Saturday, May 03, 2003

What is a Good Design?

Sebagai desainer terkadang sulit untuk memberikan justifikasi atas desain yang dihasilkannya. Yang penting adalah ‘enak dilihat’. Sedang dari sisi pelaku pemasaran dan komunikasi, mereka mengalami kesulitan apakah kapan desain dianggap selesai dan akan sukses untuk kebutuhan komunikasi mereka. Dari sisi publik, ada desain yang begitu susah dan rumitnya dijelaskan filosofinya. Ada desain yang mudah dicerna dan ‘feels right’. Tapi cukup banyak pula desain yang kelihatan ‘nggak nyambung’ dengan apa yang dikomunikasikannya.

Desain sebagai Proses

“Good design is not about the result, it’s when everybody involved feels good about it”

Kutipan ini sangat representatif di dalam mendeskripsikan tugas seorang desainer. Hal yang sangat krusial di dalam desain adalah pertanyaan Proses & Hasil, manakah yang lebih penting? Apakah hasil karya desain berawal dari rancangan yang self-indulgence yang dicari justifikasinya atau memang merupakan solusi atas kebutuhan komunikasi?

Pendekatan terhadap desain sebagai proses akan melibatkan desainer dan klien dalam satu konteks yang sama, yakni sama-sama bertujuan mengekspresikan perusahaan/produk dan berkomunikasi kepada publik. Kesepakatan ini memberikan konsekuensi bagi kedua pihak untuk melakukan diskusi intensif dan mendefinisikan kebutuhan komunikasi dengan jelas. Jika perlu klien dan desainer terlibat di dalam proses brainstorming bersama-sama. Kemudian dari gagasan-gagasan tersebut dikembangkan menjadi solusi desain.

Yang dinilai oleh klien bukanlah hasil desain semata, tetapi proses berpikir dan seluruh pengalaman dari desainer untuk mampu menghasilkan karya.



Desain sebagai Strategi Komunikasi


Pada komunikasi, konsep positioning dan diferensiasi sudah sangat dikenal oleh para pemasar. Singkatnya, di dalam satu kategori brand, benak kita sulit mengingat lebih dari 2 atau 3 brand di setiap kategori, misalnya di film ada Fuji dan Kodak, di ayam goreng ada KFC dan Suharti. Yang diingat orang bukanlah kesamaan Fuji dan Kodak, tetapi perbedaannya. Fuji cocok untuk outdoor, Kodak cocok untuk indoor. KFC adalah ayam impor, Suharti ayam kampung.
Hal ini bisa diterapkan secara sederhana di dalam dunia desain. Jika semua perusahaan teknologi menggunakan garis-garis yang solid dan warna biru, Lucent menggunakan logo bulat dalam bentuk sapuan kuas dengan warna merah. Kenapa? Agar mudah diingat!
Warna biru di kategori bank saat ini milik BCA, kombinasi warna merah biru adalah Lippo, gradasi biru ke putih Citibank, pita biru adalah Bank Mandiri. Oleh karena itu Danamon perlu mengklaim warna orange dan kuning. Warna hijau di film milik Fuji dan warna kuning milik Kodak, sehingga Konica memilih warna biru.

Warna adalah salah satu elemen yang paling kuat untuk di-recall karena warna sangatlah emosional daripada bentuk. Oleh karena itu gunakan warna sebagai atribut yang paling awal untuk didefinisikan. Lakukan analisa terhadap kompetitor, kategori produk, brand dan dari situ bisa diambil strategi diferensiasi yang akan membedakan kita dengan pesaing.
Bentuk swoosh sudah terpatri ke dalam benak kita sebagai Nike. Sangat banyak brand me-too yang berusaha memplesetkan bentuk ini ke dalam logonya. Mengapa tidak melakukan strategi diferensiasi ketimbang imitasi? Tetapi jika memang strateginya adalah imitasi, mungkin ini adalah jalan yang bisa ditempuh. Hal ini kembali kepada strategi, apa yang ingin dikomunikasikan.


Simplify! Simplify! Simplify!

Bentuk : atau :-) merupakan bentuk simplifikasi dari ekspresi wajah manusia.. Pada dasarnya, otak manusia akan berusaha mencari pola dari setiap bentuk yang ditemuinya. Ini yang menyebabkan anak kecil sulit membedakan bola dan balon, tetapi mereka bisa tahu bulatan merah besar dan bulatan hijau kecil sebagai bola. Yang disimpan di dalam otak kita adalah simbol, bukan detail dari objek. Wajah manusia hanya disimpan sebagai lingkaran dan 2 titik di dalamnya, bukan kerut atau bentuk hidung dan mulut.

Oleh karena itu kita bisa mengingat bahwa logo Nike dengan mudah karena bentuknya sederhana, tetapi kita sulit untuk menggambar Garuda Pancasila padahal kita sudah melihat, menghafalkan dan memasangnya di mana-mana. Ini terbukti saat kita diminta menggambar ulang kedua bentuk ini.

Klien - Designer - Publik

Bagi seorang desainer, siapa klien sebenarnya? Apakah klien yang memberikan project ataukah publik yang nantinya akan menikmati hasil rancangan desain? Jawabannya adalah keduanya! Klien harus bangga atas hasil rancangan yang mereka miliki yang dianggap mampu merepresentasikan siapa mereka. Publik juga harus bisa membaca desain tanpa ada si desainer yang berusaha menjelaskan filosofi kepada setiap orang.

Tantangan yang dihadapi oleh desainer adalah menjembatani kedua kepentingan ini. Saat melakukan diskusi dengan klien, desainer perlu menjadi katalisator yang mampu membaca keinginan klien dan sekaligus tetap bertanggung jawab kepada publik.


Tip Mengevaluasi Desain

Ini adalah beberapa teknik sederhana untuk mengevaluasi desain:
  • Lihat adanya kontras atau laras
    Metode paling mudah adalah menggunakan laras, di mana digunakan warna senada dan kombinasi tipografi yang satu keluarga. Selain itu juga bisa digunakan kontras, seperti warna komplemen dan kombinasi tipografi yang sama sekali berbeda (sans serif dan serif misalnya). Keduanya akan menghasilkan emosi yang berbeda, laras terlihat lebih statis dan harmonis sedang kontras menampakkan dinamika.
  • Letakkan karya secara terbalik
    Di sini kita akan melihat karya sebagai karya visual tanpa makna. Logo akan terlihat sebagai bentuk dan tidak kita baca artinya. Perhatikan komposisi, warna, jarak antar huruf, tampilan logo.
  • Tutup logo dengan tangan
    Lakukan penilaian apakah hadirnya logo membuat desain lebih baik atau malah sebaliknya.
  • Tutup mata dan visualkan logo di dalam benak
    Di sini kita mengetahui apakah logo mudah diingat. Coba gambar ulang logo tanpa melihat gambar asli, semakin mudah Anda menggambarnya, makin mudah bagi orang lain untuk mengingatnya.
  • Edarkan desain kepada orang-orang yang tidak mengikuti prosesnya
    Dengan cara ini kita akan jujur terhadap pengalaman, konotasi, dan selera publik. Lakukan ini dengan hati-hati dan gunakan sebagai panduan, bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan.
*Artikel ini dipublikasi pada buku Indonesian Best Letterheads

8 comments:

  1. Candra Tjahyono10:05 PM

    Mungkin Bapak bisa menambahkan mengenai hal "beauty is in the eye of the beholder" karena melihat adanya keanekaragaman desain dan cara-cara orang menanggapinya.

    Saya rasa hal ini cukup sering menjadi masalah antara desainer dan klien seperti yang bapak katakan, jadi mungkin dari Bapak juga ada masukan mengenai bagaimana cara menyikapinya dan men-settle masalah yang mungkin timbul mengenai "good design" dari aspek yang saya sebutkan di atas.

    Candra Tjahyono

    ReplyDelete
  2. Sebab sampai detik ini,'kebanyakan' design masih blum bisa benar-benar
    "mengerti" seperti apa design yg bagus, namun bisa bermanfaat pula buat klien.

    Kebanyakan design2 jaman skr masih mendahulukan idealisme.

    Jadi menurut saya bisa dibahas lebih dalam / jauh. Design dilihat dari segi art, dan komunikasinya.
    Sedikit banyak kita juga akan tau spt apa dasar ilmu2 yang berkisar
    diseputar design. Aspek/faktor2 apa yg menjadi acuan untuk memerindah design dan membuatnya lebih bermanfaat buat klien.

    ReplyDelete
  3. Inco Harper10:08 PM

    dari sisi advertising ada 2 macam iklan... yaitu iklan yang BAIK dan BENAR dimana maksud dari 2 kata itu adalah:

    BAIK: Kreatif, inovatif, dan berorientasi ke Award [yang pasti komunikasinya juga harus "nyampe" ke audience]

    BENAR: Iklan yang mampu menaikkan sales, lebih ke billing orientasi ketimbang AWARD

    kayaknya yang susah adalah menggabungkan keduanya... dan membuat sebuah iklan
    yang BAIK, juga BENAR...

    salam,
    inco

    ReplyDelete
  4. Pak Andi, barangkali bisa dimasukkan 'Good Design' dilihat dari berbagai aspek, dari Expert sampe yang Awam, dari orang yang berkecimpung sampe orang
    yang berseberangan (ada gak ya?) atau dari berbagai aspek yang mungkin sepele tapi mengena (misalnya adat, behavior dll).

    Bahkan mungkin pula bisa ditambahkan Good Design dilihat dari sisi ekonomis atau politis (emang mo ngerancang logo parpol?..hehehe).

    Itu dulu, barangkali bisa membantu atau justru bikin bingung.
    Ataukah ada GOOD DESIGN dilihat dari sudut pandang Religi? wallahualam!

    Selamat berkarya.
    Salam hangat dari Surabaya,

    dr.iwan

    ReplyDelete
  5. Harun Wiranto10:11 PM

    Good design = dapat dimengerti maksud & tujuan oleh orang2 yang dituju. Contoh, restroom signage. Jelas, singkat & mungkin 99% orang yang liat akan mengerti. Kecuali yang punya 2 alat kelamin.

    Bad design = ngejelimet dan enggak gampang di baca. Contoh, nomor bis dan keterangan rute pada bis2 kota
    di jakarta. Coba aja kalo bisa baca dari jarak 10 m abis magrib.

    ReplyDelete
  6. nisaa p.b10:14 PM

    Pak Andi menurut saya :Good Design itu bisa dibuat oleh orang yang memiliki konsep diri yang baik.
    1. Well known tentang dirinya sendiri kelebihan maupun
    kekurangannya. Terbuka dengan masukan orang lain yang berkaitan dengan dirinya sendiri maupun dengan desain.

    2. Bisa bekerja dengan teamwork.

    3. Berani membuat terobosan baru

    4. Punya pengetahuan Luas

    5. Never stop to create

    6. Never give up to try something new Kalo ngebahas dari segi desain artinya memang banyak banget. Tetapi saya coba membahas dari segi designernya. Banyak sekali saya
    dengar dimilis, kampus, dll, kalau sebagian designer kita masih banyak yang menunggu ilmu bukan mencari atau memperdalam ilmu, takut mengembil resiko, apalagi takut akan penilaian orang. Jujur saja termasuk saya sendiri kadang-kadang suka begitu. Apalagi saya kadang mendengar banyak yang berteriak-teriak mau memajukan design grafis atau bahakan negara deh, tapi sedikit yang berjalan.

    Maaf loh pak agak melenceng,ngebahasnya dari segi
    mental.

    So menurut saya Good Design datangnya dari Good Person, Good Heart, Smart Thought, Giving heart, Open mind and Have big courage. So we can make Good Design. Jadi Ini pendapat saya.

    Thanks
    Salam
    Nisaa

    ReplyDelete
  7. heart2_art10:16 PM

    halo, saya sangat setuju sekali dengan pendapat Inco, kalau desain
    dibagi jadi 2: desain yang baik dan desain yang benar, desain yang
    benar adalah desain yang dapat menarik klien dan lebih berorientasi pada fungsi dari iklan itu daripada keunikan iklan itu sendiri, dan desain yang baik menurut saya adalah desain yang tetap berorientasi pada pangsa pasar tetapi juga mempunyai nilai plus dari segi seninya dan juga merupakan suatu desain yang dapat diterima secara universal
    oleh banyak orang dari berbagai latar belakang. Hal ini amat saya
    rasakan pada waktu saya memulai kerja saya di Beijing dan Guangzhou
    banyak sekali dari klien dan teman sejawat saya yang tidak bisa
    menerima iklan2 dari amerika dan tidak mengerti maksud dari iklan
    tersebut yang mana hal ini dikarenakan oleh latar belakang kebudayaan dan jalan pikiran mereka.Dan disini saya lihat bahwa, keuangan merupakan salah satu faktor yang paling menentukan dalam membuat iklan, meskipun desain yang kita buat bagus tetapi kalau dalam segi cost-nya enggak sebanding mungkin di indonesia dan beberapa negara berkembang bukan termasuk suatu pilihan desain yang baik. Membuat suatu desain yang baik kayaknya susah sekali ya...

    ReplyDelete
  8. Inco Harper10:16 PM

    yang susah tuh menggabungkan keduanya menjadi BAIK dan BENAR...

    toh bisa liat TVC Long Beach yang BAIK [menang Citra Pariwara 1999] tapi penjualan produknya sendiri flop!!!

    dan bisa liat TVC Obat Nyamuk Bakar TIGA RODA yang dari sisi kreatif
    biasa-biasa aja... tapi brand-nya benar-benar TERBANGUN dan SALES-nya pun meningkat tajam!!!

    mau pilih yang mana???
    jawabannya: tergantung kebutuhan... tapi idealnya adalah menggabungkan keduanya seperti:

    TVC Sampoerna Hijau yang berhasil dari sisi awareness dan sales...
    ada lagi Baygon [yang berhasil meraih The Best Print Ad Citra Pariwara 2002]...

    salam,
    inco

    ReplyDelete