Saturday, February 18, 2012

Polygon bike design competition

Just saw a few inspiring bike design for Polygon bike design competition at Summarecon Serpong mall! Good effort!

Visit to Toto Sugiri office

Pak Toto is truly amazing figure in the IT scene. He shares his vision and passion on building Tier 4 data center with 100 million dollar investment at Cibitung. We learn so much about building scalable business by having 2 business model: recurring services and focus on network of distribution points.

Posted via email from ideonomics's posterous

Visit to Innov8

Meet with KARK founders at Innov8. Playful office!

Posted via email from ideonomics's posterous

Saturday, February 11, 2012

John May the Angel Investor

John May a prominent angel investor share his view about investing @atamerica

Posted via email from ideonomics's posterous

Founder Institute graduation

Let the startup begins....my favourite is wujudkan.com, eductory.com and stilomo.com...congrats all...

Posted via email from ideonomics's posterous

Saturday, January 14, 2012

Koperasi sebagai Kekuatan Raksasa Distribusi Finansial, Mengapa Tidak?


Demikian luasnya bentangan kawasan Indonesia, yang menimbulkan besarnya tantangan untuk mencapai setiap titik di wilayah Indonesia untuk mendapatkan akses yang sama atas layanan sosial dan finansial. Ambil contoh, TKW Indonesia yang sedang bekerja di luar negeri seringkali mendapatkan kesulitan ketika mereka ingin mengirimkan hasil jerih payah mereka ke kampung halaman.

Di Blitar Jawa Timur, arus pengiriman dolar TKI menjelang lebaran mencapai Rp 20 miliar dan diprediksikan akan menembus angka lebih dari Rp 50 miliar yang berasal dari 2.670 orang TKI yang bekerja di Hongkong, Taiwan, Korea, Malaysia, Brunei Darussalam, Jepang, Singapura, hingga Selandia Baru. Hal serupa terjadi di Kendal Jawa Tengah. Kiriman uang TKI asal Kendal melalui kantor pos selama Ramadan dan lebaran 2011 mencapai Rp 28 miliar.

Untuk memenuhi saluran distribusi pengiriman uang ini dibutuhkan suatu kegiatan usaha yang disebut dengan KUPU (Kegiatan Usaha Pengiriman Uang). Analis Madya Senior Akunting dan Sistem Pembayaran BI Ida Nuryanti mengungkap bahwa pengiriman dana segar dari para TKI dan TKW yang bekerja di luar negeri menggunakan jasa bank untuk mengirim uang, para TKI juga mengirim melalui jasa yang dikelola oleh KUPU, baik berbentuk  badan usaha maupun perorangan. Bank Indonesia mencatat, jumlah pengiriman uang melalui Kegiatan Usaha Pengiriman Uang (KUPU) non bank mencapai Rp5,1 triliun dalam tujuh bulan pertama tahun 2011. Melihat potensi ini, pemain-pemain besar seperti PT Pos, Telkom dan Bank  Perkreditan Rakyat mengambil bagian dari rencana pengembangan titik distribusi ini.

Payment point BPR KS akan menyentuh masyarakat hingga tingkat desa. Pembayaran yang dilayani antara lain listrik, telepon, kartu kredit hingga pembelian pulsa elektronik. Mumlah titik pembayaran BPR KS telah mencapai 9.264 outlet dimana sekitar 5.000 outlet berada tersebar di Jawa Barat. Titik pembayaran BPR KS itu diusahakan oleh masyarakat, biasanya dalam bentuk Koperasi Unit Desa (KUD) atau perorangan berupa usaha kecil (UMKM).

Telkom sebagai pemain besar di bidang telekomunikasi, juga sudah melakukan transisi untuk melebarkannya menjadi TIME (telecommunication, information, media and edutainment). Mereka meluncurkan Delima atau Delivery Money Access. Proses pengiriman dengan Delima dengan cara si pengirim mendatangi Plasa Telkom atau Mitra Cash Point untuk melakukan top up DELIMA e-Money.

Setelah DELIMA e-Money terisi uang yang telah disetorkan, pada saat tersebut proses pengiriman uang dapat dilakukan. Proses pengiriman dapat dilakukan menggunakan SMS Menu atau syntax sms. Setelah sukses, pengirim maupun penerima akan mendapatkan SMS notifikasi proses pengiriman uang. Kemudian penerima dapat mengambil uangnya di Plasa Telkom dan cashpoint berlogo DELIMA.

Jumlah koperasi di Indonesia meningkat 5,31% dibanding tahun lalu. Data Kementerian Koperasi dan UKM menyebutkan sampai Juni 2011 total koperasi di Indonesia mencapai 186.907 unit. Jumlah banyakya titik ini menjadikan koperasi punya kekuatan strategis sebagai titik distribusi untuk layanan finansial. Melalui pengembangan Standard Operating Procedure yang baik dan didukung oleh kelembagaan besar seperti Telkom, PT Pos dan BPR, maka terjadi sinergi dan pemberdayaan lembaga swadaya masyarakat yang hasilnya tentu saja menjadi pengembangan ekonomi yang lebih berkesinambungan.

Tahun lalu Indonesia merayakan sebuah tonggak baru bagi perekonomian. PDB Indonesia mencapai US $ 3.000 per kapita pada tahun 2010, ambang batas yang untuk waktu yang lama telah menjadi sasaran dari pemerintah China. Indonesia akan menjadi raksasa baru ekonomi.

Peran dari titik distribusi memainkan faktor krusial di mana kesempatan ini bisa diraih melalui kolaborasi antara swadaya masyarakat dan pemberdayaan dari lembaga-lembaga yang sudah mapan. Jadi mengapa tidak Koperasi yang memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi kekuatan Raksasa Distribusi.


Penulis: Andi S. Boediman
Artikel ini ditulis untuk mata kuliah Creative Entrepeneur, S2 Creative & Media Enterprise IKJ - IDS.
@andisboediman

Referensi:

Tuesday, January 03, 2012

A Morning with Toni Handoko


While visiting Jogja for a holiday, I got a chance to catchup with Toni Handoko, a good friend that used to lead Digital Studio Workshop in Jogja. His recent hobby turns into business is B/W photography. A fascinating information regarding B/W world, manual lens combined with digital body and a snapshot of me. Another fascinating info is about the T-shirt world, in which he is the designer for many collectors community, including VW, toys and many others. Free T-shirt for me as well. A morning well spent with a good friend!

Friday, November 18, 2011

TEDxHouston - Brené Brown




Dr. Brené Brown is a researcher professor at the University of Houston, Graduate College of Social Work, where she has spent the past ten years studying a concept that she calls Wholeheartedness, posing the questions: How do we engage in our lives from a place of authenticity and worthiness? How do we cultivate the courage, compassion, and connection that we need to embrace our imperfections and to recognize that we are enough -- that we are worthy of love, belonging and joy? Brené is the author of I Thought It Was Just Me (but it isn't): Telling the Truth About Perfectionism, Inadequacy, and Power (2007) and the forthcoming books, The Gifts of Imperfection (2010) and Wholehearted: Spiritual Adventures in Falling Apart, Growing Up, and Finding Joy ( 2011).

Sunday, November 06, 2011

Deadly Sin: Copycat Advertising

Here's I collect a few deadly sin in Advertising, creating a copycat ads!







Tuesday, November 01, 2011

Focus on Benefit & Value


Focus on Benefit, not Feature

Setiap kali membuat sebuah produk atau layanan, seringkali kita terbuai untuk membuat fitur yang demikian banyaknya. Benefit apa yang didapat oleh pelanggan agar mereka menggunakan produk atau layanan Anda? Contoh sederhana, seberapa sering Anda mengenali semua fungsi di remote control atau kamera. Produk seperti iPod dan Palm mereduksi fitur sesederhana mungkin agar pelanggan fokus kepada benefit yang ditawarkannya.

Tantangan terbesar ketika membuat produk dan layanan adalah memahami kebutuhan pelanggan dan hanya berfokus kepada fitur yang memberikan benefit. Secara sederhana, kita bisa bertanya kepada orang-orang di sekitar kita untuk menggunakan produk dan layanan yang kita ciptakan. Ketika kita memberikan benefit, produk dan layanan ini memiliki value di mata pelanggan.


Value Proposition

Di dalam berinteraksi, kita memiliki value yang kita tawarkan kepada orang lain. Value bisa hadir dalam berbagai bentuk. Ini beberapa contoh value:
  • investment
  • skill and knowledge
  • relationship and network
  • product
  • access to market
  • media
  • attraction factor
  • stickiness factor
  • market adoption
  • intellectual property
Di luar ini masih banyak value lain yang bisa dibangun. Ada value yang tangible dan bisa dikuantifikasi, banyak pula value yang tidak terlihat dan sulit dikuantifikasi. Kacamata sebagai pekerja, pelaku bisnis dan investor memiliki cara pandang yang berbeda ketika membangun value. Seorang pekerja membangun valuenya melalui skill and knowledge untuk membentuk curriculum vitae prestasi di perusahaan. Value ini terletak di orang tersebut dan tidak bisa ditransfer kepemilikannya. Seorang pelaku bisnis membangun valuenya dengan memiliki produk/layanan, akses pasar yang pada akhirnya membentuk relationship dengan pelanggan dan tercipta brand dan trust. Value ini sebagian bisa ditransfer dan sebagian tidak. Seorang investor berkonsentrasi membangun value yang sustainable dan scalable, di mana value ini harus bisa dikuantifikasi dan ditransfer kepemilikannya.

Dalam membangun bisnis, kita perlu fokus kepada value mana yang akan dibutuhkan bisnis tersebut untuk bertahan dan menjadi besar. Ambil contoh perusahaan advertising, karena bentuknya servis, maka valuenya terletak kepada kreativitas sumber daya manusia dan hubungan kerja dengan klien. Perusahaan media, valuenya berada di konten dan akses kepada pengiklan. Perusahaan yang memproduksi konten, valuenya terletak pada kemampuan membuat konten secara konsisten dalam jumlah banyak. Perusahaan yang menjual barang, valuenya terletak kepada produk dan distribusi.

Cara paling sederhana untuk memahami value adalah kita berpikir seakan-akan mau menjual perusahaan kita, apakah ada pembeli yang tertarik. Kira-kira jika mereka tertarik, apa yang membuat mereka mau membayar mahal? Ini adalah disiplin untuk kita berfokus pada membangun value yang paling utama.

Ketika kita menghadapi persaingan di mana barang dan pasar menjadi komoditi, perhatikan value apa yang ditawarkan oleh kompetitor. Jika kita mampu memberikan atau mengombinasikan value yang lebih, kita akan mudah memenangkan persaingan tersebut.


Mitra Strategis

Ketika kita bekerja sama, kita perlu tahu value apa yang ditawarkan oleh mitra kita. Mereka yang valuenya serupa akan cenderung menimbulkan konflik, tetapi mereka yang valuenya saling melengkapi, akan membentuk kemitraan strategis yang bisa bertahan lebih lama.

Ketika kita memulai bisnis, seringkali kita membangun dengan rekan yang cukup dekat. Kesalahan terbesar di dalam bermitra ini adalah mencari rekan yang memiliki value yang serupa, sehingga di dalam perjalanan bisnis kita merasa bahwa kontribusi tidak seimbang di antara rekan kerja dan pada akhirnya, hubungan kerja ini tidak langgeng. Jika kita punya kekuatan pada pengembangan produk, cari mitra yang punya akses ke pasar. Jika kita punya akses ke pasar, cari mereka yang punya kemampuan menyediakan dana, dst. Prinsipnya, cari mitra yang melengkapi apa yang tidak kita miliki.

Di beberapa industri value ini dihasilkan terus menerus oleh waktu dan tenaga, misalnya pada bidang-bidang seperti arsitektur, lawyer, dokter, advertising, event organizer. Mereka yang memberikan kontribusi waktu dan tenaga pada akhirnya akan merasa bahwa mereka tidaklah terlalu bergantung kepada penyandang dana, sehingga hubungan mereka juga sulit untuk langgeng. Bagi investor, pola pikirnya adalah bagaimana value kontribusi waktu dan tenaga diubah valuenya ke organisasi, brand dan trust, contohnya pada industri real estate di mana broker tetap tergantung kepada brand dan database. Ketika hal ini terjadi, maka value yang tidak sustainable dari kontribusi waktu dan tenaga menjadi value yang sustainable seperti organisasi, brand dan trust.


Market Adoption

Salah satu tantangan terberat ketika membuat produk dan layanan adalah mendapatkan market adoption. Banyak produk dan layanan superior yang ternyata tidak disambut pasar secara masal. Mp3 player menjadi device para geeks sebelum Apple memperkenalkan iPod. Kejeniusan Steve Jobs bukanlah menemukan teknologi, tetapi kemampuannya membuat pasar mengadopsi perangkat konsumernya.

Ini dilakukan dengan cara menawarkan ekosistem produk dan layanan yang mudah. Tidak sekedar perangkat musik iPod yang ditawarkan, tetapi juga distribusi melalui iTunes. Kemudahan desain iPod membuat pelanggan tertarik menggunakan pertama kalinya (attraction factor), tetapi kemudahan distribusi musik digital inilah yang membuat pelanggan mengkonsumsi terus menerus (stickiness factor). Mereka yang menguasai pasar bukanlah mereka yang memiliki produk, tetapi mereka yang menguasai jalur distribusi.

Market adoption adalah salah satu value yang paling penting agar produk bisa diterima konsumen secara masal.


Build and Capture Value

Value bisa dibentuk dengan cara membangun secara bertahap. Cara organik ini bagus tetapi memakan waktu lama. Cara lain adalah kita bisa berkolaborasi untuk mengcapture value dari mitra. Ambil contoh, misalnya kita ingin mempromosikan batik Indonesia untuk berkiprah di dunia, kita bisa saja meng-hire perusahaan kelas dunia seperti Louis Vuitton untuk membuat tas batik atau desainer sekelas Oscar de La Renta untuk merancang baju yang dipromosikan di acara Oprah Winfrey misalnya. Dengan cara ini, ekuitas brand yang demikian besar dari LV, Oscar dan Oprah dengan cepat akan kita ambil.

Jika kita memiliki produk dan konten, bagaimana kita mendapatkan value distribusi dari mitra kita? Benefit dan value apa yang mereka harapkan sehingga mereka mau mendistribusikan barang kita?

Jika kita memiliki akses ke pasar, bagaimana kita bermitra dengan mereka yang memiliki produk terbaik?

Dengan selalu mempertanyakan apa yang kita miliki dan apa yang kita butuhkan, kita memiliki pemahaman untuk bermitra strategis dengan mereka yang memiliki value berbeda.

Monday, October 31, 2011

James Bond Opening Title

Best Opening Title



Jogja Hiphop Foundation, The Voice of Indonesia



In this Visibly Smart film a group of young Indonesian artists known collectively as the 'Jogja Hip Hop Foundation' presents Indonesia in a new way. Through the eyes of a young, urban, optimistic, and culturally proud music generation we see a fascinating and fresh fusion of old and new Indonesia. The JHF are inspired by and often use traditional Javanese poetry for themes and lyrics as well as traditional gamelan sound. They then mix it with modern hip hop beats, rhythms and sensibilities. The film shows how the computer helps them produce and distribute their music, videos, and related band information to their fans in Indonesia and beyond. Turn up your speakers and enjoy.

This is the second vignette done by 
Bubu.com, an Indonesian digital agency as part of Intel Visual Life global campaign. A humble story of Jogja Hiphop, in which they infuse the hiphop beat with Javanese poetry to communicate a true voice of Indonesian heritage. A great experience to be part of this campaign!