Sumber: Ollie’s Blog
Ada yang berbeda dari makan siang saya kali ini. Tgl 11-01-10 kemarin, saya makan siang rame-rame bersama Pak Hermawan Kartajaya @hermawank dan Pak Menkominfo Tifatul Sembiring @tifsembiring. Bersama artis seperti @Saykoji, @Pandji Syahrani, Piyu, Olga Lydia, News Anchor dari TVOne, Cici – Koko, Abang – None, dll. Bersama pakar-pakar dunia internet seperti @andisboediman @adarwis @dwirianto @nukman @shintabubu @ivanlaninserta teman-teman blogger @anakcerdas @agoes82 @SofiaKartika @caturpw @mahadaya @IlmanAkbar @leonisecret @enda @venustweets (kalo ada yang belum disebut maafkeun) dan tak lupa my husband @unwinged. Kami berkumpul untuk berdiskusi di New Wave Marketing Power Lunch yang digagas Pak Hermawan Kartajaya dan MarkPlus team.
Sebenarnya saya sudah pernah makan siang bareng Pak Hermawan dalam circle yang lebih kecil (please read catatannya Pak Andi S. Boediman), dan saking senangnya kami berdiskusi, akhirnya beliau memutuskan saat itu juga, bahwa Power Lunch seperti ini harus dilakukan tiap bulan dan ngundang lebih banyak orang lagi. Ternyata langsung diwujudkan niatnya setelah tahun baru, di tanggal yang spesial pula ![]()

Pak Hermawan membuka diskusi dengan brief summary tentangThe Anatomi of New Wave Cultureyang mencakup:Youth, Women & Netizen. Youth yang responsive, Women yang multitask, dan Netizen yang big impact, tiga culture ini yang seharusnya diperhatikan dalam hubungannya dengan marketing suatu brand.


@Pandji ditunjuk duluan untuk sharing tentangYouth. Dari penjelasannya kita jadi mengerti bahwa anak muda itu inginnya membuat perubahan (change agent). Piyu menambahkan bahwa platform untuk mengedarkan pesan bisa juga melalui lagu yang bisa diterima baik oleh anak muda. Ada pendapat menarik bahwaYouth itu bukan berarti umur yang muda, tapi seharusnya pola pikir yang open mind seperti anak muda. Must agree with that! ;)
@IlmanAkbar menambahkan betapa identiknya Youth jaman sekarang dengan entrepreneurship, penuh ide, ingin mandiri. Mungkin memang karena pola pikir yang udah jauh bergeser, seperti tulisan tentang Generasi Y di blog @leonisecret.
Dari obrolan tentang Youth bergeser ke tentangWomen atau wanita. Pak Hermawan menembak @Shintabubu dengan pertanyaan seputar kesibukannya sebagai direktur dan kesibukan sebagai ibu rumah tangga, on being a super woman, bagaimana pendapat suaminya tentang hal itu. Ini menggambarkan kehidupan wanita-wanita urban yang sering dihadapkan ke pertanyaan yang sama. (Makanya saya nulis tentang hal ini di novel Alphawife *promo-colongan*). Mbak Shinta bilang, wanita memang akhirnya harus dengan baik mengerjakan kedua bidang itu, corporate dan domestic, karena “Women need to prove more”. Well said. Pak Tifatul Sembiring juga akhirnya menambahkan, “Jangan senang dulu kalau dirayu dengan kata-kata ‘Kau lah segalanya’ karena artinya sebenarnya ‘Kau lah yang melakukan segalanya’!” Hahaha asli semua cewek di ruangan itu ketawa pait semua. Kenyataan soalnya hihi ![]()

Nah dengan multitasking-nya Women ini, mereka lebih mudah stress (kebanyakan cabang pikiran). Tapi in the end, mereka tetap bisa survive, karena mereka punyapassion dan love on what they’re doing. Unlike Men, yang kata Pak Hermawan, cuma mikirin Money, Power and Sex. LOL.


Diskusi lanjut keNetizen. @Saykoji sharing tentang keberhasilannya menggunakan internet hingga lagu ‘Online’ dikenal luas seperti sekarang ini. Internet lah yang menjadi sarana bagi Youth (yang responsive) dan Women (yang multitasking) untuk bisa berkarya lebih jauh dan menjadi Netizen (yang High Impact). Kalau dilihat-lihat berarti saya termasuk dalam kategori Youth, Women dan Netizen, yang katanya Pak Hermawan kalo ketiga subculture itu ada di satu orang berarti hasilnya luar biasa *narsisme-tak-terbendung* hihi.
@Enda sang Bapak Blogger menyampaikan aspirasi untuk Pak Tifatul Sembiring. Tentang UU ITE dan kebijakan-kebijakan lain. Dengan kasus Prita kemarin, people now afraid to speak. I said to Pak Hermawan, orang takut di-Prita-kan. Jadi UU ITE juga harus melindungi kebebasan berbicara Netizen di internet.
Di sisi lain, Mbak Syahrani resah karena saat ini belum ada sarana pembelajaran bagi para Netizen yang baru nyemplung di dunia internet, baik untuk masalah netiket hingga awareness untuk hal-hal berbau kejahatan di internet.Pak Hermawan lebih resah lagi takut Netizen, dengan kekuatannya, bisa bergerak untuk mendukung hal-hal yang tak seharusnya didukung, karena faktor clueless dan ikut-ikutan.
Di diskusi kecil after the event, Pak Hermawan tanya apakah kami resah juga seperti dirinya. Saya lagi makan jadi susah jawabnya :P Tapi saya mau bilang, saya nggak resah, Pak. Wisdom of Crowd seperti yang Pitra @anakcerdas bilang itu yang membuat saya selama ini tenang-tenang saja.


Terimakasih sekali lagi buat Pak Hermawan Kartajaya dan MarkPlus team terutama Mas Edo @villahadis yang sudah mengundang kami semua. So happy terutama karena 3 sosok favorite saya ada di situ: @nukman @andisboediman dan @dwirianto
Diskusi seperti tadi jangan hanya berhenti ‘di darat’ namun juga bisa lanjut ke The Marketeers Club ;)
Akhir kata…
Kuala Daik airnya tenang
Di sana biduk menambatkan tali
Mana yang baik bawalah pulang
Bila buruk tinggalkan kami
(Menggunakan pantun milik orang lain dalam upaya meniru Pak Tifatul Sembiring yang selalu konsisten berpantun :P)
ps: jangan lupa add twitter saya @salsabeela dan foto-foto New Wave Marketing Power Lunch yang lengkap ada di Flickr. Related Posts
Friday, January 15, 2010
Ollie's Blog: New Wave Marketing Power Lunch
Saturday, January 09, 2010
Internship for writing a thesis on Ideonomics: The Future of Media & Content
Dear friends,
Aside from my responsibility as the Chief Innovation Officer of Mojopia – Telkom's new media initiative in ecommerce and content, I am preparing a thesis on Ideonomics: The Future of Media & Content which consists of thought leaders on:
- the new media landscape, which combine conventional and new media
- the convergence of communication, media and content
- new media ecosystem and organization strategy to prepare this changes
- media policy and its impact toward communication, media and content
- the role of entrepreneurship and innovation
- the preparation for future generation through creative education
I open up an internship program on preparing this thesis for S2 candidate. The candidate will assist me on this tasks:
- preparing the framework for the thesis
- conducting interview with the thought leaders on media and content
- writing down the notes gathered
- discussing with the team and summarize them
- gather all the materials into a book and documentary format
- a chance to meet and work with the thoughts leader in media and content
- all team will be credited on this thesis
- personal recommendation from me as the project leader
- a small stipend during the internship to cover transportation cost
Please send your CV, a sample of writing and introduction letter about yourself why you want to involve in this project.
Keep inspired,
Andi S. Boediman
____________________
Kepada rekan2,
Di luar tanggung jawab sebagai Chief Innovation Officer dari Mojopia – anak perusahaan Telkom di bidang ecommerce dan konten, saya sedang mempersiapkan tesis Ideonomics: The Future of Media & Content yang berisi pikiran2 dan opini tentang:
- lansekap dari media baru, yang mengombinasikan media konvensional dan media baru
- konvergensi komunikasi, media dan konten
- ekosistem dari new media dan strategi organisasi untuk mempersiapkan hal ini
- regulasi media dan dampaknya terhadap komunikasi, media dan konten
- peran entrepreneurship dan inovasi
- persiapan generasi masa depan melalui pendidikan
Saya mengajak seluruh rekan2 blogger, media dan entrepreneur untuk berbagi cerita, pendapat, dan kontribusi ide untuk memperkaya tulisan ini. Saya akan memasukkannya di dalam buku ini.
Saya membuka kesempatan magang untuk persiapan tesis ini bagi kandidat S2. Kandidat ini akan membantu saya dalam tugas-tugas ini:
- mempersiapkan framework untuk tesis ini
- melakukan interview kepada para pemimpin di bidang media dan konten
- menuliskan catatan-catatan tersebut
- melakukan diskusi dengan tim dan membuat kesimpulan dari diskusi ini
- merangkumnya menjadi buku dan dokumenter
- kesempatan bertemu dan bekerja dengan pemimpin di bidang media dan konten
- semua tim akan mendapatkan kredit di dalam tesis ini
- surat rekomendasi dari saya selaku pemimpin project
- sedikit biaya transportasi
Salam inspirasi,
Andi S. Boediman
Monday, December 28, 2009
Bagaimana “Cara Mengetahui Siapa yang Melihat Profil Facebook Kita” Mendefinisikan Siapa Kita?
1 ► KLIK "Join this Group" ATAU "Gabung ke Grup Ini"
(hanya anda yang telah bergabung yang bisa menggunakan fasilitas ini!)
2 ► KLIK "Invite People to Join" ATAU "Undang Orang untuk Bergabung"
3 ► CENTANG Semua teman anda,
(hanya teman anda yang telah di undang yang bisa anda lihat segala aktivitasnya di facebook anda!)
4 ► KLIK Tombol "Send Invitations" ATAU "Kirim Undangan"
Group ini ternyata hanya usaha untuk mendapatkan anggota sebanyak-banyaknya dan tidak memberikan jawaban siapa yang melihat Facebook kita. Perlu diwaspadai tentunya meskipun hingga saat ini belum ada tanda bahwa data yang dikumpulkan di sini ditujukan untuk sesuatu yang negatif.
2 juta anggota ini menunjukkan sifat dasar manusia yang pada dasarnya punya keinginan untuk eksis. Di Facebook, hal ini diukur dengan melihat berapa banyak teman maupun siapa yang sangat peduli dengan kita.
Tweet saya beberapa saat lalu “Who you knows is more important that what you know and who knows you is more important than who you know.” Kita memulai perjalanan hidup kita dengan mempelajari hal-hal di sekitar kita dan belajar apa yang perlu kita lakukan. Ini adalah ‘what you know’, yang mendasari skill dan knowledge kita. Dilanjutkan dengan kita membangun hubungan dengan orang-orang di sekitar kita, sebagai keluarga dan teman. Ini adalah ‘who you know.’ Pada akhirnya ketika apa yang kita lakukan, apa yang kita percaya dan apa yang kita tunjukkan mendefinisikan ‘siapa kita,’ maka ‘who knows you,’ sebagaimana orang melihat, mengenal dan mengenang kita. ‘Trust’ akan terbentuk dari orang-orang yang mengenal kita.
Dalam kasus Sri Mulyani dalam kasus Bank Century muncul dukungan publik melalui Facebook KAMI PERCAYA INTEGRITAS SRI MULYANI INDRAWATI! yang percaya bahwa Sri Mulyani tidak bersalah. Mereka percaya bahwa selama ini Sri Mulyani konsisten anti KKN dan mereka yang dirugikan dengan kebijakan anti KKN ini menunggangi kasus Century.
Pada kasus Prita Mulyasari dan RS Omni, muncul gerakan KOIN PEDULI PRITA yang merupakan bentuk simpati publik di mana para penggagas Posko Koin Peduli Prita hanya mengenal Prita dari media.
Facebook telah membuka wacana baru bahwa ekspresi suara masyarakat bisa terwujud melalui self organized society. Opini publik mewakili hal yang dirasa benar oleh masyarakat. Sekali lagi, ‘trust’ akan terbentuk dari orang-orang yang mengenal secara personal ataupun melalui media, dari media konvensional maupun media sosial. Kita bisa melihat superficial, apa yang nampak di permukaan. Kita juga bisa melihat jauh ke dalam, esensi dari sosok tertentu. Keseluruhan citra inilah yang membentuk persepsi ‘a brand called YOU!’
Jadi, bagaimana sikap kita di dalam era media sosial saat ini? Sebelum hal buruk menimpa kita, saatnya kita berbagi passion and belief. Ini saatnya kita mendefinisikan ‘who we truly are’ dan satu hari nanti ketika saatnya tiba, orang yang kenal dengan kita akan menjadi orang yang memahami kita dan mungkin menjadi sahabat kita melalui opini mereka.
Jadi, mulailah membangun esensi Anda sendiri mulai hari ini! The brand called YOU!
Read the blog in English. Please leave comments on Ideonomics.com. My Twitter @andisboediman.
Sunday, December 20, 2009
Insightful Lunch with Hermawan Kartajaya: New Wave + Marketing 3.0
Tulisan-tulisan saya tentang media sosial ternyata membuka diskusi dengan icon marketing Indonesia – Hermawan Kartajaya. Tentu kesempatan menarik, sekaligus bertemu dengan rekan-rekan blogger seperti Pitra Satvika, Leonita Julian, pasangan blogger Aulia Halimatussadiah (Ollie) & Anang Pradipta. Juga beberapa teman baru seperti Mada Azhari, Ilman Akbar dan Hendry Gunawan.
Selain blogger, hadir pula beberapa media seperti Smart FM, Seputar Indonesia, Kompas.com, Infobank.
Beberapa rekan blogger ini menjadi community leader dari situs Marketeers.com, komunitas marketing Markplus. Mengutip dari 12 C of New Wave Marketing, ini adalah langkah konkrit dari Communitization, atau pembentukan komunitas agar user bisa saling berkomunikasi melalui platform yang difasilitasi oleh Markplus.
Yang menarik dari kegiatan ini adalah diskusi yang terlontar dari peserta yang hadir. Partisipasi menarik dari para pelaku marketing, pengamatan para blogger dan juga kontribusi dari rekan-rekan media. Hermawan mengajak semua yang hadir untuk melakukan Co-creation atas isyu New Wave Marketing dan Marketing 3.0.
Youth, Woman & Netizen
3 aspek yang menjadi perhatian Hermawan adalah Youth, Woman dan Netizen. Ketiganya akan mendapat konsentrasi khusus di tahun 2010 melalui kegiatan conference. Youth untuk merebut heart share, woman untuk merebut market share dan netizen untuk membentuk opini publik.
Youth adalah mereka yang membuat perubahan dan melihat masa depan. Pengalaman saya di dalam acara Youth Engagement Summit 2009 melalui kampanye South East Asia Change memperlihatkan kontribusi anak muda untuk memberikan suara dan membuat perubahan. Hanya dalam hitungan 6 minggu, terkumpul suara dari 150 ribu anak muda di seantero Asia Pasifik. Suara mereka bukan sekedar untuk didengar, tetapi mereka membuat perubahan di sekelilingnya. Youth adalah penentu pasar masa depan. Mereka bukan lagi generasi yang tergantung pada orang tuanya. Malah saat ini orang tua yang mengikuti tren anak-anaknya, seperti halnya penggunaan Blackberry dan iPod.
Women, adalah mahluk yang multitasking dan punya peran ganda. Ketika mereka bekerja, mereka memikirkan anaknya. Ketika sedang berbelanja, mereka memikirkan anak, suami dan orang-orang terdekatnya.
Netizen adalah mereka yang menjadi opinion leader. Kemenangan di online akan memastikan produk/jasa mendapat review positif dan menjadi pilihan pelanggan. Dalam hal ini perlu kepiawaian marketer untuk mampu mengintegrasikan media online dan offline.
Studi kasus dari Sarah Aprilia, karakter semu yang menjadi ambassadar produk Bask adalah contohnya. Hype di dunia maya ternyata tidak diikuti usaha terintegrasi marketing offline sehingga kehilangan taringnya. Kebalikan dari kampanye digital Axe di mana saya terlibat sebagai Strategic Planner bersama dengan Bubu.com dan BBH. Pemahaman insight bahwa keinginan anak muda adalah untuk punya kesempatan berkenalan dengan cewek idaman diterjemahkan menjadi kampanye Call Me, di mana hype diciptakan melalui kegiatan WAAXE (Woman Against Axe Effect), kegiatan online dipadu dengan demo di bundaran HI. Kampanye ini dilanjutkan dengan peluncuran produk dan iklan televisi yang semua berbicara dalam koridor komunikasi sama. Berwujud pada naiknya penjualan produk secara signifikan.
Ubud: Spiritual Marketing in Action
Ubud adalah kisah sukses marketing yang sesungguhnya. Proses menciptakan tempat yang begitu indah, berawal dari kultur yang terbuka, dan melalui ambassador yang tepat, maka budaya yang demikian unik menjadi bagian dari tujuan wisata dunia.
Raja Ubud, Cokorda Gede Agung Sukawati kala itu, mengundang para artis seperti Antonio Blanco dan Walter Spies. Walter Spies menemukan tempat impiannya di Ubud dan menetap hingga menjelang kematiannya. Spies banyak berkenalan dengan seniman lokal dan sangat terpengaruh oleh estetika seni Bali. Ia mengembangkan gaya lukisan Bali yang bercorak dekoratif. Dalam seni tari ia juga bekerja sama dengan seniman setempat, Limbak, memoles sendratari yang sekarang sangat populer di Bali, Kecak.
Begitu pula halnya dengan Antonio Blanco. Ia membangun sebuah rumah tinggal di Ubud yang menjadi tempat istirahat dan rumah bagi karya-karyanya yang demikian unik.
Artis-artis inilah yang pertama kali menarik perhatian tokoh-tokoh kesenian Eropa terhadap Bali. Mereka memiliki jaringan perkenalan yang luas dan mencakup orang-orang kenamaan di Eropa. Sejumlah temannya banyak diundangnya ke Bali dan membawa cerita menarik sehingga Bali kini menjadi bagian dari budaya dunia.
Gagasan serupa saya lakukan ketika membuat konsep FGDexpo2007. Mimpi saya adalah melihat bahwa desain Indonesia menjadi bagian dari budaya dunia. Dengan menghadirkan tokoh-tokoh desain dunia ke Indonesia, saya berharap dua hal, kita bisa belajar dari mereka dan mereka akan menjadi ambassador Indonesia. Mimpi saya menjadi kenyataan bahwa Stefan Sagmeister memutuskan untuk tinggal selama setahun di Ubud. Ia mengajak desainer Indonesia untuk menjadi apprentice, mempelajari budaya Bali dan menerjemahkannya di dalam karya desainnya. Dan yang terpenting adalah membicarakan pengalamannya ini di forum TED (technology, entertainment, design)–tempat berkumpulnya para influencer dunia.
Esensi dari Marketing 3.0 adalah ketika pemasaran tidak lagi berpura-pura, tetapi mengekspresikan apa nilai sesungguhnya dari suatu produk. Ubud adalah tempat yang memiliki inner value luar biasa, tempat berpadunya hubungan antara Tuhan, manusia dan masyarakat. Ini yang menyebabkan Ubud memiliki esensi luar biasa, karakter yang unik dan tidak dimiliki oleh tempat lain di dunia.
Anxiety & Desire: the Drive of Insight
Pemahaman aktivitas marketing tidak akan lengkap tanpa pemahaman akan sifat dasar manusia. Perjalanan memahami insight ini saya dapatkan ketika bekerja sama dengan Walls – Unilever. Rekan dekat saya, Tommy Wattimena, kini menjabat sebagai Brand Director Walls dan menangani bisnis ice cream global dari Walls yang selalu menjadi teman bicara paling seru.
Ketika saya merancang kemasan Walls, berujung pada diskusi pemahaman insight atas kebutuhan anak. Ketakutan anak terbesar adalah jauh dari orang tua, sehingga kisah petualangan Paddle Pop adalah terjemahan dari anak yang mengeksplorasi dunia baru di mana pada akhirnya akan kembali ke rumahnya. Dengan menerjemahkan kebutuhan anak ini menjadi film, Walls berhasil membuat revolusi pemasaran dengan membuat advertising sebagai content. Film Pyrata dengan Paddle Pop sebagai karakter hero membawa daya tarik luar biasa bagi anak-anak untuk datang dan menontonnya. Di sini brand story berubah menjadi kesempatan engagament dengan pelanggan.
Kebutuhan remaja tentunya berbeda. Dengan memahami keinginan anak muda untuk kenal dengan lawan jenisnya membawa pemahaman insight dan diterjemahkan ke dalam kampanye Axe Call Me. Di sini Axe membuka kesempatan bagi cowok untuk berkenalan dengan cewek melalui Conversation, satu lagi aspek New Wave Marketing. Salah satu mobile game yang diciptakan untuk memulai conversation adalah Axe-O-Meter, di mana dengan menekan tombol handphone, akan berbunyi ketika diarahkan ke cewek yang ingin kita ajak berkenalan. Ini akan memicu perbincangan awal. Pas dengan insight cowok yang ingin berkenalan dengan cewek.
Pada akhirnya, pemahaman akan ketakutan dan keinginan dasar manusia menjadi modal dasar untuk berkomunikasi. Ini adalah basis dari insight. Give them what they want and they will give you want you want. Facilitate the human insight and people will relate with the brand.
Undangan makan siang yang benar-benar tidak sia-sia. Insightful yet enjoyable!
Read the blog in English. Please leave comments on Ideonomics.com. Follow me on Twitter @andisboediman.
Sunday, December 13, 2009
Opini tentang Main Games untuk Warta Ekonomi
1. Bagaimanakah pendapat Anda mengenai sosok Marlin Sugama secara pribadi maupun karya-karya yang telah dibuatnya?
Marlin Sugama memiliki passion yang kuat di bidang game. Pemahaman atas value chain industri sangat bagus dan ini jarang ditemukan di kalangan kreator game. Marlin memiliki perspekti bisnis kreatif yang positif dan punya kemampuan untuk mewujudkan visinya.
Hebring, salah satu karya animasi dari Main Studio sangat inspiratif dan memberikan sentimen positif atas penciptaan karakter orisinal Indonesia.
2. Bagaimanakah pendapat Anda mengenai bisnis Marlin Sugama - Main Studios?
Model bisnis sebagai game developer bagus untuk mendapatkan income dan business model awal. Kemudian ini dikonversi perlahan menjadi industri kreatif melalui penciptaan karakter seperti Hebring.
Model ini perlu dipertahankan karena adanya kombinasi antara service industry yang profitable tetapi kurang sustainable dikombinasikan dengan creative industry yang pada awalnya cukup mahal saat pengembangan intellectual property, tetapi pada akhirnya akan lebih sustainable.
3. Adakah kekurangan dari bisnis Marlin yang harus dibenahi lagi agar menjadi lebih baik?
Main Games saat ini adalah perusahaan animasi dan game dalam skala SME. Perlu adanya road map untuk mampu menggerakkannya menjadi perusahaan besar. Dengan adanya road map yang jelas, akan bisa mengundang investor yang potensial. Ini adalah tantangan terberat karena dalam satu titik, hampir semua bisnis SME memerlukan resource untuk meningkatkan skalanya.
4. Bagaimanakah prospek dari Main Studios ke depan?
Main Studio dalam tahun mendatang perlu memikirkan untuk lebih sustainable dan scalable dengan benar-benar berkonsentrasi masuk ke industri kreatif yang memiliki intellectual property, salah satunya melalui Hebring.
Akan diperlukan partner yang kuat dari sisi marketing dan distribusi untuk mencapai skala bisnis yang besar. Idealnya di setiap channel (baca: animasi, atau game), diperlukan partner yang berbeda dan memiliki penguasaan atas basis distribusi digital content. Untuk game adalah perusahaan telekomunikasi yang dijembatani oleh Content Provider dan untuk animasi adalah televisi yang dijembatani oleh distributor.
5. Bagaimanakah prospek dari profesi sebagai animator dan game developer ke depannya?
Animasi dan game development adalah business yang bisa dilihat sebagai service industry, di mana animasi melayanai kebutuhan dari pelanggan. Di sini cocok untuk perusahaan berukuran kecil karena modal yang dibutuhkan relatif kecil. Contoh kasusnya adalah animasi untuk kebutuhan visualisasi dan advertising, juga game untuk pesanan perusahaan atau outsourcing.
Potensi terbesar adalah melihat animasi dan game sebagai bagian dari creative industry, di mana intellectual property dimiliki oleh sang kreator. Setiap utilisasi dari animasi dan game, kreator akan mendapat royalti. Di sini animasi digunakan sebagai marketing tools untuk industri merchandise, misalnya programming dari Sponge Bob men-drive penjualan barang-barang yang menggunakan karakter.
Game publisher juga mempu menghasilkan kemampuan sustainability dan scalability ketika kreator mampu memiliki intellectual property. Beberapa contoh adalah industri game Massive Multiplayer Online Role Playing Games (MMORPG) di Korea, seperti Ragnarok dan Ayo Dance. Juga game yang dimainkan di Facebook, seperti Farmville dan Mafia Wars. Ataupun game yang didistribusikan via mobile seperti Fifa World Cup. Model industri kreatif ini menjadi basis utama industri digital content yang size-nya sangat besar.
Markplus Conference Manfaatkan Taktik Marketing 2.0
Apakah lantas dengan adanya konektor social menggantikan pertemuan fisik? Tidak lagi perlu ‘kopi darat’? Tentu tidak. Dalam berbagai hal, banyak yang tak tercapai hanya melalui sebuah kegiatan komunikasi melalui konektor sosial.
Konektor sosial memperkenalkan soft relationship, di mana setiap orang seakan mendengar dan berinteraksi langsung meskipun tidak bertemu muka. Program ini tidak berhenti di sini. Bertemu langsung dengan pendukungnya memberikan pengalaman yang lebih intensif. Kemudian, hubungan ini diperkuat lagi dengan media sosial. Jalinan hubungan yang sirkuler ini benar-benar menciptakan ‘experience’ yang lengkap.
Dalam YES2009 SEAChange Kuala Lumpur, Youth Asia yang dimotori oleh Khailee Ng, entrepreneur muda Malaysia, mengajak generasi muda untuk menyumbangkan cerita, bagaimana mereka membuat perubahan. Hanya dalam waktu 6 minggu, mereka mendapatkan 150 ribu cerita tentang ‘Change’, suara generasi muda terbesar yang pernah terkumpul di Asia Tenggara.
Dukungan datang dari Tony Fernandes–entrepreneur AirAsia yang memberikan tiket gratis mengikuti konferensi Youth Engagement Summit dan kesempatan bertemu dengan Biz Stone–co-founder Twitter, Randi Zuckerberg–Director of Market Development Facebook, Bob Geldoff–inisiator Live Aid, Gary Kasparov–grand master catur termuda dan banyak lagi.
Di Indonesia, di semester awal tahun ini pernah dihebohkan dengan kegiatan FGDexpo2009 yang menggunakan karakter Packy, Printy & Publy sebagai ambassador. Mulai dari kegiatan kopi darat, berfoto bersama di bis kota hingga menyapa para muda kreatif menyuarakan idenya untuk acara pesta grafika ini. Demikian aktifnya kegiatan posting di Facebook membuat akun ini sempat dibekukan oleh Facebook karena diasumsikan sebagai spam.
Kini, Hermawan Kartajaya, yang ulasan-ulasan dalam New Wave Marketing memberikan arti penting bagi perubahan mindset marketer, menggunakan konektor social dalam rangka menggelar MarkPlus Conference 2010. MarkPlus Conference 2010 diikuti dengan rangkaian kegiatan menarik terutama yang melibatkan para blogger untuk berkontribusi di akun Marketeers di Facebook, sebuah komunitas yang berawal dari pembaca majalah Marketeers.
Marketeers adalah Majalah bulanan MarkPlus, mengkhususkan diri dalam bidang bisnis dan marketing dari sudut pandang New Wave Marketing. Sebagian besar isinya adalah ulasan mengenai strategi pemasaran terbaru yang ditulis oleh konsultan dan analis MarkPlus dengan rubrikasi terbagi mejadi lima, yakni Connect, Character, Conversation, Cover Story dan CMO dan distribusikan ke seluruh anggota MarkPlus Club serta ke seluruh peserta training dan partner MarkPlus.
Dalam aktifitas blogging, para blogger mendapat apresiasi dengan program MarkPlus Conference 2010-giving away 100 Tickets for 100 Bloggers! Dalam hal ini blogger diajak menulis tanggapan artikel New Wave yang dimuat di kolom Kompas.
Beberapa rekan-rekan blogger mendapatkan free invitation atas ulasan mereka, seperti Maydina Zakiah Siagian: Ketika karakter dan sisi sosial menjadi bagian penting dari sebuah brand; Pitra Satvika: Karakter Fiktif dalam Social Media; Catur Pw: Online atau Offline?; Leonita Julian: Komunitas, Kebutuhan Diterima Oleh Lingkungan Sosial; Nico Alyus: The WHO Generation; Aulia Halimatussadiah: Promotion = Conversation = Blog. Demikian pula tulisan saya Konektor Sosial, Bagian dari Community Marketing.
Taktik marketing 2.0 sudah merambah menjadi bagian dari hidup kita. Komunitas dan engagement menjadi bagian tak terpisahkan dalam menjalin hubungan dengan pelanggan. Markplus Conference, yang menjadi barometer marketing di Indonesia, sudah beranjak ke 2.0, siklus media dan konektor sosial. Marketing menjadi komunikasi dua arah.
Acara puncak Markplus Conference yang dihadiri 4000 orang menjadi milestone dari kopi darat para marketer. Generasi 2.0 yang piawai dengan media sosial bertemu dengan pelaku media konvensional, untuk saling berkenalan, bertukar pandangan dan membangun model marketing yang terintegrasi.
Sukses untuk para marketer 2.0!
Read the blog in English. Please leave comments on Ideonomics.com. Follow me on Twitter @andisboediman.
Sunday, December 06, 2009
Open Invitation to co-write Ideonomics: The Future of Media & Content
Dear fellow Bloggers, Media & Entrepreneur,
Aside from my responsibility as the Chief Innovation Officer of Mojopia – Telkom's new media initiative in ecommerce and content, I am preparing a thesis on Ideonomics: The Future of Media & Content which consists of thought leaders on:
- the new media landscape, which combine conventional and new media
- the convergence of communication, media and content
- new media ecosystem and organization strategy to prepare this changes
- media policy and its impact toward communication, media and content
- the role of entrepreneurship and innovation
- the preparation for future generation through creative education
I invite all fellow bloggers, media & entrepreneurs to share your stories, opinion and contribute ideas to enrich this thesis. I will include them in the book.
Keep inspired,
Andi S. Boediman
____________________
Kepada rekan2 Blogger, Media dan Entrepreneurs,
Di luar tanggung jawab sebagai Chief Innovation Officer dari Mojopia – anak perusahaan Telkom di bidang ecommerce dan konten, saya sedang mempersiapkan tesis Ideonomics: The Future of Media & Content yang berisi pikiran2 dan opini tentang:
- lansekap dari media baru, yang mengombinasikan media konvensional dan media baru
- konvergensi komunikasi, media dan konten
- ekosistem dari new media dan strategi organisasi untuk mempersiapkan hal ini
- regulasi media dan dampaknya terhadap komunikasi, media dan konten
- peran entrepreneurship dan inovasi
- persiapan generasi masa depan melalui pendidikan
Saya mengajak seluruh rekan2 blogger, media dan entrepreneur untuk berbagi cerita, pendapat, dan kontribusi ide untuk memperkaya tulisan ini. Saya akan memasukkannya di dalam buku ini.
Salam inspirasi,
Andi S. Boediman
Friday, December 04, 2009
Konektor Sosial, Bagian dari Community Marketing
Tanggapan atas Tantangan Konektor Sosial – tulisan Hermawan Kertajaya di Kompas.com
Konektor sosial seperti Facebook dan Twitter adalah aggregator traffic, di mana banyak orang berkumpul. Sebenarnya masing-masing dari pengunjung memiliki kepentingan yang berbeda-beda, mulai dari membaca pesan, berkenalan, bermain game hingga menjalin hubungan bisnis.
Di dunia fisik, analoginya adalah mall yang tiap minggunya dikunjungi oleh ribuan orang. Di sini adalah orang-orang juga memiliki berbagai kepentingan berbeda, dan menuju tempt-tempat berbeda. Mereka mengunjungi resaurant, tempat belanja, tempat bermain dan lain-lain.
Pembeda signifikan di antara dunia fisik dan virtual ini adalah kemampuan menciptakan komunitas di antara mereka yang punya kepentingan yang sama. Misalnya pengunjung resto yang tadinya sering berkunjung ke Pizza Hut, kini mendapat kesempatan untuk saling berkenalan lebih lanjut. Ini adalah kekuatan dari konektor sosial yang hanya dimungkinkan secara virtual. Mereka menjadi fans dari brand tersebut. Saling bertukar opini yang nantinya menciptakan benefit bagi pemilik brand karena mereka mendapatkan insight dari para pengunjung setia.
Konektor virtual membuka kesempatan menjalin jejaring baru dari komunitas yang tadinya tidak pernah terpikir untuk saling bertukar hubungan. Melalui hubungan virtual ini akan terbentuk pula koneksi real, sehingga koneksi virtual dan real saling mendukung di dalam menciptakan hubungan yang lebih kuat. Ini adalah bagian dari penciptaan community marketing.
Konektor sosial yang sudah eksis seperti Facebook dan Twitter, membuka platform mereka untuk dapat ditambahkan community marketing ini. Mereka sudah memiliki pelanggan setia, sehingga merupakan kesempatan yang baik untuk mendapatkan traffic dari pelanggan baru. Namun, bagaimanapun mereka memiliki keterbatasan.
Hubungan yang lebih personal akan bisa diciptakan jika pemilik brand memiliki platform khusus yang memahami kebutuhan dari pelanggan. Jadi traffic yang didapatkan dari platform yang sudah ada seperti Facebook & Twitter bisa diarahkan ke platform baru untuk menciptakan customer experience yang lebih mendalam.
Read the blog in English. Please leave comments on Ideonomics.com. Follow me on Twitter @andisboediman.









