Monday, August 18, 2008

Siegfried Woldhek: The true face of Leonardo Da Vinci?


Siegfried Woldhek knows faces -- he's drawn more than 1,100 of them. Using sophisticated image analysis and his own skills as an artist, he's come up with a fascinating discovery about Leonardo Da Vinci.

The work of illustrator Siegfried Woldhek is a familiar sight in the European press. His witty pen and sharp eye for faces helps him capture political and literary figures in his home country, the Netherlands, and around the world (he estimates he's drawn 1,100 faces). He's also an accomplished illustrator of nature, and was the longtime CEO of the Dutch branch of the World Wildlife Fund.

Woldhek is the founder of nabuur.com, "the global neighbor network." On nabuur.com, villages in developing communities can connect with volunteers and resources online throughout the world -- sort of a Match.com that pairs communities with the people who'd like to get involved.

Sunday, August 17, 2008

Cerita dibalik Logo baru WartaJazz.com

Jika melewati pergantian tahun, orang-orang biasanya membuat resolusi tentang hal-hal yang ingin dikerjakan atau dicapai. Buat kami di Wartajazz, resolusi itu dibuat dan dieksekusi saat kami mensyukuri Delapan tahun perjalanan kami mengisi waktu anda mencari informasi tentang Jazz (di) Indonesia maupun mancanegara.

Perubahan menjadi lebih baik dari hari-hari yang telah lalu, seperti sabda Nabi Muhammad SAW dalam ajaran agama Islam, mengisyaratkan langkah yang ingin kami tempuh pula. Berikut ini cerita dibalik perubahan logo Wartajazz.com setelah digunakan selama delapan tahun.

Tahun 2000

Saat memutuskan hadir dalam edisi web-zine - istilah yang kerap dipakai kala itu, kependekan dari web magazine (sebagian mengistilahkan portal -red) - WartaJazz.com menggunakan warna ungu muda dan tua yang divariasi sebagai one-color-scheme atau satu turunan warna dan hitam untuk tulisan “The Ultimate Jazz Source for Indonesian Jazz Lovers”.

Logo yang dibuat menggunakan font face BankGothic ini menghiasi banyak media termasuk iklan festival jazz semacam Java Jazz atau Jak Jazz di Indonesia atau konser semacam Fourplay/Yellowjackets selain banyak kegiatan jazz lainnya.

Namun belakangan persoalan muncul karena logo sering tampil invisible karena bentuknya yang memanjang, sehingga ketika disandingkan dengan logo media partner lainnya, logo tersebut terlihat sangat kecil selain memakan tempat/space yang cukup lebar.


Tahun 2008

Dalam beberapa pertemuan penulis melakukan diskusi dengan Arief “Ayip” Budiman, desainer yang merupakan penggagas Bali Jazz Forum untuk mengembangkan logo baru. Ada beberapa alternatif yang ditawarkan sebagai konsep seperti berikut:

#Draft ke 1 (pengembangan pertama)

#Draft ke 2 (pengembangan pertama)

Konsep ini kemudian oleh Penulis dikembangkan dalam beberapa variasi bentuk tipografi dan warna.

#Draft ke 1 (pengembangan kedua)

#Draft ke 2 (pengembangan kedua)

Logo ini kemudian oleh Penulis dikirimkan kepada Irvan Noe’man, pakar, mentor dalam bidang desain, pemilik BD+A Design Consultant yang tersohor itu, juga seorang penikmat jazz tulen - apalagi dengan nama belakang Noe’man (ayah beliau Achmad Noeman yang mendirikan radio jazz di bandung, KLCBS -red).

Komentarnya saat itu adalah

Saya ingin melihat di WartaJazz,

  • Kesan harus Otoritatif - sebab informasi nya selalu AKURAT
  • tapi jangan terlalu formal
  • expresikan ROH Improvisasi-nya

Bila mungkin, di coba satu ronde lagi (untuk kedua versi tersebut diatas) pasti akan ketemu yang lebih menarik!.

Pada saat yang bersamaan Ecodezign, atau mas Eko demikian saya kerap memanggilnya, juga mengajukan usulan logo Wartajazz yang baru. Ia mengirimkan dua draft desain melalui email dari kantornya (baca: rumahnya) di Semarang. Untuk informasi saja, Ecodezign merupakan pemenang lomba logo Bali Jazz Festival dan menyisihkan 700an karya saat itu. Ia pernah bekerja di Petakumpet, sebuah biro iklan dari kota Gudeg, Yogyakarta. Saat mas Eko mengirimkan logo berikut, ia sedang menggarap Radio Suara Sakti Semarang yang pernah memproklamirkan diri sebagai radio Smooth Jazz.

Kedua logo ini - berbasis komentar kang Irvan, demikian saya kerap menyapanya, diolah kembali. Ada dua alternatif yang kali ini dilampirkan dengan contoh aplikasi pada media kaos - sebagian bagian dari rencana pengambangan divisi merchandise.

#Draft Desain 1 (pengembangan ke 3)

#Draft Desain 2 (pengembangan ke 3)

Contoh aplikasi draft desain 1 pengembangan ke 3 pada kaos.

Contoh aplikasi draft desain 2 pengembangan ke 3 pada kaos.

Sebelum mengirimkan kepada Irvan Noeman kembali, Penulis terlebih dahulu mengirimkan draft desain ronde kedua ini kepada Ayip dan Ecodezign untuk dimintai komentar mereka. Ayip tidak memberikan komentar khusus saat kami berdiskusi tentang beberapa kegiatan yang secara kebetulan kami berkolaborasi, namun Ecodezign dengan spontan menjawab, “keren mas” lewat Yahoo Messenger. Ayip berkomentar “Aku akan ke Jakarta besok”, ujarnya via SMS.

Rupanya tidak mudah untuk meminta jawaban kali kedua ini, karena kang Irvan sedang sibuk menghadapi persiapan kegiatan Helar Festival yang digelar selama sebulan penuh (Agustus 2008) dikota Bandung dan ikut pula dalam kegiatan 1001 Inspiration Design, sebuah kegiatan kreatif yang mengetengahkan pameran dan seminar di Senayan City Jakarta.

Namun lewat social utility Facebook, ia akhirnya menjawab. “Ketemuan yuk, Rabu, 23 Juli 2008, di Blitz Megaplex jam 2 siang”. Ayip yang berada di Jakarta pada hari yang sama, segera dikontak dan diajak oleh Penulis bertemu Kang Irvan.

Penulis mempersiapkan 2 lembar print-out draft diatas, lengkap dengan contoh aplikasi pada kartunama dan Wartajazz Edisi PDF.

Saat bertemu di Blitz Megaplex, kang Irvan rupanya ditemani oleh Andi S. Boediman, pimpinan Digital Studio, sebuah pusat pendidikan desain grafis (silakan klik http://www.digitalstudio.co.id), dan Djoko Hartanto, pemilik dan pengelola majalah suplemen otak kreatif, Concept (klik http://www.conceptmagz.com). Sebuah kesempatan yang berharga, karena para pakar sedang berkumpul.

#Keterangan foto: Kiri-Kanan, Djoko Hartanto, Irvan Noeman, Penulis dan Ayip
#Terima kasih pada Andi S. Boediman yang mengabadikan moment penting ini.

Setelah berdiskusi akhirnya diputuskanlah logo Wartajazz.com yang baru sesuai dengan kriteria yang disampaikan oleh Kang Irvan pada awal tulisan ini.

Dan logo ini akhirnya resmi diluncurkan pada tanggal 08-08-08, pukul 08.08pm, dalam sebuah acara bertajuk “Celebr8th WartaJazz Anniversary” dalam rangka merayakan 8 tahun perjalanan WartaJazz bertempat di Cafe au Lait, Jl. Cikini Raya No. 17 Jakarta.

Bersamaan dengan itu pula, desain website WartaJazz.com juga mengalami facelift, atau berganti muka. Kini, anda bisa memberikan komentar pada artikel-artikel yang kami publikasikan, selain bisa pula langsung mengirimkan artikel anda. Soal tampilan website yang baru dan Syukuran 8th Wartajazz.com, akan kami posting dalam artikel terpisah

So apa komentar anda mengenai logo WartaJazz.com yang baru???

Saturday, August 16, 2008

William McDonough: The wisdom of designing Cradle to Cradle



Architect William McDonough believes that green design can prevent environmental disaster -- while also driving economic growth. He champions “cradle to cradle” design that considers the full life cycle of a product, from its creation with sustainable materials to a recycled afterlife.

Architect William McDonough practices green architecture on a massive scale. In a 20-year project, he is redesigning Ford's city-sized River Rouge truck plant and turning it into the Rust Belt's eco-poster child, with the world's largest "living roof" for reclaiming storm runoff. He has created buildings that produce more energy and clean water than they use. Oh, and he's designing seven entirely new and entirely green cities in China.

Bottom-line economic benefits are another specialty of McDonough's practice. A tireless proponent of the idea that absolute sustainability and economic success can go hand-in-hand, he’s designed buildings for the Gap, Nike and Frito-Lay that have lowered corporate utility bills by capturing daylight for lighting, using natural ventilation instead of AC, and heating with solar or geothermal energy. They're also simply nicer places to work, surrounded by natural landscaping that gives back to the biosphere.

In 2002 he co-wrote Cradle to Cradle, which proposes that designers think as much about what happens at the end of a product’s life cycle as they do about its beginning. (The book itself is printed on recyclable plastic.) From this, he is developing the Cradle to Cradle community, where like-minded designers and businesspeople can grow the idea. He has been awarded three times by the US governemt, and Time magazine called him a Hero of the Planet in 1999.

"His utopianism is grounded in a unified philosophy that -- in demonstrable and practical ways -- is changing the design of the world."
Time

Friday, August 15, 2008

Anand Agarawala: BumpTop desktop is a beautiful mess



Anand Agarawala is the creator of BumpTop, an irresistible new desktop interface with a satisfyingly three-dimensional physicality and a fresh approach to interactivity.

Interface designer, software developer, inventor, and nerdcore hip-hopper Anand Agarawala brings a welcome sense of expressiveness to the dusty desktop interface. His BumpTop software applies a 3D metaphor and rough-and-tumble interactivity that delights anyone who sees it in action.

In addition to its raw play-with-me fun, BumpTop is also an inspiring example of unconventional thinking. The BumpTop world is a physical space, where traditional point-and-click movement is replaced with a more literal "push and pull" approach, and the icons each possess a weight that reflects their relative importance. Meanwhile, commands are executed via a novel set of pen/stylus shortcuts that go well beyond the limited click-and-drag way of doing things.

Even if you're not quite ready to trade your olde tyme desktop for the BumpTop experience, the interface's unexpected approach to problem-solving is sure to bump-start your thinking in new and unusual directions.

"A radical new concept for the computer desktop."
David Pogue's blog

Thursday, August 14, 2008

Stephen Lawler: Look! Up in the sky! It's Virtual Earth!



Stephen Lawler and the Virtual Earth team have created an addictively interactive 3D world that is poised to reinvent our view of advertising, gaming, weather/traffic reporting, instant messaging and more.

Microsoft's Stephen Lawler offers a tour of Virtual Earth that not only reveals the power and potential of the software itself, but also gives a global glimpse of the new virtual frontier of digital globes, the 3D Web and the metaverse.

Lawler also explores the enormous effort it takes to create the fluid blending and shifting between the multiple views and resolutions of Virtual Earth. From the satellites and airplanes that gather photo data for a top-down view to the ground vehicles and headgear-wearing pedestrians who canvas the ground for an eye-level perspective -- all of it represents a monumental effort of logistics and mechanics.

"The cool bird's-eye views were enough of a draw in the previous version, but the 3D is downright addictive. This probably would be enough to please most people even without the local search, maps, and wealth of extra features."
PC Magazine

Wednesday, August 13, 2008

Hans Rosling: New insights on poverty and life around the world



As a doctor and researcher, Hans Rosling identified a new paralytic disease induced by hunger in rural Africa. Now the global health professor is looking at the bigger picture, increasing our understanding of social and economic development with the remarkable trend-revealing software he created.

Even the most worldly and well-traveled among us will have their perspectives shifted by Hans Rosling. A professor of global health at Sweden’s Karolinska Institute, his current work focuses on dispelling common myths about the so-called developing world, which (he points out) is no longer worlds away from the west. In fact, most of the third world is on the same trajectory toward health and prosperity, and many countries are moving twice as fast as the west did.

What sets Rosling apart isn’t just his apt observations of broad social and economic trends, but the stunning way he presents them. Guaranteed: You’ve never seen data presented like this. By any logic, a presentation that tracks global health and poverty trends should be, in a word: boring. But in Rosling’s hands, data sings. Trends come to life. And the big picture — usually hazy at best — snaps into sharp focus.

Rosling’s presentations are grounded in solid statistics (often drawn from United Nations data), illustrated by the visualization software he developed. The animations transform development statistics into moving bubbles and flowing curves that make global trends clear, intuitive and even playful. During his legendary presentations, Rosling takes this one step farther, narrating the animations with a sportscaster’s flair.

Rosling developed the breakthrough software behind his visualizations through his nonprofit Gapminder, founded with his son and daughter-in-law. The free software — which can be loaded with any data — was purchased by Google in March 2007. (Rosling met the Google founders at TED.)

Rosling began his wide-ranging career as a physician, spending many years in rural Africa tracking a rare paralytic disease (which he named konzo) and discovering its cause: hunger and badly processed cassava. He co-founded Médecins sans Frontièrs (Doctors without Borders) Sweden, wrote a textbook on global health, and as a professor at the Karolinska Institut in Stockholm initiated key international research collaborations. He’s also personally argued with many heads of state, including Fidel Castro.

As if all this weren’t enough, the irrepressible Rosling is also an accomplished sword-swallower — a skill he demonstrated at TED2007.


"Rosling believes that making information more accessible has the potential to change the quality of the information itself."
Business Week Online

Tuesday, August 12, 2008

Friday, August 08, 2008

Broadcast Asia 2007 & CGOverdrive


Acara broadcast Asia 2007 yang diadakan di Singapore Expo ini selalu menampilkan teknologi terbaru di bidang broadcast. Highlight menarik dari acara ini adalah demo teknologi High Definition video yang mampu menangkap warna-warna saturasi tinggi. Dengan membuat real life demo, para pengunjung bisa melihat langsung dari teknologi ini.


Beberapa karya menarik ditampilkan oleh Canon, yang mensponsori kompetisi ilustrasi digital pada acara CGOverdrive.


Imaginary Friends, salah satu tim ilustrator dari Singapore, menampilkan desain ilustrasi karakter yang digunakan untuk membungkus mobil. My favourite!

Thursday, August 07, 2008

Tryvertising



Ide ini muncul di UK. Tingginya kebutuhan untuk melakukan advertising menciptakan satu ide baru, di mana setiap orang boleh datang untuk mendapatkan tabung Tryvertising. Isinya adalah barang-barang sponsor dari pengiklan. Menarik bukan :)

Singapore New Generation Trend




Urban culture merambah ke seluruh dunia, termasuk di Singapore. Ekspresi yang paling banyak terlihat adalah music dan rave party, artis urban yang berekspresi melalui graffiti, ilustrasi, karakter, sneakers, dll. Ini adalah trend yang diungkap oleh Mindshare ketika melakukan riset di Singapore.

Wednesday, August 06, 2008

MTV Research Open Source







Pada Ad Research Day, MTV mengungkapkan pemahaman trend generasi muda saat ini yang hidup pada generasi digital. Meskipun mereka sering diasumsikan sebagai kreator, ternyata survey ini menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil dari mereka yang benar-benar aktif berkreasi. Yang lain tetap lebih menjadi konsumen.

Paradoks yang terjadi adalah mereka menjadi makin global, tetapi juga makin lokal. Mereka tahu dan mengadopsi hal-hal baru dari Internet, tetapi juga makin mengkonsumsi konten lokal. Musik merupakan indikator yang sangat kuat di mana lebih dari 60% memilih musik digital.

Monday, August 04, 2008

DJ to DJ Poster Competition at EDGE


Juara 1 dari Univeritas Surabaya


Juara 2 dari Universitas Ciputra


Juara 3.








Favorit media


Foto para pemenang dan wakil dari FGD.

Mengangkat seni budaya Wayang DIII Komputer Grafis dan Cetak (KGC) STIKOM SURABAYA mempersembahkan kompetisi desain poster dengan tema DJ to DJ untuk kalangan mahasiswa. Tema tersebut tak lain merupakan kolaborasi antara ‘Dalang Jawa’ dengan ‘Disc Jockey’. Dalam kompetisi ini para peserta diuji untuk berunjuk gigi menggambarkan keadaan dalang jawa yang mulai pudar dengan masuknya disc jockey di kalangan generasi muda. Dari sinilah nanti akan diketahui seberapa besar kecintaan para generasi muda menanggapi kebudayaan yang sudah hampir tertinggal itu.

Penjurian dilakukan oleh Irvan A. Noe'man dari BD+A dan Djoko Hartanto dari majalah Concept. Para pemenang diumumkan pada EDGE (East Design and Graphic Expo) yang diselenggarakan di gedung Gramedia Expo Surabaya.

Selamat kepada para pemenang dan maju terus desain grafis di Surabaya!

Sunday, August 03, 2008

Jonathan Harris: The Web's secret stories



Brooklyn-based artist Jonathan Harris' work celebrates the world's diversity even as it illustrates the universal concerns of its occupants. His computer programs scour the Internet for unfiltered content, which his beautiful interfaces then organize to create coherence from the chaos.

His projects are both intensely personal (the "We Feel Fine" project, made with Sep Kanvar, which scans the world's blogs to collect snapshots of the writers' feelings) and entirely global (the new "Universe," which turns current events into constellations of words). But their effect is the same -- to show off a world that resonates with shared emotions, concerns, problems, triumphs and troubles.

"Jonathan Harris [is] a New York artist and storyteller working primarily on the Internet. His work involves the exploration and understanding of humans, on a global scale, through the artifacts they leave behind on the Web."
Edge.org

Saturday, August 02, 2008

Arsitek Muda yang Sangat Diilhami oleh Bandung

Source: Adoi
Oleh DEBBIE CHAN

ITU MEMBUTUHKAN kecerdasan, kreativitas dan di ujung bisnis untuk mengantar anda ke tingkat yang berikutnya.

Satu arsitek Asia menunjukkan bahwa daerah kita memiliki lebih banyak untuk ditawarkan dalam kaitan dengan ekonomi yang kreatif daripada hanya mendorong ke luar karyawan pekerja keras.

Ridwan Kamil, arsitek dan perancang kota, sesuatu yang jarang ditemukan hari-hari ini. Tinggal di kota kelahirannya di Bandung dan menolak untuk pindah ke Jakarta, yang dianggap tempat untuk orang Indonesia, ia telah menciptakan suatu platform untuk kota untuk berkembang menjadi suatu ibukota kreatif kelas-dunia.

Menyadari suatu mimpi: Kamil menjelaskan bagaimana penghargaan telah membantu dia membawa suatu masa depan baru untuk Bandung.

“ Menjadi kreatif adalah untuk bertahan di Bandung. Banyak lulusan gagal untuk mendapat pekerjaan sepanjang krisis keuangan 1997 sehingga mereka merubah jalan mereka ke kreatifitas untuk bertahan. Banyak yang berkecimpung di dalam area seperti fashion sampai musik,” kata Ridwan.

Pergeseran menyeluruh ke arah ekonomi yang kreatif adalah sesuatu yang perlahan dialami oleh banyak negara tetapi daerah Asia mempunyai banyak hal yang dapat dilakukan.

“Kreatifitas ekonomi memerlukan sumber daya manusia dan kemampuan untuk menghasilkan gagasan dan konsep yang unik dan berbeda. Banyak faktor yang membangunnya mulai dari pendidikan yang bagus sampai suatu lingkungan membangkitkan semangat. Faktor-faktor ini membantu menghasilkan orang yang dapat berpikir di luar jalur,” ia berkata.

“Kota-kota besar Asia memiliki banyak hal yang dapat dilakukan tetapi juga hebat untuk mengamati masa depan kota besar ini karena tren perkembangan itu. Yang lebih penting lagi, para pemimpin harus mengenali dan mendorong tren ini.”

Ridwan mengutamakan budi pekerti, suatu studio arsitektur dan disain perkotaan di Bandung dan telah bekerja dengan klien disain internasional di Bahrain, Hong Kong, San Francisco dan Singapura. Proyek yang sekarang dilakukan adalah Super-Block Rasuna Epicentrum di Jakarta.

Ridwan adalah finalis nasional Indonesia untuk Young Design Entrepreneur award 2006 British Council International dan penghargaan ini yang telah membuka jendela kesempatan untuk membantu mengembangkan Bandung.

“ Penghargaan ini memberiku kesempatan jaringan dan bertemu orang-orang kreatif dari seluruh penjuru dunia.

“ Aku harus katakan bahwa networking adalah unsur yang paling utama dalam membangun dan hubungan yang telah kubangun telah membantuku banyak dan Agustus akan menjadi suatu momen penting untuk Bandung,” ia berkata.

Forum Komunitas Kreatif Bandung yang pertama, suatu gerakan kreatif akan dilaksanakan di bulan Agustus meliputi bermacam-macam industri di kota itu.

“Dewan Britania di Indonesia menasehatkan pemerintah untuk menerima lebih banyak pekerjaan kreatif dan membuat kita mudah untuk lebih lanjut mengembangkan Program Kreatif Kota Bandung.

“ Jika Malaysia dapat mengirimkan suatu wakil usahawan disain, hal-hal dapat dibuka dari sini tetapi harus ada tindakan lanjut secara konsisten membangun kota,” ia berkata.

Penghargaan Usahawan Desain Muda British Council International tahun ini akan dibuka untuk Malaysia untuk pertama kalinya tahun ini. Penghargaan ini adalah suatu pencarian global tahunan untuk usahawan disain internasional muda terbaik dan yang tercerdas.

Terbuka bagi peserta yang berusia antara 25 sampai 35, penghargaan ini merayakan pentingnya usahawan kreatif dalam bidang disain, Terutama di dalam perbedaan dan sering juga pasar yang belum digunakan. Aplikasi akan ditutup tanggal 30 Juni. Untuk aplikasi dan keterangan lebih lanjut, kunjungi www.britishcouncil.org.my

Friday, August 01, 2008

Hellomotion, Bersandar pada Komunitas

Source: Kompas

KOMPAS/DAHONO FITRIANTO / Kompas Images
Sebagian koleksi film animasi produksi Rumah Animasi Indonesia sejak tahun 2003 yang telah dipasarkan.
Minggu, 22 Juni 2008 | 03:00 WIB

Seperti para musisi indie, animator memanfaatkan benar yang namanya komunitas. Dengan komunitas, mereka menciptakan peluang ekonomi sendiri sekaligus bersama-sama menyampaikan aspirasi politik.

Salah seorang animator yang gigih membentuk komunitas adalah Wahyu Aditya (28), pemilik tempat kursus animasi Hellomotion di kawasan Tebet, Jakarta. Sejak empat tahun lalu, dia mencoba menghimpun komunitas animasi melalui festival film pendek dan situs internet.

Festival film itu bertajuk Hellofest yang digelar setiap tahun sejak 2004. Menurut Wahyu, setiap tahun, film yang ikut serta dalam Hellofest sekitar 150 buah, 80 persennya adalah film animasi. Festival yang berlangsung semalam ini biasanya dihadiri sekitar 3.000 orang. Mereka terdiri dari pelajar, mahasiswa, praktisi animasi, dan kurator film animasi.

Melalui festival ini, lanjut Wahyu, animator yang banyak tersebar di Indonesia bisa saling berinteraksi. Dari sini muncul animator-animator potensial.

”Beberapa di antara mereka kami ajak untuk berkolaborasi dalam proyek-proyek yang bersifat komersial,” ujar Wahyu.

Wahyu juga mencoba menghimpun komunitas melalui situs internet bernama Kementerian Design Republik Indonesia dengan alamat kdri.web.id. Situs ini semacam kementerian virtual lengkap dengan kebijakan-kebijakannya. Setiap orang boleh mengirim karya desain grafis, animasi, atau ide liar yang berkaitan dengan kehidupan bangsa Indonesia. Pokoknya, situs ini bisa menampung ide-ide liar dan kritis.

Di situs itu ada sebuah film pendek bertajuk Najis Award. Film itu berupa gabungan karakter animasi dan potongan adegan sinetron. Di bagian akhir, film itu menobatkan sinetron yang mengumbar adegan tampar-menampar sebagai sinetron ternajis karena dianggap paling berhasil melecehkan logika.

Mereka juga mengkritik desain logo-logo yang dianggap kaku milik instansi pemerintah maupun swasta. Mereka menawarkan desain baru yang mereka anggap lebih oke, keren, dan funky. Situs itu, katanya, dikunjungi 800- 1.000 orang dari seluruh dunia setiap hari.

”Melalui situs itu kami memang ingin mengubah Indonesia dengan kekuatan alternatif, yakni kekuatan animasi. Sekalian, kami bisa menghimpun komunitas,” ujar Wahyu yang dipilih British Council sebagai International Young Screen Entrepreneur of The Year pada tahun 2007 karena sepak terjangnya dianggap berpengaruh kepada orang banyak.

Bagi Wahyu, komunitas sangat penting bagi orang-orang yang bergerak di dunia animasi. Mengapa? Karena hampir semua industri animasi dijalankan dengan sistem outsourcing. Sebuah film animasi bisa dikerjakan beramai-ramai oleh animator dari berbagai negara.

Wahyu kini sedang menyiapkan sebuah film animasi dengan sistem crowdsourcing. Maksudnya, sistem yang sumber daya dan dananya berbasis pada komunitas yang disebut Wahyu sebagai crowd.

”Saya membuat ceritanya dan di-publish di internet. Crowd bisa mengomentari cerita itu atau memberi dana. Nanti saya akan mencantumkan nama pemberi dana pada film itu,” papar Wahyu.

Setelah film jadi, film itu akan ditonton dan didistribusikan oleh komunitas. Menurut Wahyu, sistem ini sudah digunakan sejumlah animator independen di seluruh dunia untuk mengurangi ketergantungan pada pemilik modal.

Kalau sistem itu berjalan, komunitas animasi mungkin bisa menggoyang hegemoni pemodal besar yang bermain di bisnis ini. (Budi Suwarna)

Facebook Study