Tuesday, June 26, 2012

ShopFair Newsletter


ShopFair, The Online Shopping Fair If you are unable to see this message, click here to view. To ensure delivery to your inbox, please add:ShopFairID@gmail.com to your address inbox.

13-14 July 2012,
Epiwalk - Kuningan, Jakarta

Hanifa Ambadar, Female Daily. ShopFair TV

THE SPEAKER

Hanifa Ambadar, Perempuan dan Bisnis Online


Hanifa merupakan Co-Founder Female Daily, laman bagi para perempuan untuk mendapatkan referensi busana, kecantikan, serta berbagai hal yang berkaitan dengan perempuan.
Hanifa akan berbicara mengenai keaktifan perempuan dalam dunia online yang terwujud pada bisnis online shop.
Lila Cokronagoro, FimelaShop. ShopFair TV Diana Rikasari, Fashion Blogger. ShopFair TV
Shop

SHOP

Kelebihan Belanja Online
Belanja online di internet belakangan ini sedang menjadi tren. Tidak terjebak macet, tidak berjubel, nyaman, dan bisa dilakukan di rumah.
Show

SHOW

Yongki Komaladi
Fashion Show

Seorang perancang sepatu yang memiliki label namanya sendiri, Yongki tidak pernah berhenti belajar meningkatkan kualitas sepatunya untuk bersaing dengan brand luar.
Sell

SELL

The Seller: Neoflam
Terinspirasi dari trend dunia kuliner, Ryan Thng menggeluti bisnis perlengkapan memasak bertaraf internasional dengan teknologi terbaru dan desain produk yang berkelas.
ShopFair Conference, The Secret of Successful Online Store Learn how to open your own profitable online shop,
from the international & nationwide market leaders.

Speakers: Google, eBay, TokoBagus, Bhinneka, Tokopedia.
Investment: IDR 350.000
RSVP: 021 4585 2743 - 44 (Rina), 0815 8549 7607 (Ita), conference.shopfair@gmail.com

Become an Exhibitor or a Partner

Dengan diadakannya ShopFair 2012 ini, Anda dapat bertemu dan juga tergabung dengan banyak online player Indonesia sehingga Anda dapat meningkatkan dan juga memperluas sales.
Dengan banyaknya pengunjung ShopFair yang diperkirakan mencapai lebih dari 3.000 orang, kesempatan untuk menjual secara langsung produk-produk Anda sangat terbuka lebar.
Ayo jadi tenant kami sekarang!
CONTACT US: 
Dellawati Wijaya
Account & Partnership Director, ShopFair
0857 70878828
Sandi Pinatabahri
Sales Director, ShopFair
0818 0805 8188
ShopFair Sponsors
© 2012 SHOPFAIR by IDEOWORKS. All rights reserved.
DISCLAIMER: konten acara dapat berubah sewaktu-waktu
About ShopFair Contact Us Slideshare YouTube Facebook Twitter

If you wish to cancel your subscription, simply click once on the link below.
UNSUBSCRIBE, klik disini bila tidak ingin menerima email lagi.

Thursday, June 07, 2012

Sunday, June 03, 2012

Ideosource: Sabar Membangun Value


29 Mei 2012 - 09:00:00 WIB
Sumber: Warta Ekonomi
Rubric :  EkonomiBisnis
Diposting oleh : Ihsan





Dalam sebuah acara seremoni pembukaan kompetisi bisnis digital di Indonesia beberapa waktu yang lalu, salah satu investor bisnis digital yang tampak hadir adalah Andi S. Boediman, partner Ideosource, sebuah venture capital yang aktif mendanai dan membantu mengembangkan perusahaan startup digital Indonesia. Salah satunya adalah TouchTen, pengembang mobile game, yang sejak Agustus 2011 telah disuntik dana hingga US$1 juta untuk berhasil menjadi pemimpin di industri game.

Bagaimana pandangan Andi mengenai prospek bisnis digital di Indonesia ke depan? Bagaimana pula rencana Ideosource ke depan? Berikut petikan wawancara Fadjar Adrianto dan fotografer Sufri Yuliardi dari Warta Ekonomi di sela-sela acara kompetisi itu. Nukilannya:

Sebenarnya apa yang Anda lihat dari bisnis digital Indonesia sehingga Anda tertarik dengan memodali startup di Indonesia?

Saat ini bisnis digital di Indonesia itu masih berubah industrinya dari konten menjadi media. Dari media menjadi commerce. Dalam commerce, ada infrastruktur dan channel. Kami investasi di konten, media, e-commerce, dan infrastukturnya.

Hari ini yang paling challenging adalah konten sudah ada. Lalu, channel yang paling gampang lewat telekomunikasi. Namun, kemarin karena dikatakan Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia, channel melalui telekomunikasi habis, maka distribution channel itu sekarang banyak yang beralih ke PC.

Kalau untuk media, itu jelas advertising merupakan model bisnisnya. Seperti Detik.com dan segala macamnya itu menarik. Untuk e-commerce, masih sangat early di Indonesia. Transaksinya di Indonesia menurut proyeksi kami baru mencapai kira-kira Rp2 triliun. Infrastrukturnya masih sangat belum siap sehingga kalau kami investasi hari ini, maka kami harus mencari kesempatan untuk membangun distribution channel melalui digital.  Itulah yang potensial.

Berapa dana yang Anda siapkan untuk hal itu?

Kami start dengan dana yang tidak terlalu besar, sekitar US$5 juta. Kami masukkan dalam bentuk investasi kecil-kecil ke beberapa peusahaan antara US$50.000-300.000 per investasi.

Dari situ, kita akan melihat siapa yang siap, bagus, dan tumbuh, maka kita siap untuk investasi kedua. Investasi kedua, nilainya akan lebih besar dari itu dengan dana US$1-3 juta per investasi.

Portofolio investasi Anda seperti apa sejauh ini?

Yang sudah kami publikasikan baru satu, TouchTen, perusahaan game, yang tahun lalu sudah memperoleh 2 juta download di global market. Jadi, mungkin ini salah satu pemain lokal yang bisa go international. Beberapa yang lain kami juga sudah masuk, tapi belum bisa kami publikasikan.

Model bisnis seperti apa yang Anda kembangkan?

Sebagai venture capital, kami harus sabar membangun value. Jadi, dalam jangka pendek, biasanya kami tidak berusaha langsung untuk mencari Return on Investment. Kami melihat nilai investasi US$50.000-300.000 sebenarnya kecil. Ekspektasi return biasanya bisa 5-10 kali. Namun, biasanya kami tidak hanya mementingkan return. Kami masuk ke hal yang lebih fundamental. Kami membangun bisnisnya itu paling tidak 3-5 tahun dan second round pengembangan bisnisnya bisa tidak dari kami saja, tetapi juga bisa dari mitra investor lain yang bisa membawa values strategik baru. Misalnya, kalau kami sudah berhasil mengembangkan produknya, maka kami mencari mitra yang bisa membantu pengembangan pasarnya. Jadi, terjadi kombinasi investor yang masing-masing punya nilai strategis. Dengan demikian perusahaan kecil bisa tumbuh besar karena memiliki value yang lengkap. Itu yang kami lakukan.

Apa perbedaan mendasar antara Anda dengan angel investor, bank atau pemodal yang lain?


Perbedaan angel investor dengan venture capital adalah mereka sifatnya lebih individual.  Kalau kami berupa satu komite yang mengelola dana dari investor. Itu nature-nya dan biasanya akan berpengaruh pada size. Seorang angel investor biasanya menginvestasi dengan skala yang lebih kecil. Seorang venture capital biasanya di tengah-tengah dan di atas kami itu ada private equity.

Kisaran size investasinya, untuk angel investor di Amerika Serikat mungkin hingga US$100.000-200.000. Kemudian, venture capital di atas itu, antara US$1 juta-2 juta. Di atas itu, ada private equity biasanya US$4juta ke atas.

Perbedaan dengan bank, bank tidak memiliki equity, tetapi dia memilih aset sebagai jaminan. Sementara jaminan kami adalah equity. Jadi, risikonya relatif lebih besar bagi seorang investor. Namun, reward bagi seorang investor akan dapat lebih besar karena menunggunya lama. Contohnya Detik.com, begitu dilepas ke CT Group, mungkin valuasinya 1.000 kali lebih besar daripada nilai investasi awal.  Bagi pemegang sahamnya, ketika dalam perjalanannya tidak bisa menikmati apapun, tetapi pada saat exit, mereka bisa lebih menikmati.

Apa rencana Anda ke depan?

Kami menjadi venture capital bulan Juni tahun lalu. We are in the early market. So the business that you are in is important. Kami bukanlah venture capital yang berinvestasi jangka pendek bulanan dan skala investasinya kecil-kecil, kami untuk masuk satu investasi harus berpikir panjang, mungkin sampai 2-3 bulan. Tetapi begitu masuk, kami sudah harus terus mengambil nafas panjang sekali dengan ekspektasi yang tinggi ke depannya. Seperti TouchTen, kami melihat dia lebih solid dan lebih baik fundamentalnya dibanding yang lain serta karakter founder-nya yang baik sehingga kami bantu mendapatkan modelling bisnisnya yang pas.

Kalau kita bicara 3 tahun lagi apa yang terjadi?

Hari ini, the biggest problems in Indonesia is Indonesia is distribution country. Jadi, yang perlu dicari solusinya adalah masalah distribusinya. Kalau itu bisa diatasi, maka mau konten berapapun akan ditelan. Telekomunikasi itu sebenarnya merupakan distribution channel yang baik. Oleh sebab itu, we have to start early on investment on distribution side. Kalau untuk infrastrukturnya  kami bisa start invest well today, maka  itu artinya 3 tahun lagi akan mahal.