berupa warna merata dan lebih tipis. Bahkan jumlah pilihan warna yang sangat beragam sampai 57 warna standar dan warna yang khusus diproduksi mengikuti standart PANTONE. Dengan demikian, iklim tropis bukanlah masalah.
Meminjam istilah Andi S. Boediman, pendiri Digital Studio College, bahwa selain cerdik menyampaikan pesan, signage harus “seksi”. Maksudnya, signage ideal harus tampil terintegrasikan beberapa hal didalamnya seperti alfabet dan typeface, ukuran dan spasi antar huruf, kata-kata, peta, kontras sebuah huruf dengan bidang cetak dan cahaya sekeliling, simbol, bentuk obyek, ukuran tanda/obyek yang diinformasikan, warna, material, metode pembuatan bahkan sampai pada ketepatan pemasangan alias rightplace / empan papan.
Media Promosi Alternatif Seiring perkembangan teknologi digital, signage pun berkembang pula fungsinya dari informasi menuju kearah bisnis , namun sederet ketidakberesan di signage konvensional pun masih menjadi pemandangan sehari-hari. Jasamarga misalnya, sebagai pengelola jalan tol menggunakan signage baik yang berupa stiker [printing] maupun digital. Mulai dari petunjuk arah, sampai pada informasi arus lalulintas kendaraan, informasi kecelakaan dan kondisi jalan yang ditampilkan pada layar elektronik.
Dengan berkembangnya teknologi digital, signage yang awalnya hanya dicetak stiker, kini telah banyak disajikan dalam layar elektronik atau tv plasma. Sehingga fungsinya pun berkembang dari petunjuk arah menjadi media informasi lebih luas dan promosi. Bioskop, wayout di area parkir, papan skor pada pertandingan olahraga adalah beberapa diantara media pengguna digital signage. Andi S. Boediman, CEO FGDexpo2009 mengatakan, bahwa perkembangan digital signage yang sangat pesat, memiliki bobot nilai tambah bagi perkembangan industri promosi. “…beriklan tak lagi hanya dibidang cetak, namun juga dapat menyajikan konten pada digital signage”. Demikian Andi S. Boediman yang juga optimis akan perkembangan industri digital content.
Digital Signage dilengkapi content animasi dan multimedia yang terdiri dari kombinasi teks, video dan gambar. Digital Signage konvensional menggunakan standalone local player system yang membutuhkan manual content update via plug in USB atau memory cards secara periodik. Pada digital signage, berkembang dengan adanya integral network interconnectivity dan broadcasting system yang semakin efisien. Dan menjadi media promosi interaktif yang relative murah. Efektifititas dan Efisiensi Selain keunggulan teknologi, efektifitas dan efisiensi ditawarkan digital sign. Dwi Setijo Widodo, Account Manager LimeSoda Bali, menjelaskan, sebagai media promosi dengan harga relative murah, digital signage menjadi media promosi alternative dengan mahalnya memasang iklan di televisi atau media cetak.
Khusus dengan media elektronik televisi, masih menurut Dwi, memang belum dapat diperbadingkan tingkat efektifitasnya karena tv adalah media promosi full inhouse yang segmented. Sedangkan digital signage berdasarkan titik penempatannya strategis dilalui banyak orang atau tidak. “Untuk di Bali, LimeSoda memiliki rate dengan paket misalnya untuk masa tayang satu bulan atau 30 hari, dengan asumsi per hari tayang sebanyak 30 kali dengan durasi 30 detik dan tersebar di 30 titik, hanya membutuhkan dana sekitar 5 jutaan.” jelas Dwi via sambungan jarak jauh. (*)


