Friday, June 02, 2000

Soal Gaji & Profesi Animasi

posted at Indo3d mailing list

Andi S. Boediman
Ketika muncul pertanyaan mengapa orang Marketing selalu dapat bagian lebih besar daripada animator sendiri? Menurut saya adalah karena it's about market, not about product. Pemikiran yang sama saya miliki sewaktu memulai karir sendiri. Saya pikir, kemampuan adalah segala-galanya, tetapi kondisi market membuktikan hal yang sebaliknya. Hal ini tidak berarti bahwa animator perlu digaji lebih kecil atau lebih besar dari bagian marketing. Tetapi yang utama adalah semua mendapatkan penghargaan yang setimpal atas kemampuan masing-masing.

Ada pendapat bahwa marketing tanpa animator tidak bisa apa-apa sedangkan untuk animator masih mampu memasarkan karya sendiri tanpa bantuan orang marketing. Sebaliknya orang marketing akan berpendapat, saya cuma perlu tahu selera pasar, cari produknya dan jadi makelar aja. Kan enak : ). Saya lebih setuju bahwa kita mengukur gaji tidak hanya dari skill saja, tetapi dari besarnya tanggung jawab. Kenapa direktur digaji gedhe padahal cuman duduk-duduk aja dan kerjaannya nyuruh-nyuruh doang.

Kenyataannya, dari pengalaman pribadi, saya melihat bahwa banyak artis yang memiliki 'attitude' yang kurang positif (dibaca: sok artis). Sebagai creative director, saya perlu bekerja sama dengan klien dengan berbicara dalam bahasa klien (yang market oriented) dan berbicara kepada artis yang product oriented. Saya lebih setuju jika kita saling menghargai profesi masing-masing dan tidak merasa bahwa dalam suatu proses produksi, semua itu adalah jasa si artis. Bahkan, sikap inilah yang membuat terjadinya perpecahan.

Perlu adanya sikap bahwa dalam suatu tim diperlukan marketing, produser (project manager) & artis dalam kapasitas sebagai mitra yang saling menghargai kemampuan masing-masing.

Jadi meskipun saya dapet klien yang seleranya agak norak pun, saya berusaha untuk mengerjakan yang terbaik. For a good designer, there's no bad project. Malah tugas kita untuk mendidik klien dengan menunjukkan karya yang sebaik mungkin yang makin lama akan meningkatkan apresiasi mereka.

Di Amrik, yang gajinya gedhe adalah sopir bus dan masinis kereta listrik. Apakah tugasnya sulit dan perlu melekan? Tidak! Tetapi tanggung jawabnya luar biasa besar! Nyawa orang lain.


Bullit Sesariza
Mengambil contoh MCSD (Microsoft Certified Solution Developer) adalah sebuah program ujian kayak TOEFL untuk proffesional IT yang ingin menggunakan produk Microsoft, yang bisa dilakukan dimana saja, bisa on-line malah dan ada angka nilainya. sehingga dari situ ketahuan si peserta ada di level mana...

Yang saya mau utarakan mata ujiannya ada 4 :
1. Manajerial : Cara menganalisa kebutuhan dan menemukan solusi
2. Basic skill : Mendesain dan menerapkan aplikasi desktop
3. Basic skill : Mendesain dan menerapkan aplikasi network
4. Software Skill : Menggunakan salah satu Software pilihan

Karena itu standarisasi itu mencakup dari sisi manajerial sampai software skill...kan perbandingannya 1 manajerial : 2 basic skill : 1 software. Dari sistem itu Microsoft secara otomatis mengarahkan para pengguna produknya untuk melihat dari berbagai sudut pandang walau nantinya mereka hanya jadi operator saja...

Saya mengambil contoh standarisasi dari microsoft karena ada contoh standarisasi konsultan dari pemerintah (lewat departemen PU) beda lagi... mereka melihatnya dari modal yang dimiliki... jenis dan alat yang dipunyai sehingga hal itu menentukan kemampuan menyelesaikan tingkat kesulitan proyek. Kelemahannya untuk jasa animasi..intelectual properti jadi tidak ada nilainya.

Standarisasi mungkin salah satu jalan untuk memulai menggerakkan "Industri Animasi", karena apabila sudah ada standart yang baku maka suatu industri yang notabene untuk cari untung akan memiliki variable yang bisa dihitung akurat dalam cashflow dengan tidak mengorbankan animator dan dijamin menguntungkan karena si animator pasti mampu menyelesaikan tanggung jawabnya.


S. Inderaprana
Perhitungan cashflow yang akurat kayaknya nggak perlu standarisasi (berhasil juga ngomongnya) gaji. Dengan harga pasar saja mustinya udah bisa.

Buat saya, animasi adalah industri yang agak sulit di-baku-kan, karena terlalu banyak variabel yang berhubungan dengan seni, selera, dll. Apalagi kondisi di Indonesia (saat ini)

Masalah siapa korban dan siapa mengorbankan, kayaknya banyak juga terjadi di industri lain (termasuk industri yang udah di S-word kan), masih banyak demo karyawan karena gaji masih di bawah UMR.

Balik ke dunia animasi. Masalahnya balik lagi ke individu masing-masing (individu bisa dibaca studio/perusahaan). Kalo saya cenderung dikembalikan ke masalah kemitraan. Apa yang bisa dikontribusikan si animator (ato profesi apapun) pada perusahaan dan apa yang bisa diberikan perusahaan sebagai kompensasi. Seorang animator ato marketing ato sales, bisa aja punya gaji selangit karena usaha mereka menyebabkan perusahaan untung selangit juga dan bukannya bergaji selangit tapi hasil nol besar. Jadi bukan masalah siapa dapet berapa, tapi siapa menghasilkan berapa (shg dapet berapa). Emang agak ruwet juga, karena sistem evaluasi SDM musti jalan bagus. Jadi pastiin dulu kualitas, baru pasang harga. Ayo rame-rame naikin kualitas .... O, ya naikin kualitas nggak cuma dengan belajar dan berlatih lho .... pengalaman juga musti ditambah (inget Aliens? "How many times did you do this?" ... "hundreds of times in simulation" ... "How many times did you REALLY do this?" ... "Never".

BTW: belok dikit ... saya kembalikan masalah team work di sini, kita nggak bisa bilang tanpa animator nggak ada kerjaan, dan tanpa marketing nggak masalah. Kalo si animator lagi sibuk, gimana mau jualan? Memang, animator lebih independen daripada marketing yang tergantung produk. Team work bukan berarti animator dan marketing saja, masih banyak lagi ... animator kita artikan sebagai apa nih? animator tok? modeler? TD? Render wrangler? Texture Painter? SysAdmin? Librarian? Itu baru di 3D.


Helmi
Gaji rata-rata animator amerika disana US$50.000,- /tahun (standard). Dengan pendapatan perkapita US$14.000,- untuk amerika dan US$1000,- untuk Indonesia, dengan kurs dolar = Rp.8000,- maka didapat angka gaji Rp. 2.38jt./bulan untuk animator kita.

Itu itungan bodoh saya dan enggak usah di jadiin patokan, jawaban yang lebih kongkrit ada di posting bullit sendiri;

Dengan kata lain, bisa saya analogikan dengan contoh berikut ini, ada 3 level bisnis-man:

Low level
hanya menjual tenaga saja, seperti tukang loak (maaf) yang membeli thermos bekas seharga Rp. 1000,- dan menjualnya kembali seharga Rp. 1250,- dan mendapat keuntungan hanya Rp. 250,-;

Medium level
tidak hanya tenaga yang dia jual, tetapi juga: waktu, skill, spesialisasi, pengalaman, nama besar, kemampuan managerial prooduksi, kecepatan kerja, dll;

High level
sama seperti diatas, ditambah faktor "political bussiness" yang mempengaruhi negosiasi gaji. seperti: hubungan personal, tingkat ketergantungan perusahaan, pengaruh dalam team-work, pengaruh dalam networking secara keseluruhan, dll;

Dengan kata yang lain lagi; salary ditentukan dengan kemampuan kita mengukur diri sendiri dan kemampuan bernegosiasi.

1 comment:

  1. saya ingin memberi opini sedikit mengenai mengapa marketing mendapat gaji yang lebih tinggi dibandingkan dengan seniman khususnya animator. Sebenarnya ada sebagian orang di masyarakat kita yang tidak menghargai sumber daya manusia yang memiliki bakat di bidang seni, pemilik perusahaan menganggap marketing berbau uang, dapat memberikan keuntungan yang besar untuk perusahaan khususnya order. Menurut saya ini karena masing-masing individu saling menganggap dirinya terbaik atara marketing ataupun seniman/ animator. Mengenai bagus atau jeleknya hasil karya seorang seniman, tidak bisa dipungkiri adalah standart. karena setiap orang punya selera masing-masing. mungkin bagus menurut saya tapi tidak untuk orang lain ataupun sebaliknya. Mungkin jalan terbaik adalah memilih pasar yang tepat. Dimana pasar tersebut menghargai keberadaan dan jasa seniman/ animator.
    Apabila ada waktu luang melihat Painting Gallery, saya mengharapkan komentar dari Bapak Andi.
    http://lilyflowersign.blogspot.com/

    ReplyDelete